Wednesday, 19 April 2017

Service Redmi Note 4 Mati Total (Softbrick dan Hardbrick)

April 19, 2017 3
Punya HP Andorid Xiaomi Redmi Note 4 Mati Total, gan? Silakan simak cerita berikut ini...
Xiaomi Redmi Note 4. Sumber gambar: www.singlecliq.com
Sekitar enam minggu yang lalu dari hari ini (20 April 2017) atau tanggal antara awal-pertengahan Maret 2017, saya mengalami masalah pada ponsel Xiaomi Redmi Note 4 (selanjutnya akan saya tulis Note4 saja) saya. Note4 tersebut mati total secara mendadak. Mendadak yang benar-benar mendadak. Kejadian sebelum "kematiannya" pun sangatlah tak terduga. Note4 tersebut benar-benar mendadak M-A-T-I-T-O-T-A-L alias mati total alias MATOT!

Saya pun segera mendatangi sebuah counter servis ponsel di dekat rumah saya. Saya pernah punya pengalaman menyerviskan ponsel milik keponakan saya di counter tersebut. Waktu itu ponselnya Samsung Galaxy Young 2 dan juga mati total. Di tempat servis ini, hanya butuh empat hari, ponsel milik keponakan saya itu dapat disembuhkan dan dihidupkan kembali dan kembali normal.

Berdasar pengalaman itulah, maka ketika saya mengalami kerusakan pada Note4 saya tadi, segera saya bawa ke tempat servis yang saya maksud. Namun nahas, counter tersebut saat saya datangi 2-3 kali, dalam kondisi tutup. Dan berhubung saya tahu bahwa counter tersebut memiliki cabang yang di-handle oleh adik dari pemilik counter itu sendiri, saya segera melesat ke counter cabang ini. Dan di sanalah ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya ini saya serah dan pasrahkan. Seminggu berlalu, saya tak mendapati kabar. Hingga di hari ke sepuluh, saya minta penjelasan di counter cabang ini dan segera direspon bahwa segala jenis pengobatan software sudah dicobanya, tapi belum berhasil. Penjaga counter meminta waktu, kalau saya perbolehkan, ia akan mengoperasi bagian hardwarenya. Saya pun tanpa pikir panjang, langsung mengiyakan. Karena dalam pikiran saya, yang penting sembuh.

Seminggu berikutnya, saya datangi counter ini dan hasilnya nihil. Penjaga counter bahkan mengaku menyerah dan tak mampu membenahi penyakit Note4 saya tersebut. Dengan perasaan yang teramat kecewa, saya pun membawa pulang gadget saya itu.

Hanya berselang beberapa jam kemudian, saya teringat bahwa ada counter servis hape yang cukup populer sebagai tukang servis yang dapat diandalkan. Lokasi counter ini masih terhitung dekat dengan rumah saya meski beda kelurahan. Tanpa ba-bi-bu saya pun segera meluncurkan diri menuju counter ketiga ini. Di dalam counter, saya disambut oleh seorang perempuan yang seingat saya ia dulu seangkatan saya waktu MTs (saya dulu enggak sekolah SMP, bro. Fyi..)

Kebetulan, di counter ketiga ini juga pas ada orang teknisinya. Saya pun menceritakan bagaimana kronologi "kematian" hape Xiamoi Redmi Note 4 milik saya itu. Saya ceritakan bagaimana awal mulanya sampai bisa mati total mendadak begitu, yang hanya berselang beberapa menit sejak saya pakai dan masukkan ke saku baju kemeja saya, mendadak kemudian itu ponsel mati. Saya utarakan juga bahwa di counter servis sebelumnya, ia gagal dibenahi.

Sang teknisi nampak meyakinkan meski dari segi penampilan, ia cukup mirip dianggap seorang Punk. Bahkan telinganya terdapat lubang besar untuk pearcing. Pergelangan tangannya pun penuh dengan gelang-gelang bermacam-macam, karet, besi, kawat, bracelett, dan seterusnya. Pria teknisi ini menanggapi keluhan saya dengan sangat baik dan cukup meyakinkan. Akhirnya saya mantap bahwa di counter inilah, ponsel Note4 saya pasti bisa "dibangkitkan".

Sekira seminggu kemudian, sebelum saya berangkat PKD (yang kisahnya sedikit saya singgung di sini), saya menanyakan ke counter ini bagaimana kondisi ponsel saya melalui sms. Jawaban dari counter tersebut, ponsel saya masih "on proses" (penulisannya yang paling tepat mungkin "on process"). Saya yang sejatinya berharap bahwa ponsel akan sembuh sebelum PKD, akhirnya sedikit putus asa nan kecewa. Tapi biarlah, intinya saya masih cukup yakin bahwa di counter tersebut ponsel Note4 saya itu bisa benar-benar hidup lagi.

Lima hari kemudian, saya menanyakan lagi bagaimana kondisinya. Kali ini melalui telpon. Dijawab oleh orang counter itu (suara lelaki yang saya yakin bukan si teknisinya), bahwa ponsel saya rupanya "jeroannya remuk". Saya shock, jujur saja. Bagaimana bisa bagian dalam ponsel remuk, sedangkan ia tak pernah berkontraksi dengan benda-benda keras selama di tangan saya. Saya pikir, ini pasti terjadi mungkin pas dalam perjalanannya dari pabrik hingga ke gerai ponsel yang menjualnya. Atau, bisa jadi karena ia ponsel buatan Cina. Hmmm... Baiklah, tak mengapa. Saya, intinya kemudian, meminta kepada pihak counter untuk menyervis hape tersebut sampai jadi dan benar-benar jadi.

Beberapa hari berikutnya, saya kembali menanyakan kabar ponsel Note4 saya. Katanya masih belum jadi dan masih diproses. Penjawab juga memberi saya pilihan, apakah mau diambil saja apa gimana. Saya jawab, coba diusahakan lagi.

Kemudian, dua hari lalu (18 April 2017), saya iseng-iseng menanyakan di group Xiaomi Redmi Note 4 yang ada di Facebook. Di sana, saya melemparkan tanya yang intinya "Apa yang harus saya lakukan terhadap Redmi Note 4 yang mendadak mati total, selain menjualnya?" Cukup banyak yang merespon pertanyaan saya ini dari yang serius hingga yang sekadar guyon belaka. Dari group Facebook ini, saya kemudian mengenal seorang yang mengaku sebagai tukang service hape. Saya sebetulnya sangat tertarik untuk mencoba membawa ponsel Note4 saya ke sana. Tapi  sampai hari ini, saya belum melakukannya lantaran ponsel tersebut masih di counter tadi.

Tadi sekitar 3-4 jam lalu dari saya menuliskan ini atau pagi jam 9-10 tadi, saya mendatangi counter di mana ponsel saya sedang direparasi. Di counter ini saya kembali bertemu dengan perempuan yang dulu seangkatan saya itu. Dari perempuan ini, saya diberi nomor milik sang teknisi untuk menanyakan langsung bagaimana kondisinya.

Sampai di rumah, saya pun segera menanyakan melalui sms. Dan dijawab bahwa ia memang memakan waktu cukup lama karena beberapa komponen di dalam ponsel ini, perlu diganti. Ketika saya singgung mengenai biaya operasinya, ia menjawab "...antara 500-700an." Saya lumayan kaget, itu sudah sepertiga harga ponselnya. Ckckckckck..

Sudah, ya. Sebaiknya kalian yang membaca ini mendukung tulisan-tulisan yang saya ikutkan di kontes blog agar menjadi juara. Buat apa? Lha itu tadi, kalau juara, duitnya mau saya pakai untuk bayar biaya service ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya.

Hufttth...
Read more...

Tuesday, 28 March 2017

Ahok? Siapa tuh?

March 28, 2017 0
Gambar dari tabloidjubi.com
Sejak awal Pak Ahok tersandung kasus yang menyinggung soal agama, saya sudah yakin dan mantap untuk tidak mau ambil peduli mengomentarinya. Karena saya sadar betul, ada pilihan lain yang lebih perlu saya komentari, terlebih, pihak berwenang telah menangani kasus Pak Ahok tersebut dengan cepat, tegas dan serius. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan kasus-kasus sejenis, yang "menyakiti" minoritas.

Secara pribadi, saya tak menyukai Pak Ahok sehebat apapun beliau dalam menahkodai suatu wilayah. Ketegasan yang sering diunggulkan oleh para pendukungnya pun bahkan sama sekali tak meningkatkan minat saya untuk lantas mengaguminya. Pak Ahok, tanpa perlu saya koreksi nilai-nilai minusnya pun sudah tentu kita semua tahu di mana titik negatif beliau. Kecuali, mata kita buta.

Pada akhir tahun lalu, saat kasus Pak Ahok mulai meramai di media dan obrolan-obrolan di warung kampung, saya bahkan tak menyebut nama atau kasusnya dalam tulisan saya di suatu media. Tak bukan dan tak lain adalah saya hanya ingin mengurangi banyaknya kueri yang mengarah atas namanya. Yang demikian, saya benar-benar menghindari.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati pesan privasi melalui inbox dari salah seorang kawan sekaligus guru sekaligus motivator saya untuk menuliskan sebuah artikel singkat mengenai "Perbedaan Pendapat". Tanpa menunda-nunda, saya pun segera menuruti permintaannya. Namun, saat tulisan baru sampai separuh, saya bertanya-tanya, ini konteks perbedaan pendapat dalam hal apa?

Ketika pertanyaan tersebut saya utarakan kepada seorang guru sekaligus kawan sekaligus motivator tadi, saya diberitahu bahwa hal tersebut menyangkut kesaksian salah seorang Ulama dalam kasus Pak Ahok dengan Ulama lain. Seketika, minat saya untuk melanjutkan tulisan langsung runtuh. Walhasil, tanpa meminta maaf kepada sang guru sekaligus teman sekaligus motivator tadi, saya segera menutup tulisan setengah jadi itu dengan kata "Rausah teruske sek."

Ini saya anggap sebagai sikap agar saya yang sedari awal memang acuh tak acuh terhadap Pak Ahok, tetap seperti itu. Saya tak ingin ikut-ikutan, terlebih secara serius mengomentari urusan yang sudah ditangani secara profesional oleh yang berwenang dan berhak. Memang, saya, seperti rakyat pada umumnya, boleh-boleh saja mengomentari atau bahkan menghujat bagaimana proses keberlangsungan kasus yang dalam beberapa catatan pengamat muslim, mampu menggerakkan massa sedemikian besar itu.

Kita ini seringkali meneriakkan kebebasan tapi kita sendiri pula yang seringkali memaksakan orang lain untuk tidak bebas. Kita dalam hal ini adalah kita semua, lepas dari sepakat atau tidaknya, mengakui atau tidaknya. Di sisi lain, kita pun gemar meneriakkan perdamaian tapi menyelipkan kebencian dalam teriakan-teriakan kita.
Sejak pemilihan presiden 2 tahun lebih yang lalu, Indonesia ini kian berisik saja masyarakatnya. Yang paling menyedihkan dari keberisikan ini adalah bahwa orang-orang ini (saya, kalian, dan kita semua), lebih suka keberisikan dengan nada saling serang. Sudahlah, bawa kesini muka kalian yang mengaku anti-serang, biar saya pisuhi: Hypocrite!

Sejak tahun 2014 tersebut lah, Indonesia mengalami banyak kenaikan-kenaikan yang terkoreksi negatif. Pengguna internet sejak 2014 hingga 2016 di Indonesia meningkat pesat. Penetrasinya tercatat mencapai 51 persen lebih atau sekitar 80an juta pengguna. Seiring bertumbuhnya pengguna internet kita ini, saya kok agak yakin bahwa orang-orang yang "berperang" ini juga otomatis semakin banyak. Apalagi jika melihat bahwa peperangan yang terjadi, lebih sering terjadi di atas ring yang disebut "Media Sosial".

Indonesia pada hari ini, hanya ada dua kelompok besar yang mana keduanya saya anggap adalah sekumpulan banyak orang-orang bodoh dan dungu dan goblok dan tolol dan sejenisnya. Dua kelompok besar ini, dalam hal apa saja selalu berbeda. Dan perbedaan keduanya, selalu berujung pada keributan. Dan keributannya ini dipertontonkan secara tanpa malu di media-media. Lantas, dengan sangat dungunya mereka ini berkata, "Sudahlah mari kita berdamai".

Damai ndasmu kotak!

Perdamaian yang konon indah itu, saya kira hanya akan menjadi utopis bagi bangsa kita. Bangsa yang bahkan sampai saat ini belum jelas arahnya mau bagaimana, meski sudah pernah dipimpin oleh berbagai jenis kepala, ini sejatinya belumlah sempurna disebut bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang menjadi penyadaran bagi saya adalah di situ. Saya ini jauh dari ibukota Jakarta dan juga masih seperti dahulu (mengharamkan kaki menginjak tanah Jakarta). Kalau saya ikut-ikutan menghabiskan pikiran untuk memikirkan urusan di sana, lha ini yang mau peduli pabrik-pabrik kain mori di Pekalongan siapa? Yang mau memikirkan bagaimana desa saya ini menjadi tempat sampah berbagai warga di sekitar desa Simbangwetan, siapa?

Orang cerdas yang sok bijak tentu akan menertawakan pertanyaan remeh saya ini sembari berkata, ya adakalanya kita mikir lingkungan kita, dan adakalanya pula kita mikirin yang jauh-jauh.
Baik, saya sepakat dengan jawaban orang cerdas sok bijaksana tersebut. Tapi bukan Jakarta yang perlu saya bantu pikirkan. Yang lebih jauh dari Jakarta, masih banyak yang perlu dipikirkan. Salah satunya; kejahatan-kejahatan busuk di tanah Papua. Kamu, mau, ikut mikirin mereka?

PLER!
Read more...

PKD dan Diklatsar GP Ansor Buaran Pekalongan

March 28, 2017 0
Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna di Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan (PAC GP Ansor Buaran) mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar sekaligus Pendidikan dan Latihan Dasar II yang dilaksanakan di Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan pada Kamis sore 30 Maret hingga hari Ahad 2 April 2017.
Foto rapat checking panitia PKD-Diklatsar II GP Ansor Buaran Pekalongan. Sumber foto: PAC GP Ansor Buaran
Hari ini, Selasa 28 Maret 2017 saya sudah mulai mempersiapkan diri untuk keperluan mengikuti acara Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Gerakan Pemuda (GP) Ansor serta Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Dalam seminggu terakhir ini, saya banyak membaca-baca berita informasi mengenai PKD dan Diklatsar tersebut. Beberapa video yang menayangkan acara tersebut juga sebagian telah saya tonton. Ini yang saya sebut sebagai pemahaman dasar atas pelatihan dasar-dasar yang nanti akan saya jalani pada acara PKD-Diklatsar tadi. Ini, semacam persiapan agar saya tak terlalu gagap ketika menghadapi pelatihan yang menurut rundown acaranya akan memakan waktu selama 3 hari 3 malam itu.

Jauh sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk meminta masukan dari calon istri saya mengenai hal ini. Yang pertama kali saya tanyakan padanya adalah apakah saya harus mengikuti Diklatsar (sejauh ini yang saya ketahui adalah bahwa peserta boleh hanya mengikuti PKD saja atau tanpa mengikuti Diklatsar. Keduanya memang merupakan pelatihan yang, juga sejauh pengetahuan saya, terpisah).

Bumi, demikian panggilan calon pasangan saya itu, menyatakan bahwa saya sebaiknya "sisan ikut keduanya". Nanggung, begitu ungkapnya saat saya mintai masukan beberapa hari lampau.

Dari sana, saya kemudian merasa cukup yakin untuk mengikuti PKD dan Diklatsar ini dengan penuh semangat dan persiapan mental yang pula kuat. Saya sadar, menjadi bagian dari Ansor dan terlebih Banser, artinya saya harus siap berbakti kepada Nahdlatul Ulama (NU), dan tentu saja berbakti kepada bangsa tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saya kemudian menaruh harapan yang cukup besar pada diri saya sendiri bahwa semoga saya benar-benar mampu berkhidmah secara taat dan sepenuh hati pada NU dan bangsa ini. Tentu akan sangat lucu kalau saya mengikuti PKD dan Diklatsar tanpa menaruh harapan apapun pada diri saya sendiri demi kebaikan. Sampai detik ini, saya masih yakin bahwa melalui GP Ansor dan Banser inilah saya mampu belajar menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. Dan saya kira, melalui keseriusan menjadi anggota GP Ansor ini saya yakin bahwa salah satu Badan Otonom (Banom) NU ini akan memberi manfaat yang baik bagi diri saya sendiri, serta lingkungan sekitar saya, pula tentu saja bangsa Indonesia secara luas.

Perlu saya sampaikan pula bahwa saya memiliki banyak cita-cita yang saya harapkan mampu saya wujudkan bersama dan melalui tubuh GP Ansor. Salah satu cita-cita tersebut, yang paling dekat dengan hobi saya, adalah saya ingin GP Ansor pro-aktif melawan segala bentuk kazaliman dan kesemrawutan yang pada 2-3 tahun terakhir ini begitu kentara menjadi ciri khas bangsa kita. Kesemrawutan itu, terutama, yang perlu GP Ansor lawan dengan aktif adalah kesemrawutan di ranah media di mana di sanalah semua orang pada hari-hari ini seakan menjadi Nabi atau bahkan menjadi Tuhan semaunya sendiri.

Selain itu, saya juga ingin ikut andil bersama GP Ansor untuk mengejawantahkan slogan-slogan yang sering meriah diteriakkan seperti menjaga keutuhan NKRI karena NKRI adalah harga mati. Saya, dengan segala hormat, ingin ikut berada di barisan GP Ansor dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Hal ini senantiasa saya iringkan pula bersama rasa cinta saya terhadap Indonesia, rasa cinta yang telah menjadi kidung patriotis melalui syair karya KH Abd Wahab Hasbullah, Yaa Lal Wathan.

Terakhir, sebelum saya tutup tulisan membahagiakan rupa curhat ini, saya akan menutupnya dengan pemberian harapan kepada Mas Roy Murtadho yang menulis tentang bagaimana kita, muslim Indonesia, mengejawantahkan Hubbul Wathan Minal Iman. Insya Allah, Mas, saya siap menerapkan Hubbul Wathan Minal Iman secara lebih luas dan siap melek terhadap segala permasalahan-permasalahan bangsa yang perlu dukungan dan bantuan kami di GP Ansor. Saya dan kami semua di GP Ansor siap untuk berkaca dan menelaah diri kami demi benar-benar mampu menjadi pecinta tanah air sejati. Tanah air yang bentangannya bukan sekadar Sumatera-Jawa, tetapi membentang hingga Papua. Jika selama ini kami masih terbatas dalam mengimplikasikan kaidah Hubbul Wathan Minal Iman, itu semata menunjukkan bahwa kami pun masih memiliki kelemahan iman, dan tentu hal ini kemudian menjadi dasar bagi kami untuk tidak semena-mena mendakwa setiap perkara dengan hukum-hukum saklek "ini haram, itu halal".

Demikian.
Terimakasih telah membaca, silakan bagikan jika berkenan.

Regards,
Em. 
Read more...

Monday, 27 March 2017

Sajak Wagu Karya Leluhur

March 27, 2017 0
Ini adalah sebuah contoh sajak yang entah ditulis oleh siapa, saya menemukannya di antara serak-serakan kertas kusam di suatu ruangan rumah saya. Sajak yang menurut saya sendiri bahkan sangat wagu ini sengaja saya poskan di sini demi sekadar mencari tahu kalau-kalau penulis sajak nan wagu ini suatu hari membaca pos ini. Ini dia!
SW?
Aku sedah begitu yakin akan sebuah cinta
Jiwa dan ragaku, kini telah memiliki satu rasa
Engkaulah yang bagiku satu dari satu-satunya asa
Nada dan irama kini menjadi nyata
Gemuruh menggemakan sukma

Untung dan rugi hanyalah perhitungan matematika
Tiada rumus untuk menghitung sebuah rasa
Apalagi sekadar permainan-permainan logika
Mereka semua hanyalah hiasan yang menghiasiku belaka
Indahmu, bagiku kini, melebihi segalanya

Demi cinta yang aku entah ada dan tiada di dalamnya
Engkaulah yang tiada satu pun kecuali Engkau sendiri bagi semesta
Waktu yang telah lampau mengajariku banyak suka dan duka
Inilah saatnya jiwa dan raga dipersatukan dalam seikat cinta
Saya mengira bahwa itu tulisan lawas leluhur saya entah kakek atau bahkan buyut saya yang pada waktu menuliskan sajak wagu di atas, dalam konsisi antah berantah.

Kepada siapa pun Engkau wahai penulis sajak wagu ini, lihatlah! Lihatlah kini sajakmu kuabadikan ke dalam sebuah laman pribadiku. Kau harus tahu, Kawan, anak-cucumu barangkali perlu membaca sajak wagumu tersebut dengan cucuran air mata bahagia karena bangga memiliki leluhur seluhur Engkau!

Salam. 
Read more...

Friday, 24 March 2017

Menulis itu Mudah!

March 24, 2017 0
Ketika kalian membaca judul artikel ini, apa yang sepintas melintas dalam otak kalian? Silakan jawab di kolom komentar, nanti seusai kalian baca keseluruhan isi artikel ini. Sementara, lanjutkan saja aktivitas membaca artikel ini.
Gambar dibikin di www.postermywall.com
Saya bukan seorang penulis hebat layaknya Arman Dhani. Wait, doi penulis hebat, bukan? Sudah, anggap saja beliyaw adalah seorang penulis haibat yang pernah saya dan kita temui di jagad raya bumi yang bulat atau datar ini. Saya sama sekali jauh secara kualitas, kuantitas, serta gantengitas jika dibanding dengan salah satu jurnalis sekaligus kolumnis situsweb tirtoID tersebut. Dan sejujurnya artikel ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Arman Dhani atau tirtoID sendiri. Heh? Apa-apaan kalian?! Kalian enggak kenal Arman Dhani?! What the hhhhh... ..hawlawalaquwwataillabillah~~

Begini, Sodara-sodaraku sekalian. Saya mengatakan bahwa menulis itu mudah, ini bukan tanpa alasan. Saya berani menyatakan demikian karena saya sudah melepaskan yang namanya target kualitas sebuah tulisan dalam pernyataan saya. Artinya, yang saya maksud dengan menulis itu perkara yang mudah, adalah menulis serampangan seperti yang saya lakukan saat menuliskan artikel ini. Meski demikian, saya akan menjabarkan lebih jauh alasan yang mendasari saya berani-beraninya mengatakan bahwa menulis itu mudah.

Pertama kali, biar sedikit saya menceritakan pengalaman menulis saya pertama kalinya yang saya mulai dari sebuah perguruan tempat saya sekolah. Ia bukan perguruan tinggi karena memang nama sekolah saya sewaktu itu ada kata “Perguruan”nya. Di sekolah tersebut, saya pernah beberapa kali masuk menjadi semacam anggota OSISnya sekolah umum. Dari menjadi anggota--yang saya akan menyebutnya dengan--komite siswa tersebut saya belajar bagaimana merancang sebuah program kerja, lalu mempersidangkannya bersama seluruh komite siswa lain (terdiri dari umumnya organisasi seperti ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi dan seterusnya), di mana dalam persidangan tersebut, seluruh isi program kerja saya dikritik sekritis-kritisnya oleh anggota lain, pu sebaliknya yang pada intinya kami saling kritik. Beuh, semacam sidangnya para anggota dewan, yah? Y.

Pada pengalaman pertama saya menjadi anggota komite siswa, saya hanya mengikuti alur permainan para pendahulu atau senior-senior saya. Dalam hal ini mengenai bagaimana bagan atau organ dibuat untuk menjelaskan teks-teks program kerja yang saya ajukan, dan bagaimana kemudian program-program tersebut disidangkan (sidang dalam hal pembahasan program ini ada 4 kali yaitu pleno, evaluasi pertama pada caturwulan pertama, evaluasi kedua serta evaluasi ketiga yang sekaligus laporan pertanggungjawaban a.k.a LPJ).

Pada tahun kedua, saya membuat semacam keunikan dalam menyajikan naskah laporan program kerja. Ini terjadi lantaran setiap diksi yang dijadikan laporan program kerja oleh anggota lain, narasinya seragam seperti misalnya “Program ini bertujuan untuk bla bla bla…” Nah, saya tidak menarasikan seperti seksi-seksi lain dalam membuat laporan program kerja tadi. Saya memilih menarasikannya dengan diksi-diksi yang sepuitis mungkin atau setidaknya berbeda dengan diksi pada umumnya.
Awalnya apa yang saya lakukan ini dikritik keras oleh banyak teman-teman sekomite siswa tadi, terutama oleh Sekretaris. Terlebih, mereka keberatan karena laporan saya jadi berlipat-lipat halaman dibanding laporan yang lain. Namun saya keukeuh untuk tetap mengajukan laporan tersebut sesuai diksi saya. Dan ketika disidangkan di hadapan seluruh komite siswa, guru-guru dan pengasuh kami, laporan yang kami buat justru menuai nilai positif dari mayoritas mereka. Saya senang. Hingga rasa senang tersebut memuncak manakala beberapa seksi lain, di periode berikutnya mengikuti jejak saya tersebut.

Bagaimana saya mempelajari penulisan semacam itu?

Suatu kali, saya pernah diberi tugas non-formal oleh salah seorang kawan saya yang saat ini telah sedang menjadi guru Sastra Indonesia di sebuah sekolah negeri di kota saya. Kawan saya yang usianya 6 tahun di atas saya tersebut menyuruh saya menuliskan apapun yang terbersit dalam benak saya setiap kali ia menyebutkan suatu kata. Pada saat itu, ia pertama kali menyebut “gelas”.

Tahu kalian, apa yang saya sebutkan? “Gelas adalah sebuah peralatan yang dipergunakan untuk meminum air, kopi, teh dan lain-lain.” Selanjutnya, barangkali jika waktu itu sudah zamannya kita berseloroh “Krik..krik..krik..” atas suatu perkataan yang garing dan tidak kreatif apalagi inovatif, teman saya tadi mungkin akan segera meng-krik..krik..krik..-an saya. Tapi tidak. Ia justru menertawakan saya. Ia tertawa lantaran saya kehabisan kata-kata hanya sekadar untuk menjelaskan kata “gelas”.

Saya kemudian diberitahu bahwa sebaiknya, saya tidak menggunakan kata “adalah” atau “ialah”, “yaitu”, dan sejenisnya setiap kali menjelaskan sesuatu. Karena dengan memilih kata tersebut, otak kita hanya akan terpaku pada pengertian umumnya saja. Cobalah, kata teman saya tadi, untuk menjelaskan suatu kata dengan diksi lain yang lebih luas, merinci, dan berekor-ekor.

Dengan contoh “gelas” tadi, ia berkata begini, “gelasku berwarna bening sedangkan gelasmu berwarna pekat, ini terjadi karena gelas di hadapanku dijadikan tempat untuk menuang jus, sedangkan gelas pekatmu dijadikan untuk menuang kopi. Kita tahu bahwa tempat kopi tidak dinamakan gelas lagi meskipun dari marga yang sama-sama bisa disebut gelas, namun lebih tepat jika untuk kopi kita sebut sebagai cangkir. Begitu pula untuk teh, cangkir.”

“Lihat. Saya pun memasukkan unsur-unsur yang kamu sebutkan tadi seperti ‘tempat’, air, kopi dan teh. Dan apa yang saya katakan jelas lebih panjang dari sekelumit istilah gelas yang kamu sampaikan tadi.” Katanya kemudian sambil terkekeh. Saya ikut mengekehkan diri sekaligus mengumpat, asu bergumam menyebut nama Tuhan.

Sekarang, lupakan kisah saya di komite siswa, dan lupakan pula obrolan saya dengan teman gila yang seorang guru Sastra Indonesia tadi. Lupakan saja semua itu dan mari kita kembali kepada tema yang hendak saya sampaikan mengenai “Menulis itu Mudah”.

Menulis itu mudah karena pertama, kita jangan sekali-kali menganggap bahwa menulis itu susah, sukar, sulit, berat, dan seterusnya. Yang pertama kali perlu kita tekankan pada otak kita adalah bahwa menulis itu mudah, atau sangat mudah. Jika kita sudah mampu membikin anggapan semacam itu, kita tinggal memilih suatu pokok tema yang ingin kita tulis tanpa perlu menentukan kapan waktunya. Kalian akan menjadi penulis professional kalau setiap aktivitas menulis kalian harus dijadwal. Penulis hebat itu tak harus professional dan tak harus memiliki jadwal ketat apalagi sampai ada deadline kapan tulisan harus selesai. Percayalah, membuat deadline hanya akan menyengsarakan kita sendiri. Yang terpenting, tulislah sesuai pokok tema yang telah ditentukan dengan dasar awal bahwa “menulis itu mudah”.

Selanjutnya, jika dalam perjalanannya kalian menemukan suatu masalah misalnya kehabisan diksi (saya sebetulnya kurang yakin ada istilah
“kehabisan diksi” ini), silakan kalian berhenti sejenak dan keluarlah dari dunia tulis-menulis. Termasuk membaca, juga hindari. Pergilah keluar dan hirup udara yang penuh polusi di kota kalian, selama semau kalian. Jangan kembali untuk menulis lagi kalau mood menulismu belum terkumpul. Tenang saja, ketika kalian sudah memantapkan diri menganggap bahwa menulis itu mudah, kalian akan dengan mudah menemukan mood menulis kapan saja.

Jika sudah terkumpul mood menulis kalian, segera manfaatkan ia sebaik-baiknya. Tulis sebanyak-banyaknya tanpa pedulikan jadwal makan (kecuali makan sahur, kalian harus tahu bahwa ada keberkahan dalam makanan sahur), kencan (kalau kalian non-jomblo), nonton sinetron (kalau kalian Emak-emak), dan segala bentuk aktivitas tersier semacam itu. Hindari itu semua. Tapi untuk aktivitas-aktivitas primer, ya tetap dahulukan. Contohnya, disuruh ibu kalian untuk memarut kelapa (asli saat menulis sampai di sini, saya disuruh Emak saya buat marut kelapa. Beuh.)

Kalau kalian dapat membendung keinginan-keinginan semu untuk memuaskan nafsu kalian melakukan aktivitas tersier seperti di atas, tentu kalian akan dengan lancar jaya menyelesaikan tulisan kalian. Saran saya, beri sedikit data mengenai tulisan saya. Data referensi. Terutama jika tulisan kalian adalah untuk dipublikasi sebagai bentuk informasi. Kan wagu misalnya kalian menulis artikel berita, tapi tidak ada sumber referensi yang dapat dipercaya serta data yang kredibel. Jangan seperti saya menuliskan ini yang sama sekali tanpa referensi.

Pada akhirnya, saya selesai menuliskan artikel tentang “Menulis itu Mudah” ini dengan lega. Meski saya sebenarnya hanya membual tak jelas arahnya, setidaknya saya berhasil membuat artikel yang ideal karena memiliki total kata lebih dari 1000 kata. Saya, memang termasuk orang yang mematok standar jumlah kata untuk tulisan saya. Yaitu minimal 888 kata dan tanpa memberi batas maksimal. Mengapa? Karena, konon, sekali lagi konon, mesin pencari gemar merayapi artikel yang ketat, seksi, bahenol, nyempluk, ginuk-ginuk, semok, dan… Wait, wait, wait, ini ngomongin artikel apa sedang membahas hashtag #OpenBO sih?
Hambuh, Jon!

Betewe, kalau kalian enggak percaya bahwa tulisan saya ini lebih dari 1000 kata, silakan kalian cek jumlah kata, karakter, dan lain-lain di kotak penghitung jumlah kata di sini.

See!
Read more...