Showing posts with label Blogging. Show all posts
Showing posts with label Blogging. Show all posts

Wednesday, 19 July 2017

Media Sosial untuk Berbisnis? Belajar di Dumet School!

July 19, 2017 0

Mengenal Social Media
Generasi milenial yang terlahir antara tahun 80an dan 90an tentu saja saat ini menjadi generasi terdepan di berbagai kemajuan dunia. Seorang programmer komputer yang dikenal berkat social media Facebook, Mark Zuckerberg, merupakan salah satu generasi ini yang memiliki pencapaian luar biasa dalam kemajuan teknologi khususnya teknologi berbasis jaringat internet.

Dalam sebuah situsweb Zephoria, disebutkan bahwa pada Maret 2017 lalu, pengguna aktif Facebook mencapai 1,94 miliar pengguna atau naik sekitar 18 persen dari tahun sebelumnya. "Facebook is too big to ignore." begitu kata penulis berita tersebut dalam mengomentari penaikan pengguna Facebook tersebut. Di sana juga disebutkan tak kurang dari 20 fakta-fakta menarik lainnya mengenai perkembangan Facebook seperti salah satunya, ada sekitar 300 juta foto diupload ke situs jejaring tersebut tiap harinya.

Melihat hal tersebut kita sebagai manusia yang hidup di zaman sekarang, sudah selayaknya mulai serius membaca statistik semacam itu untuk keperluan kemajuan diri kita. Potensi kita sebagai manusia perlu kita beri ruang dan terus kita asah agar kita tidak selamanya hanya menjadi pengguna social media yang hanya sekadar ikut-ikutan meramaikan, apalagi digunakan untuk hal-hal yang berkonotasi negatif.

Keberadaan social media semacam Facebook (juga social media lain seperti Instagram, Twitter, Youtube dan seterusnya) perlu kita manfaatkan untuk keperluan hal-hal yang positif. Di antara hal-hal positif tersebut yaitu misalnya kita pergunakan akun media sosial kita sebagai lahan berbisnis. Yang kita harus sadari dalam hal ini adalah adanya potensi besar untuk mengembangkan bisnis kita melalui social media. Strategi berjualan melalui social media menjadi hal lain yang harus kita geluti dan pelajari secara serius jika kita ingin benar-benar memanfaatkan keberadaan media sosial saat ini.

Social media yang memiliki pengaruh luar biasa bagi keberlangsungan hidup, bagi dalam ranah pendidikan, peningkatan ekonomi, maupun penyebaran informasi, harus betul-betul kita manfaatkan sebaik-baiknya. Kecenderungan kita akan hal-hal negatif seperti pesimisme harus kita singkirkan jauh-jauh. Karena sejatinya melalui social medialah kita benar-benar memiliki ruang yang luas untuk menjaring dan menjalin relasi seluas mungkin. Jika relasi telah berhasil kita bangun, selanjutnya kita perlu menerapkan strategi berbisnis kita melalui media sosial yang di dalamnya telah terjadi hubungan antara kita pemilik satu akun dengan pemilik akun lain baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Langkah Strategis Memulai Bisnis dengan Social Media
Lalu, bagaimanakah strategi yang tepat untuk membangun sebuah bisnis atau beberapa bisnis dengan memanfaatkan media sosial? Di bawah ini akan saya sampaikan beberapa poin penting sebelum kita memutuskan untuk fokus lebih jauh ke arah bisnis berdasar media sosial.

Pertama, pahami bagaimana fitur-fitur dan perbedaan tiap-tiap media sosial.
Yang saya amati, meski alurnya sama (sama-sama menghubungkan satu akun --baik individu maupun kelompok-- dengan akun lain) tiap media sosial memiliki kinerjanya masing-masing. Di Instagram kita tidak menemukan adanya forum-forum berupa grup layaknya di Facebook. Pun di Twitter, kita tidak bisa mengunggah foto atau video dengan menambahkan caption panjang lebar layaknya di Instagram ataupun Facebook.

Dalam riset kecil-kecilan saya, rupanya tidak semua pengguna Facebook merasa nyaman dengan fitur-fitur yang ada di Twitter. Di lingkungan saya yang masih tergolong pedesaan, orang-orang merasa lebih nyaman bermain media sosial Facebook daripada Twitter. Dari 10 orang (semuanya termasuk generasi milenial dari berbagai golongan strata sosial berbeda-beda) yang saya tanyai tentang manakah media sosial (pilihan yang saya berikan adalah Facebook, Instagram atau Twitter) yang menurut mereka mudah dan nyaman dioperasikan, 4 orang menjawab Facebook, 4 orang yang lain menjawab Instagram, dan hanya 2 orang terakhir menjawab Twitter.

Pertanyaan berikutnya yang saya ajukan kepada 10 orang tersebut yaitu "Jika diurutkan, ketiga media sosial tadi mana yang paling nyaman dan mudah digunakan dan mana yang paling tak nyaman dan sulit?" 7 dari orang tadi menjawab bahwa Facebook merupakan media sosial termudah untuk dioperasikan dan nyaman bagi mereka, sedangkan yang tersulit adalah Twitter. 2 orang lainnya menjawab bahwa Instagram adalah yang termudah dan Twitter yang tersulit. Hanya 1 orang yang menganggap bahwa Twitter adalah yang termudah, dan simple, katanya.

Dari riset kecil-kecilan tersebut saya menyimpulkan bahwa bagi masyarakat di lingkungan saya, Facebook menjadi primadona. Apa indikasinya? Menurut pengamatan saya, itu karena Facebook bisa diakses dari berbagai jenis platform ponsel baik mulai dari Java, Symbian, melalui komputer, atau tentu saja Android dan iOS. Selain itu, barangkali faktor bahwa Facebook lebih dulu lahir menjadi indikator lain yang mendukung mengapa Facebook menjadi unggulan.

Tak berhenti sampai di situ, saya melanjutkan riset kecil-kecilan tersebut untuk mengarah kepada orang-orang kelas tertentu yang telah memulai belajar berjualan melalui media sosial. Saya mengambil sample 5 orang yaitu 1 seorang supplier dan 4 yang lain merupakan reseller produk. Dari ke-5 orang tersebut, 3 di antaranya menjawab bahwa Facebook menjadi media sosial yang paling mudah untuk menjaring konsumen. Sedangkan 2 selainnya menjawab Instagram. Tak ada satu pun yang menjawab Twitter.

Memang, di Facebook kita dengan mudah dapat menemukan forum-forum jual beli. Di sana orang-orang saling berjual beli barang tertentu. Dan hampir di setiap regional, memiliki forum-forum serupa sebagai "pasar online" masyarakat untuk saling berjual beli. Dari beberapa forum yang saya masuki, semakin banyak member forum/grup tersebut, maka semakin tinggi pula aktivitas jual beli di sana.

Kesimpulan sederhananya; Facebook dapat kita jadikan patokan untuk memulai mengiklankan produk kita jika kita hendak berjualan. Di sana, kita tinggal mencari forum jual beli yang kita inginkan untuk menjual produk yang sesuai dengan identitas forum tersebut. Sudah ada banyak sekali ragam identitas forum-forum itu mulai dari forum jual beli pakaian hingga burung kicau.

Kedua, menentukan produk yang akan kita jual.
Langkah berikutnya yang perlu segera kita lewati yaitu menentukan produk apa yang akan kita jual melalui media sosial yang telah kita pahami perbedaan serta fitur-fiturnya. Tentukan apakah kita akan menjual produk fisik seperti pakaian, perlengkapan otomotif, perlengkapan komputer, dan lain-lain, ataukah kita akan menjual jasa seperti misalnya jasa pijat urut, jasa angkutan, dan jenis jasa lain yang bisa kita tawarkan melalui social media.

Apabila kita memilih untuk menjual barang, maka kita juga perlu menentukan langkah lain yaitu apakah kita akan menjual barang produk kita sendiri ataukah kita akan menjual produk milik orang lain? Singkatnya, apakah kita akan menjadi supplier ataukah kita akan menjadi reseller/dropshipper. Untuk menjual produk buatan kita sendiri, tentu saja akan membutuhkan modal yang tidak sedikit. Misalkan kita akan menjual pakaian, maka setidaknya kita telah kulakan terlebih dahulu pakaian yang akan kita jual dari pasar atau dari supplier maupun produsen.

Berbeda jika kita hendak menjadi reseller, maka yang perlu kita lakukan cukup menghubungi supplier yang membuka ruang bagi reseller untuk bekerjasama. Ada banyak supplier yang saat ini membuka diri untuk diajak bekerjasama dengan reseller. Dari berbagai produk yang bisa ditemukan di pasaran, hampir kesemuanya akan dapat kita temukan supplier yang mau bekerjasama jika kita mau menjadi resellernya.

Saya yang tinggal di Pekalongan, saat ini juga tengah menjadi reseller produk pakaian yaitu Batik. Beberapa tetangga saya yang memiliki stock Batik banyak di toko maupun di kios-kios pasar, saya hubungi dan saya secara lisan menjalin kontrak hubungan untuk menjadi resellernya. Di sini, saya tidak merasa kesulitan untuk menemukan supplier Batik karena memang di sini, di Pekalongan, memang menjadi salah satu pusat industri Batik.

Selain menjual produk fisik seperti pakaian tersebut, kita juga bisa menawarkan jasa. Nah, ini diperuntukkan apabila kita merasa memiliki keterampilan atau keahlian tertentu, kita juga bisa menawarkan jasa keahlian kita melalui forum-forum di media sosial. Namun sebelumnya, kita perlu pula untuk melihat apakah jasa kita bisa laku di luar kota ataukah sebaiknya hanya kita tawarkan di daerah lokal kita tinggal saja. Namun apapun jasa tersebut, saya sepenuhnya yakin bahwa berjualan jasa masih menjadi suatu bisnis yang prospektif dengan memanfaatkan keluasan media sosial.

Kesmipulan; kita tidak perlu bermuluk-muluk terlebih dahulu bahwa kita akan menjual kapal pesiar, misalnya apabila kita memang tidak memiliki keahlian dan pengetahuan yang cukup perihal kapal pesiar. Jual saja barang-barang yang dapat kita jangkau, yang dapat dengan mudah kita temukan di sekitar kita. Jasa pun demikian, jika kita tidak memiliki keahlian atau jasa tertentu yang dapat kita tawarkan, kita tak perlu susah-susah langsung mencoba menawarkan jasa tersebut.

Ketiga, segera mulai.
Tunggu apalagi? Kalau kita sudah yakin mampu memulai berbisnis dengan memanfaatkan social media, maka saat itu pulalah kita sebaiknya segera memulai bisnis tersebut. Jangan ditunda-tunda lagi. Segera iklankan produk kita di forum-forum, di beranda kita dan seterusnya. Saya sendiri demikian, saat saya sudah merasa mampu mengiklankan produk yang tersedia, yang diberikan oleh supplier, maka saya tak menundanya lagi. Yang saya lakukan adalah segera mengunggahnya melalui akun media sosial saya.

Meski saya sudah segera memulainya, pun saya pada akhirnya tetap merasa sedikit kecewa karena saya baru memulainya beberapa bulan silam. Jauh sebelum saya mulai berjualan, banyak teman-teman saya yang lebih dulu memulai berjualan dengan memanfaatkan social media. Dan hampir semua dari teman-teman saya tersebut kini sudah pantas disebut sukses karena telah berhasil memiliki penghasilan sendiri yang cukup besar.

Namun begitu, saya tak patah arang dan atau patah semangat. Justru dengan melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman saya tersebut saya kemudian memiliki semangat lebih untuk mengejar ketertinggalan. Saya jadikan ketertinggalan ini sebagai cambuk agar saya terus semangat menggeluti bisnis jualan di media sosial ini. Bahkan karena hal ini pula, saya kemudian berinisiatif untuk terus mengembangkan bisnis berjualan saya dengan mulai memproduksi Batik sendiri. Pada usai lebaran tahun ini, saya sudah mulai siap untuk memasarkan produk Batik karya saya sendiri. Semoga juga laku keras. Amin.

Segera memulai apa yang menjadi cita-cita kita memanglah harga mati. Kita tak boleh menunda-nunda hal tersebut terlebih jika ini berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup kita. Dalam berbisnis pun juga demikian, kita tak boleh menunda untuk memulai bisnis yang ingin kita geluti entah itu besok, lusa, apalagi tahun depan. Jangan begitu, kawan. Segera mulailah sekarang. Bangun bisnis kamu mulai sekarang dan nikmati hasilnya segera!

Kesimpulan ringan; hal paling salah dalam berbisnis adalah menunda untuk memulainya. Maka dari itu, menyegerakan untuk memulai bisnis ini sudah selayaknya dilabeli harga mati. Harga mati yang tak bisa ditawar agar kita tersadar bahwa kita memang harus segera memulai bisnis ini sekarang.
Belajar Terus, Terus Belajar Bersama Dumet School
Hal yang tak jarang kita temukan dalam dunia bisnis adalah timbulnya rasa malas untuk terus belajar. Padahal justru di situlah titik paling krusialnya. Kita berhenti belajar, maka kita sama saja membunuh bisnis yang kita bangun. Belajar semestinya menjadi langkah yang terkontinu, yang terus menerus tiada henti, agar senantiasa bisnis yang kita bangun juga tetap bertahan, pun berkembang. Tanpa terus belajar dan belajar terus, agaknya mustahil kita dapat mempertahankan bisnis yang kita bangun.

Belajar menjadi bagian terpenting bagi kita dalam berbisnis. Belajar adalah proses. Belajar adalah kunci utama menuju gerbang kesuksesan. Dalam memahami kegunaan social media, kita juga perlu belajar agar kita tidak terjerumus ke dalam dunia kelam social media, atau setidaknya, kita bisa tahu bagian dari social media yang mana yang perlu kita masuki. Lain dari pada hal itu, kita perlu menemukan tempat belajar yang tepat untuk dapat memanfaatkan social media sebagai media berbisnis.

Di manakah kita belajar memanfaatkan social media untuk berbisnis? Jawabannya barangkali ada banyak. Namun demikian, ada opsi teratas yaitu belajar bersama Dumet School. Mengapa Dumet School? Karena di Dumet School kita dapat mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan dunia bisnis, dunia marketing dengan pemanfaatan social media.

Melalui program Kursus Digital Marketing di Dumet School kita bisa belajar cara mendapatkan customer di internet dengan cepat, mudah dan efektif. Selain itu, apa saja yang akan kita dapatkan dari kursus Digital Marketing di Dumet School


1. Berbagai macam pelajaran.
Dalam program Kursus Digital Marketing di Dumet School kita akan mendapati berbagai macam pengajaran. Dalam situs resminya, tercatat ada 7 (tujuh) pelajaran penting mengenai dunia digital marketing yang tentu saja akan sangat membantu kita dalam penguasaan dunia digital khususnya ranah bisnis.

Ke tujuh pelajaran tersebut yaitu Wordpress, Search Engine Optimization (SEO), Facebook dan Instagram Ads, Youtube Ads, Adwords Search, Email marketing dan Landing page.


2. Akses belajar sepuasnya.
Di Dumet School kita juga memiliki kebebasan akses sepuasnya. Ini ditujukan agar kita yang menimba ilmu di Dumet School benar-benar menjadi orang yang betul-betul memiliki keahlian. Di samping itu, akses belajar sepuasnya ini diharapkan agar kita yang mengambil program Kursus Digital Marketing di Dumet School benar-benar telah menguasai materi bahkan hingga memiliki karya.


3. Akses ke iLab.
Selain akses belajar sepuas kita, program Kursus Digital Marketing di Dumet School juga memiliki tawaran menarik lainnya yaitu akses ke iLab. Sedikit perlu saya jelaskan di sini bahwa yang dimaksudkan dengan iLab tersebut yaitu sistem yang dipakai oleh Dumet School dalam memberikan pelajaran.

Artinya, kita yang mengambil program kursus ini berarti memiliki akses penuh terhadap sistem pembelajaran di manapun berada serta kapanpun waktunya.



4. Bisa mengulang kelas.
Jika dalam sebuah pertemuan kita masih belum benar-benar paham, maka kita bisa mengulang kelas tersebut pada pertemuan lain. Hal ini sangatlah penting untuk sebuah proses pembelajaran. Kita yang sudah memilih tempat kursus harus benar-benar mendapatkan jaminan bahwa kita keluar dari tempat tersebut benar-benar telah menguasai semua materinya.

Untuk itulah dalam program Kursus Digital Marketing di Dumet School kita dapat mengulang kelas (reseat) sepuasnya.


5. Support penuh dari Dumet School.
Sebagai tempat belajar, Dumet School berjanji memberikan dukungan alias support penuh terhadap para murid-muridnya. Itu berarti kita tak perlu ragu atau khawatir bagaimana jika kita yang tak tahu apa-apa soal dunia digital marketing kursus di Dumet School karena di sana kita akan sepenuhnya mendapatkan support penuh.

Dukungan penuh yang dijanjikan oleh Dumet School bukan hanya ketika kita sedang menempuh ilmu di sana saja melainkan selamanya. Iya, selamanya dan seumur hidup. Wah... Mantap, kan?

Di samping itu, selain memperoleh support penuh, kita juga diberi kebebasan untuk berkonsultasi jika dalam perjalanannya kita mengalami problem atas apa yang kita pelajari di Dumet School dalam program Kursus Digital Marketing mereka.


6. Mendapatkan sertifikat resmi.
Terakhir, melalui program Kursus Digital Marketing ini, kita juga akan mendapatkan sertifikat resmi dari Dumet School yang telah memiliki izin dari dinas. Sertifikat ini menjadi bagian penting karena jika setelah selesai kursus di Dumet School dan kita hendak menerapkan ilmu kita untuk menjadi seorang professional bidang digital marketing, kita tentu akan memerlukan sertifikat sebagai bukti bahwa kita pernah benar-benar serius belajar.

Itulah enam hal yang menjadi keuntungan jika kita memilih Dumet School sebagai tempat kursus Digital Marketing kita. Selain ke enam hal tersebut di atas, saya kira ada hal lain yang juga menjadi keuntungannya yaitu kita memiliki relasi baru, kenalan baru, serta tentu saja pengalaman baru. Bagaimanapun, pengalaman juga menjadi satu perkara lain yang tak kalah penting di dunia digital marketing.

Silakan kunjungi website resmi Dumet School jika kalian tertarik mengikuti program yang keuntungan-keuntungannya saya jabarkan di atas. Dalam situs resminya tersebut, kita dapat melihat daftar harga kursus yang ditawarkan Dumet School, waktu pelaksanaan kursus, informasi kontak yang bisa dihubungi, lokasi dan lain-lain. Oh iya, di sana ada juga trial yang bisa kita akses secara gratis. Komplit lah. Hehehe.

Terakhir sebelum artikel ini saya tutup, saya ingin mengutip ucapan milyader paling terkenal sejagad, Bill Gates, bahwa ia pernah berkata “if your business is not on the internet, then your business will be out of your business”. Sebuah ungkapan yang sangat dapat dibenarkan di era sekarang. Untuk itulah, jika kita ingin serius mengembangkan bisnis kita, maka kita memang perlu membawa bisnis kita ke ranah internet.

Media sosial alias social media menjadi bagian terpenting dalam perkembangan dunia digital. Ia senantiasa terus berkembang dan kita harus pintar-pintar memanfaatkannya supaya bisa membuat bisnis kita kian lancar dan berkembang dengan pesat. Dengan belajar digital marketing bersama Dumet School, kita bisa belajar mengembangkan bisnis kita. Kita belajar mengenai strategi pemasaran untuk bisnis kita.

Melalui social media, mari kita bangkitkan dunia bisnis kita!
Read more...

Thursday, 4 May 2017

Desain Grafis: Gerbang Menuju Dunia Digital Masa Kini

May 04, 2017 0
Gambar dari LinkedIn DumetSchool
Prolog.
Peluang untuk bekerja di bidang desain grafis pada hari-hari ini nampaknya cukup terbuka lebar. Ada begitu banyak perusahaan baik yang berskala kecil, menengah, hingga perusahaan besar, saat ini tengah membuka lapangan pekerjaan khusus bagi para graphic designer. Di berbagai situsweb penyedia informasi lowongan kerja, saya menemukan cukup banyak perusahaan yang tengah mencari profesional bidang desain grafis.

Di samping itu, beberapa media online besar juga seringkali menyertakan infografik tiap artikel beritanya sebagai gambar pendukung artikel yang disajikan. Memang, daya tarik sebuah berita bukan sekadar dari headline-nya saja melainkan juga dukungan visual yang biasanya berformat infografik. Tak ayal, perusahaan media-media online pun merekrut orang-orang profesional yang kerjanya dikhususkan membuat kilas berita dalam format gambar infografik.

Lain dari pada hal tersebut, bisnis seperti percetakan, baik percetakan kaos, pamflet, buku, dan seterusnya, kini kian menjamur di Indonesia. Teknik percetakan yang kian berkembang, juga perlu didukung oleh tenaga-tenaga yang mumpuni sekaligus mampu menukangi bidang ini. Desainer grafis adalah profesi yang cukup memiliki peluang besar memperoleh pekerjaan di era digital seperti sekarang ini. Untuk itulah, generasi muda kita juga perlu menyambut hal ini sebagai peluang sekaligus tantangan.
Ilustrasi 1. Gambar koleksi pribadi
Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan untuk Menjadi Seorang Desainer Grafis Profesional.
Yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa menjadi seorang desainer grafis sehingga mampu memasuki peluang-peluang yang terbuka tersebut?

Saya merangkum, setidaknya ada 6 (enam) hal yang perlu diperhatikan jika kita ingin terjun menjadi seorang desainer grafis.

Pertama, minat.
Minat menjadi modal pertama yang harus kita miliki ketika kita ingin menjadi seorang profesional di bidang apapun. Tanpa memiliki minat terlebih dahulu, mustahil kita bisa meraih suatu hal. Tanpa minat, kita bahkan tidak akan benar-benar mampu menentukan profesi apa yang tepat untuk kita. Lalu, bagaimana sebaiknya kita yang belum berminat kemudian bisa memiliki minat tersebut? Untuk menjawabnya, saya akan sedikit menuliskan kisah sebagai ilustrasinya.

Begini, saya adalah seorang yang gemar membaca buku-buku. Semakin banyak buku saya baca, semakin timbul minat saya akan hal-hal baru yang belum saya ketahui. Jika pada suatu hari saya membaca sebuah kisah sukses, maka minat saya untuk menjadi orang sukses, segera terangsang melalui otak saya yang pada hari kemudian memunculkan semangat bagi saya untuk bekerja lebih giat, berpeluh-peluh lebih tanpa lelah dan seterusnya.

Maka, untuk mewujudkan agar kita memiliki minat menjadi seorang desainer grafis, maka yang perlu kita lakukan adalah membaca sebanyak mungkin informasi mengenai desain grafis. Bacaan-bacaan ini tak melulu hanya bisa ditemukan dalam buku-buku atau jurnal-jurnal akademik. Kita bahkan bisa dengan sangat mudah menemukannya dalam artikel-artikel yang telah tersebar luas di internet. Di sana, bacalah semua informasi yang ada.

Sampai di sini, barangkali kita justru akan mempersoalkan dan mempertanyakan “bagaimana menumbuhkan minat membaca kita?” Jawaban atas hal demikian hanya satu: sadarilah bahwa kita butuh membaca.

Minat, selain dari hal tersebut juga bisa ditumbuhkan dengan sering-sering membaca info dalam bentuk grafik atau yang lebih mudah disebut dengan infografik. Atau bisa juga dengan banyak membaca komik, karena di sana kita bisa menemukan gambar-gambar yang cukup merangsang otak kita agar lebih familiar dengan gambar, yang sudah pasti berhubungan dekat dengan desain grafis.

Kedua, berkenalan.
Untuk perkenalan ini, kita bisa memulainya dengan mengenal tokoh-tokoh di dunia desain grafis seperti Wahyu Aditya, Sabda Armandio, Devina Puspitasari dan seterusnya. Nama-nama mereka yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia desain grafis, perlu kita kenali untuk menumbuhkan semangat dan minat kita akan dunia desain grafis.

Di samping berkenalan dengan tokoh-tokoh desainer grafis, kita juga perlu mengenal tools, aplikasi atau software yang dibuat khusus untuk membantu kita mulai berkarya di bidang desain grafis. Beberapa software terkenal yang mendukung program desain grafis ini di antaranya; Adobe Illustrator, Corel Draw, Adobe Photoshop, InDesign dan lain-lain. Kesemuanya dari aplikasi ini harus segera kita kenali terutama dari sisi penggunaan tools-nya.

Umumnya, aplikasi-aplikasi semacam itu dibekali tools yang kompleks mulai dari bagaimana membuat garis, membuat diagram, pola-pola tertentu, hingga fitur-fitur editing gambar atau foto. Semua tools memiliki fungsinya masing-masing, dan jika kita ingin serius berkecimpung di dunia desain grafis, mau tak mau kita tetap harus mengenal seluruh tools tersebut beserta kegunaannya.
Ilustrasi 2. Gambar koleksi pribadi
Ketiga, mulai belajar.
Jika kita sudah memiliki minat yang kuat terhadap desain grafis dan kita juga sudah mengenal beberapa hal penting yang terkait dengannya, maka yang perlu kita lakukan adalah segera memulai belajar. Nah, untuk belajar desain grafis ini, memang bisa saja dipelajari secara otodidak alias belajar sendiri dengan memanfaatkan tutorial-tutorial gratis yang cukup banyak tersedia di internet. Kita bisa memanfaatkan tutorial-turorial tersebut untuk menunjang pembelajaran kita akan desain grafis. Hal ini tentu saja bisa dilakukan oleh siapa saja yang telah melewati dua fase teratas tadi; tumbuh minat dan telah mengenali dunia desain grafis.

Di berbagai situsweb, kita bisa menemukan tutorial bagaimana memulai membuat desain grafis hingga di mana kita sebaiknya mempublikasikannya. Namun demikian, saya menyarankan agar kita yang ingin serius menggeluti dunia desain grafis, terlebih jika kita ingin menjadi seorang profesional di bidang ini, maka kita perlu mengikuti kursus desain grafis. Karena dengan mengikuti kursus, kita tentu akan memiliki keilmuan dan pengetahuan yang lebih sempurna jika dibanding dengan belajar tanpa melalui kursus. Memang, belajar secara otodidak pun tetaplah mungkin membawa kita pada puncak kesuksesan, namun sekali lagi, untuk menjadi profesional kita tetap perlu melewatinya dengan mengikuti kursus, dalam hal ini kursus desain grafis.

Dalam belajar desain grafis ini, kita harus menunjukkan keseriusan kita agar kemudian kita benar-benar mampu menjadi seorang desainer grafis yang layak diperhitungkan. Persaingan di dunia desain grafis ini juga cukup ketat, sehingga ini pula yang menuntut agar kita benar-benar serius dalam belajar desain grafis. Tentu, jika kita belajar dengan sungguh-sungguh, maka kemudian kita akan menjadi seorang desainer grafis yang meyakinkan banyak orang sekaligus karya-karya kita kemudian mendapatkan apresiasi penuh dari berbagai kalangan.

Keempat, membuat karya desain grafis.
Di tengah proses pembelajaran kita akan desain grafis, kita yang sudah mulai mengenal tiap-tiap tools dalam aplikasi atau software yang kita pergunakan untuk mendesain, tentu kita sudah mulai bisa mempraktekkannya sekaligus. Di sinilah kita mulai membuat karya desain grafis kita. Bagaimana caranya? Gampang saja, kita coba mulai membuat pamflet atau banner. Kita membuat contoh pamflet kegiatan di kampung, sekolah, atau kampus kita. Pamflet itu kita bikin dengan metode yang telah dan sedang kita dapatkan dari materi-materi kursus.
 

Atau, bisa juga kita membuat karakter. Jika umunya orang-orang mengganti foto profil akun media sosial mereka dengan bantuan animasi yang dibikin secara offline, kita yang sudah belajar medesain gambar, bisa mengedit sendiri foto-foto kita dengan, lagi-lagi, ilmu yang kita dapatkan dari kursus belajar desain grafis. Keuntungannya jelas, kita akan lebih puas karena mampu mengedit sendiri semau kita, sekaligus kita juga bisa memamerkannya kepada teman-teman kita.

Dari sini, bukan tidak mungkin ketika kita mulai membuat desain grafis baik berupa pamflet, animasi, atau karakter, kemudian teman-teman kita tertarik untuk meminta kita membuatkannya. Salah seorang teman saya dulu sewaktu masih belajar dan kursus membuat desain grafis, melakukan uji coba semacam ini. Ia membuat peta kota kami dan mengeditnya sedemikian rupa dengan ditambah data-data penduduk sekaligus dipetakan per kecamatan berdasar pekerjaan mayoritasnya. Desain pertamanya itu kemudain dibeli oleh salah seorang pebisnis kaos untuk dijadikan desain kaosnya. Teman saya yang awalnya sekadar iseng menguji kemampuannya di tengah ia sedang belajar itu pun justru sudah memperoleh penghasilan bahkan sebelum ia dinyatakan lulus dari tempat kursusnya.

Kelima, publikasi karya.
Setelah kita melewati tahapan-tahapan yang telah saya uraikan sebelumnya, maka selanjutnya kita perlu menentukan di mana kita akan mempublikasikan karya desain grafis kita. Pilihan paling mudah tentu saja di media sosial melalui akun kita sendiri. Lihat bagaimana respon orang-orang terhadap karya kita, apakah disukai, cukup disukai, atau justru kurang disukai olah khalayak. Namun di situlah pentingnya. Kita kemudian jadi tahu di mana letak minat khalayak akan karya kita. Apakah teman-teman di media sosial kita lebih menyukai desain grafis kita yang menunjukkan data-data, rangkuman tulisan, atau justru karya kita yang berbentuk hiburan seperti gambar animasi dan sebagainya.

Untuk menguji bagaimana karya kita dinilai oleh orang lain, kita memang perlu melakukan publikasi. Ini juga untuk mengukur sejauh mana karya desain grafis kita dianggap positif atau negatif oleh orang lain. Memang, bisa saja kita tak terlalu memedulikan penilaian orang lain, namun karena ini menyangkut karya, maka hasil karya desain grafis kita itulah nantinya yang akan dijadikan tolok ukur orang lain untuk menilai kinerja kita di bidang desain grafis. Terlebih jika kita berharap akan bekerja di sebuah perusahaan yang membidangi bagian desain grafis, publikasi bisa dijadikan acuan nantinya jika kelak kita mengirimkan lamaran pekerjaan. Karena beberapa perusahaan yang tengah mencari seorang desainer grafis, biasanya ingin melihat bagaimana karya-karya desain grafis kita selama ini.
Ilustrasi 3. Gambar dari battleaxedesign

Keenam, tentukan langkah berikutnya.
Pada fase ini, kita yang sudah yakin mampu membuat desain grafis, akhirnya harus menentukan akan kita manfaatkan di mana kemampuan kita ini. Apakah kita akan melamar kerja sebagai desainer grafis di perusahaan-perusahaan, atau kita ingin nekat langsung menerbitkan karya-karya desain dalam bentuk animasi bersambung atau membuat komik. Iya, seorang professional graphic design memang hampir bisa dipastikan mampu membuat karakter yang bisa dihidupkan melalui cerita. Maka bukan hal yang mustahil, seorang desainer grafis professional mampu akan mambikin sebuah komik. Tinggal bagaimana kita belajar menciptakan alur cerita.

Atau seperti tadi, kita bisa bekerja di perusahaan bidang desain grafis. Dan seperti di awal tulisan ini saya sampaikan, ada banyak perusahaan yang saat ini tengah mencari seorang professional graphic designer yang bisa kita temukan di situsweb info lowongan pekerjaan atau kadang berseliweran perusahaan beriklan mencari professional graphic design ini di media-media sosial kita.

Pada intinya, kita perlu menentukan di mana tempat kita kemudian menunjukkan profesionalitas kita sebagai desainer grafis. Tentu kita tak boleh menyia-nyiakan apa yang telah kita pelajari. Kita harus mampu memanfaatkannya semaksimal mungkin, minimal kita bisa membuka jasa mendesain kartu undangan, pamflet, logo, infografik, dan seterusnya di mana untuk permulaannya, seperti point ke empat dan lima tadi, kita bisa memanfaatkan media sosial untuk beriklan.
Ilustrasi 4. Gambar dari University of New Hampshire
Peluang, Tantangan dan Bahaya Bekerja sebagai Desainer Grafis.
Menjadi desainer grafis memang bukan perkara yang terlampau sulit seperti layaknya menjadi astonot. Ia sama saja seperti ingin menjadi atlet profesional, public speaker, atau profesi lain yang dalam waktu relatif singkat dapat kita kuasai teknik-tekniknya. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita kemudian mau berkembang dan mau mengembangkannya atau tidak. Desain grafis bisa dikatakan merupakan sebuah keilmuan dasar. Ia merupakan pintu gerbang yang di balik pintu gerbang tersebut akan kita temukan berbagai hal lain yang merupakan pengembangan dari desain grafis.

Dari mempelajari desain grafis, kita bisa kemudian mengembangkannya ke ranah perfilman. Bisa juga kita memilih untuk menjadi seorang web developer, dengan mengelola situsweb, terutama di bagian display atau penampilannya. Atau, kita bisa juga masuk di dunia kesenian, terutama seni visual, karena pada intinya desain grafis merupakan seni visual yang selayaknya dapat dinikmati oleh khalayak. Selain itu masih ada beberapa hal lain yang bisa kita pilih untuk kita jadikan sebagai pengembangan dari desain grafis yang kita pelajari.

Industri kreatif membuka peluang cukup lebar bagi berbagai pihak tak terkecuali kita yang memiliki basis keilmuan desain grafis. Bahkan di setiap industri kreatif, apa saja wujud yang diproduksinya, maka akan memerlukan seorang desainer grafis. Ini menunjukkan betapa desain grafis merupakan suatu profesi yang cukup fleksibel sehingga mampu masuk ke bebagai bentuk bisnis. Tantangannya adalah bagaimana kreator bidang ini mampu bersaing di kancah dunia. Jika kita membaca berita, beberapa nama orang Indonesia memang cukup banyak yang telah bekerja sebagai animator film-film besar. Setidaknya hal demikian cukup mampu menumbuhkan rasa percaya diri bangsa untuk bersaing dengan bangsa lain.

Problem lain di dunia desain grafis ini adalah adanya gesekan antara profesionalisme dengan kesenian. Bagaimanapun, desainer grafis juga merupakan seniman lantaran pekerjaan ini memang bisa disebut pekerjaan artistik. Di sini, kita terkadang menemukan seorang desainer grafis yang telah bekerja di sebuah perusahaan, akhirnya memilih untuk keluar dengan alasan perusahaan tak mampu memberinya kepuasan dan kebebasan dalam mengekspresikan karyanya. Beberapa desain grafis ini memandang bahwa karyanya di bidang visual ini harus memiliki unsur artistik, tanpa perlu mengindahkan permintaan atau animo masyarakat. Sedangkan yang namanya perusahaan, lazimnya menuruti permintaan pasar (masyarakat luas). Yang seperti inilah pada akhirnya membuat seorang desainer grafis “mengalah” dan memilih untuk mundur dari pekerjaannya.

Namun begitu, tantangan sejatinya muncul dari tempat di mana desainer grafis bekerja. Beberapa desainer grafis, tak jarang atau bahkan terlampau sering harus bekerja hingga berlarut-larut secara terus-menerus. Desainer grafis, seringkali menghabiskan waktunya di depan layar komputer karena memang tuntutan tugas. Hal ini menjadi sebuah permasalahan serius jika tidak dibikin manajemen waktu yang baik antara perusahaan tempat desainer grafis bekerja dengan si desainernya sendiri. Situs berita TirtoID mencatat, pekerjaan para desainer grafis ini bahkan bisa mengancam nyawa. Diberitakan oleh situsweb tersebut, Indonesia, Filipina, Jepang dan Cina pernah memiliki kasus kematian seorang desainer grafis lantaran terlalu banyak menghabiskan waktu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pada Desember 2013 silam, Mita Diran meninggal karena bekerja nonstop selama 30 jam. Kematiannya diduga karena kelelahan.

Hal seperti itu tentu harus disoroti agar ada penanganan yang tepat sehingga di kemudian hari tidak ada lagi kejadian menyedihkan semacam itu. Bagaimanapun, tubuh manusia memerlukan waktu untuk beristirahat. Memforsir seluruh tenaga untuk dihabiskan dalam pekerjaan, bukan merupakan kebijakan yang tepat terhadap tubuh kita.

Pengaturan waktu menjadi salah satu hal utama untuk mereduksi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bahaya semacam itu. Para pekerja kreatif ini sejatinya merupakan pekerja yang harus memeras otak dan tenaganya secara bersamaan meski tenaga yang dikeluarkan tak terlalu menghabiskan banyak energi. Tetapi kita tetap perlu berhati-hati dan memiliki manajemen waktu yang ideal sekaligus proporsional agar kita terhindar dari hal-hal yang tak kita inginkan. Adapun teknis mereduksi kemungkinan berbahaya ini misalnya, dengan merotasi desainer grafis secara tepat waktu. Yaitu umpamanya si A bekerja pada jam 8 pagi hingga 12 siang saja lalu pada jam berikutnya diganti si B, jam 1 siang hingga jam 5 sore. Jika ada keharusan lembur, maka harus dikerjakan oleh orang selain keduanya. Bisa dikatakan, manajemen waktu ini bisa digabungkan dengan sistem kerja tim.

Ilustrasi 5. Gambar dari Kan-Tek
Epilog.
Desain grafis masih memiliki peluang besar untuk megantarkan kita pada profesionalitas dalam bekerja sekaligus mampu menjadi gerbang bagi kita untuk mengembangkan diri, terutama bagi kita yang sedari awal memiliki kegemaran di wilayah seni visual. Ia bisa kita jadikan pijakan bagi kita untuk meraih kesuksesan di berbagai macam bidang profesi. Banyak peluang serta celah yang bisa kita masuki dengan “stempel” desainer grafis atau graphic designer pada diri kita. Beberapa perusahaan siap menampung kita yang ingin bekerja secara professional di bidang desain grafis.

Di sisi lain, menjadi desainer grafis bukan semata menjadi seorang seniman yang bisa menciptakan karya apa saja. Desain karya kita merupakan cover untuk menilai bagaimana diri kita, oleh sebagian orang lain. Kita yang bekerja sebagai desainer grafis di suatu perusahaan pun, harus mengikuti dan tunduk patuh pada peraturan-peraturan perusahaan di mana kita bekerja, terlepas dari visi dan misi perusahaan itu sesuai dan ideal bagi kita atau tidak.

Lain dari pada hal tersebut, menjadi seorang desainer grafis, pun memiliki risiko pekerjaan yang membahayakan bahkan bisa sampai berakhir pada kematian. Hal ini tentu saja bisa kita siasati dengan berbagai macam cara, salah satunya yang paling utama adalah pengaturan waktu bekerja. Kita tidak boleh membiarkan tubuh kita bekerja terus menerus tiada henti. Tenaga dan pikiran kita tak boleh terforsir dan terkuras habis di depan layar komputer demi pekerjaan kita sebagai desainer grafis. Adakalanya, tubuh kita dibiarkan menikmati masa jeda agar kita tak mengalami hal-hal yang tak kita inginkan seperti terkena berbagai macam penyakit dan atau hingga kematian.

Namun biar bagaimanapun, desain grafis merupakan suatu hal yang jika kita menguasainya, kita bisa berkembang di berbagai bidang profesi. Dengan belajar desain grafis, otomatis kita membuka peluang untuk memasuki pintu kesuksesan.

Sumber artikel: www.dumetschool.com - tirto.id
Sumber gambar:
Read more...

Thursday, 23 March 2017

Perbedaan Artikel Kontes dan Pribadi

March 23, 2017 1
Beberapa hari ke belakang, saya menuliskan artikel-artikel (ada yang berbentuk narasi sebuah cerita), yang sengaja saya tulis untuk saya ikutkan ke kontes menulis atau kontes blog. Tulisan ini saya bangun berdasarkan pengalaman hari-hari tersebut di mana saya memang merasa perlu mengikuti kontes-kontes semacam itu.
Sumber gambar: The Write Practice
Saya memiliki alasan mengapa saya mau menulis artikel yang saya ikutkan untuk kontes atau lomba atau apapun penyebutannya. Bagi saya secara pribadi, menulis untuk diikutkan ke sebuah kontes, adalah “selingan” daripada lelah menuliskan artikel yang dituntut originalitasnya oleh banyak pakar SEO. Mengapa saya anggap “selingan”? Ya karena memang sekadar selingan agar blog pribadi saya tidak melulu berisi tulisan-tulisan curhatan yang tidak terlalu penting. Seperti tulisan ini, yang sebenarnya hanya sekadar curhatan yang tidak terlalu penting.

Tapi begini maksud saya, Sodara-sodara yang berbahagia. Menulis artikel untuk kontes, rupanya memiliki perbedaan jika dibanding menulis artikel biasa yang tidak untuk diikutkan kontes. Ada kesan berbeda, menulis artikel untuk kontes jika dibandingkan dengan menulis untuk dipublikasikan sendiri tanpa diikutsertakan lomba atau kontes. Saya mencatat ada beberapa perbedaan dalam hal semacam ini.

Pertama, menulis artikel untuk kontes selalu terpaku pada suatu pokok tema tertentu. Kalian yang pernah atau sering menulis artikel untuk kontes, tentu paham bagaimana mereka yang mengadakan kontes selalu tidak membebaskan kita untuk membahas tema semau kita. Pada kontes yang diadakan oleh perusahaan, bahkan sering yang intinya tulisan kita harus memuat “hal-hal baik” mengenai perusahaan yang bersangkutan.

Sedangkan dalam menulis artikel yang tidak diikutsertakan pada kontes atau lomba, kita dapat menentukan sediri tema apa yang ingin kita tulis. Kita bisa pada hari ini menulis tentang “tata cara menulis dengan baik dan benar” di blog kita, lalu besok secara semena-mena kita menulis artikel lain yang tidak ada kaitannya dengan artikel pertama, misalnya “kiat-kiat menjadi jomblo berkualitas”.

Pada kesimpulannya, perbedaan mengenai menulis artikel untuk kontes atau lomba dan menulis tidak untuk lomba yang pertama yaitu bahwa tema artikel untuk kontes terbatas. Sedangkan tema artikel yang kita tulis bukan untuk lomba lebih bebas.

Kedua, deadline atau batas waktu. Kita tidak bisa semau-mau kita menuliskan artikel untuk kontes yang memiliki deadline pada akhir bulan Maret ini misalnya, kita menulis artikelnya pada pertengahan April. Tentu artikel yang kita tulis melewati deadline yang ditentukan pihak penyelenggara kontes tidak mungkin dapat diikutkan ke kontes yang bersangkutan.

Beda dengan artikel yang tidak akan kita ikutkan ke kontes. Kita dapat dengan semau kita menentukan deadline sendiri. Misal, kita ingin menuliskan artikel berkualitas (informatif, aktual, faktual serta bukan hoax) mengenai suatu tema tertentu, maka kita dapat menentukan kapan saja kita akan menulis serta mempublikasikannya. Deadline alias batas akhirnya kita sendiri yang menentukan. Bahkan untuk ukuran pemalas seperti saya dapat menentukan batas akhir penulisan artikel tahun depan meski pengumpulan data sudah mencapai 95 persen. Atau, bisa juga kita tidak memberikan deadline kapan kita akan mempublikasikan tulisan kita karena intinya, blog-blog gue, tulisan-tulisan gue, bebas dong mau gue publikasikan kapan aja! Cih!

Intinya, untuk menulis artikel untuk kontes, kita dibatasi oleh waktu, selain tema seperti pada poin pertama tadi. Sedangkan untuk artikel yang bukan untuk kontes, kita bebas menentukan sendiri deadline-nya atau bahkan tanpa deadline sekalipun.
Dua poin tersebut, tidak berguna bagi kalian yang tidak memiliki blog pribadi. Kalian yang blog atau situswebnya “barengan” alias satu digarap banyak orang, tentu punya kebijakan-kebijakan sendiri terkait tema yang akan dituliskan serta deadline waktunya. Artinya, ini juga tidak berlaku bagi penulis-penulis pada media tertentu yang biasanya para penulis ini sudah memakai standar kaidah jurnalisme yang ketat.
Ketiga, artikel yang kita ikutkan untuk kontes biasanya kita tulis dengan terpacu oleh hadiah. Nah, ini terserah kalian mau mengakui atau tidak, tapi saya cukup yakin bahwa kalian tidak mungkin menulis artikel kontes tapi tidak mengharapkan hadiahnya. Sudah, jujur dan mengakulah. Biar saya ada temannya. Karena, saya pun beberapa hari lalu ketika gencar mengikuti kontes-kontes itu, ya merasa terpacu menulis oleh hadiah yang disediakan penyelenggara. Hehehehe.

Ini tentu berbeda dengan tulisan kita yang tidak kita niati untuk kontes. Tulisan bebas kita yang hanya sekadar untuk memperbanyak post di blog kita, tidak kita harapkan akan memperoleh hadiah. Mentok, semisal kita harapkan hadiah, paling sekadar hadiah komentar dari pembaca atau pengunjung yang membaca artikel kita cukup banyak, di atas 1.000.000 pembaca misalnya. Yang jelas, kita tidak mengharapkan hadiah yang spesifik layaknya artikel untuk lomba yang biasanya berhadiah menggiurkan seperti misal hadiahnya iphone 9 (eh, ada belum iphone 9?) dan lain-lain.

Kesimpulan poin ketiga ini yaitu bahwa saat menulis artikel untuk kontes, kita terpacu menulis dengan baik karena adanya hadiah, meski hadiah tersebut masih sekadar harapan karena belum tentu kitalah yang akan mendapatkannya. Sedangkan saat menulis artikel yang tidak akan kita ikutkan kontes, kita tak memiliki harapan akan adanya hadiah dari siapapun. Kecuali, kecuali tentu saja kalian memiliki pasangan (baca: pacar/istri/suami) yang siap memberi hadiah tiap kali kalian update artikel di blog kalian. Ada?

Keempat, memberikan backlink ke penyedia kontes. Sebelum saya terangkan, kalian sedikitnya sudah paham, kan? Nah, iya. Begitu. Tiap kontes yang biasanya diadakan oleh instansi atau perusahaan tertentu, pastinya berharap Domain Authority (DA) untuk situsweb mereka naik. Salah satu cara menaikkan DA, menurut beberapa pakar SEO, kan dengan mendapatkan backlink dari berbagai pihak. Kalian, saat menuliskan artikel untuk kontes, kan artikelnya pasti berbau yang baik-baik tentang instansi atau perusahaan yang mengadakan kontes. Iya, kan? Nah, di situlah. Konten yang kalian tulis untuk kontes adalah hal-hal baik di mana beberapa kata dalam artikel tersebut kalian tanami backlink yang mengarah ke situsweb mereka. Jelas mereka diuntungkan oleh hal seperti ini, dan ini seringkali menjadi peraturan wajib yang tak boleh dilanggar oleh peserta atau kalian akan segera didiskualifikasi jika nekat melanggarnya. Eh, bener nggak, sih?

Bedanya dengan artikel yang tidak untuk kontes. Kalian tidak diwajibkan menanam backlink ke mana pun. Kalian paling banter, merasa perlu memberi backlink ke situs-situs besar semacam Wikipedia untuk meyakinkan pembaca. Dan ini bukan merupakan kewajiban. Kalian boleh-boleh saja tidak menyertakan backlink yang mengarah ke situs lain meskipun kalian menjadikan situs lain tersebut sebagai referensi tulisan kalian. Badewei, saya teranggap enggak suka kalau kalian menuliskan artikel yang diksinya memiliki referensi tapi kalian tidak menyertakan link referensi tersebut pada artikel kalian. Itu copas yang tidak dianjurkan, Sodara!

Pada kesimpulannya, artikel yang kita tulis untuk ikut kontes, selalu mewajibkan kita menanam backlink pada suatu bagian tertentu yang kita arahkan ke situsweb yang mengadakan kontes yang intinya agar situsweb mereka dikenal “situsweb baik-baik” oleh berbagai robot-robot di mesin pencari. Sedangkan artikel kita yang tidak kita kehendaki untuk kontes, kita bebas untuk menanam backlink atau tidak.


We help carve your future. oleh Em Choled


Begitulah kira-kira dalam pandangan saya mengenai perbedaan artikel kontes dan pribadi. Ada barangkali perbedaan lain yang ada dalam pikiran kalian. Silakan kalian tambahi melalui komentar (kurang dianjurkan), atau melalui tulisan lain dengan bahasa kalian sendiri (sangat dianjurkan).

Terakhir, satu hal yang saya gemari dari mengikuti kontes menulis semacam itu adalah saya jadi memiliki tambahan wawasan karena suatu tema atau topik yang mereka (penyelenggara kontes) patok seringkali suatu hal yang tak banyak saya ketahui yang akhirnya saya jadi membaca lebih banyak mengenai suatu tema tersebut untuk referensi. Serta, saya jadi belajar bagaimana menjadi penulis professional karena saya yakin setiap penulis professional selalu memiliki target suatu tema tertentu dan memiliki deadline yang juga menjadi harga mati baginya.
 
Sekian.
Terimakasih. 
Salam,
Em.
Read more...