Showing posts with label Organisasi. Show all posts
Showing posts with label Organisasi. Show all posts

Sunday, 9 July 2017

Bukan Kodrah Lurah Desa Simbang Wetan

July 09, 2017 0
 
Jum’at siang, saya terkaget-kaget karena melihat ratusan orang berkumpul di Balai Desa Simbang Wetan, desa saya tinggal. Sejenak kemudian, kekagetan saya berubah menjadi kebahagiaan melihat warga di desa saya yang berkumpul di Balai Desa tersebut. Senang sekali rasanya, akhirnya warga sedesa saya ini mau berkumpul dalam sebuah forum penting. Bukan, ini bukan acara pemilihan kepala desa baru atau yang kerap kami sebut “kodrah lurah” itu. Melainkan ini adalah perkumpulan warga yang entah apa sebabnya, akhirnya mau berkumpul demi menimba ilmu, ilmu soal jurnalistik.

Ya, betul sekali. Ratusan warga di desa saya tersebut berkumpul untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik. Yang paling bahagia dari antusiasme masyarakat desa Simbang Wetan ini tentu saja adalah para mahasiswa KKN dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan yang menginisiasi program pelatihan tersebut. Namun demikian, kebahagiaan saya tak kalah besar dibanding yang mereka rasakan.

Sebagai pemuda warga desa Simbang Wetan, saya turut bahagia melihat keadaan ini. Inilah perubahan. Inilah langkah yang menuju pada kemajuan desa. Inilah apa yang disebut sebagai semangat masyarakat dalam menatap masa depan.

Kita tahu bahwa hidup di zaman sekarang, kita sebagai manusia memang perlu melek terhadap teknologi. Lebih dari itu, kita pun perlu melek dalam dunia jurnalistik agar kita sama-sama bisa mengoreksi setiap kejadian, mencatatkan peristiwa, dan saling berbagi kabar dengan baik, tidak menyinggung dan memojokkan salah satu pihak. Melek media, menjadi sebuah pintu gerbang bagi masyarakat agar tidak mudah termakan isu-isu negatif terlebih isu tak berdasar, isu bohong atau hoax.

Pukul setengah dua siang usai Jumatan, ratusan warga di desa saya ini sudah duduk rapi di dalam gedung Balai Desa. Di bagian kiri, duduk warga perempuan dari desa kami. Sedangkan di barisan kanan, para lelaki duduk manis, saya berada di barisan ini bersama pemuda lain seusia saya, bersama sahabat-sahabat saya di Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Semuanya, berkumpul menjadi satu dalam ruangan tersebut, mulai dari remaja, pemuda, hingga bapak-bapak dan ibu-ibu. Sungguh, bagi kedua mata saya, pemandangan ini jauh lebih indah dari segala pemandangan apapun atas nama alam. Inilah pemandangan alam yang sesungguhnya.

Lima menit lewat dari jam setengah dua, beberapa mahasiswa KKN IAIN Pekalongan maju ke depan menghadap kami. saya hitung jumlah mahasiswa yang maju ke depan tersebut ada 5 orang. Dua di antaranya, keduanya perempuan, kemudian memilih berdiri dan segera mengucapkan salam sebagai pertanda dimulainya kegiatan pelatihan jurnalistik yang mereka gagas tersebut.

Sedangkan tiga temannya yang lain, satu di antaranya (seorang perempuan juga) menghadap layar laptop, ialah yang mengatur slide presentasi yang layarnya terpampang di sudut ruangan yang cukup gelap. Sisanya, dua mahasiswa duduk sambil tiada henti mengulas senyum seakan pertanda bahwa mereka begitu bahagia melihat animo masyarakat desa saya atas program mereka.

Kedua mahasiswa yang sedari tadi tersenyum manis itu kemudian diberi waktu untuk mulai memaparkan satu demi satu materinya. Secara bergantian, kedua mahasiswa tersebut nampak begitu kompak. Jika diibaratkan, mereka nyaris seperti dua vokalis yang tengah berduet. Berhubung keduanya adalah lelaki, saya membayangkan keduanya adalah Mike Shinoda dan Chester Bennington, duo pentolan band asal Amerika, Linkin Park.

Materi demi materi disampaikan dengan sangat rapi oleh kedua mahasiswa yang rupanya kedua mahasiswa ini adalah mahasiswa pascasarjana yang sudah cukup lama menggeluti dunia tulis menulis, terutama dunia jurnalistik. Si “Mike Shinoda” pada akhirnya menutup materinya dengan kutipan yang ia ambil dari perkataan Imam Al Ghazali tentang menulis yang kira-kira begini: “Jika kau bukan anak seorang raja atau ulama, maka menulislah.”

Tanpa dikomando terlebih dahulu, ratusan peserta yang kesemuanya adalah warga desa Simbang Wetan itu bertepuk tangan. Seakan semua warga tersebut mengamini segala apa yang diucapkan oleh pemateri. Terlebih, seakan para warga desa Simbang Wetan ini benar-benar paham sepenuhnya apa yang telah disampaikan oleh kedua pemateri kita. Saya pun ikut bertepuk tangan. Bukan untuk pemateri, tetapi untuk semangat para warga desa saya tadi yang sejak acara dibuka, semuanya dengan antusias memerhatikan penjelasan pemateri sambil sesekali mencatat sesuatu di buku catatan yang diberikan oleh penyelenggara, yaitu para mahasiswa KKN itu.

Ah, senang sekali rasanya saya menyaksikan hal ini. Bagi saya, ini merupakan hari paling menyenangkan dibanding hari-hari lain. Inilah Jumu’ah Mubarokah yang sesungguhnya. Jumat yang penuh dengan keberkahan nan sejati. Hari Jumat adalah hari besar bagi umat Islam, pun bagi warga desa saya Simbang Wetan karena sebagian besar masyarakatnya memiliki hari libur pada hari Jumat tiap minggunya. Namun, dari kesekian hari Jumat yang pernah saya lalui, ini merupakan hari Jumat terbesar. Ingin sekali rasanya saya meneriakkan takbir di gedung Balai Desa ini.

Berikutnya, belum sempat saya meneriakkan takbir, dua mahasiswa perempuan sang pembawa acara tadi, salah satunya kini mengambil alih forum dan menjadi moderator jalannya pelatihan jurnalistik ini. Ia membuka sesi tanya-jawab. Saat ia melemparkan kepada seluruh peserta, banyak sekali peserta yang kesemuanya merupakan warga desa ini mengangkat tangan sebagai tanda ingin bertanya. Tangan saya juga ikut saya angkat karena memang ada yang ingin saya tanyakan.

Saat seorang mahasiswa lain menyerahkan microphone kepada saya, saya diminta berdiri untuk memperkenalkan diri sekaligus dipersilakan untuk bertanya.

Saat itulah, sayup-sayup telinga saya mendengar suara Emak saya memanggil. Tak selang berapa lama, suara Emak saya kian jelas dan kian keras.

“Lha wis ra, tangi. Jumatan! Wis jam setengah rolas kae wis adzan mesjid’e.”

Bukannya segera menuju kamar mandi untuk segera mandi Sunnah Jum’at, saya justru termenung. Mengingat-ingat jalannya mimpi barusan. Saat Emak saya sekali lagi memanggil saya, barulah saya bangkit dan mengumpat, “Asem!” Bukan saya tujukan ke Emak saya, ya. Itu umpatan saya tujukan ke diri saya sendiri yang baru saja menemu mimpi paling buruk sepanjang masa; mimpi dapat mengumpulkan ratusan warga desa Simbang Wetan dalam forum keilmuan.

*Tulisan ini pertama kali diterbitkan melalui akun Facebook pribadi saya.
Read more...

Monday, 19 June 2017

Gerbang (Gerakan Anak Bangsa) di Pekalongan

June 19, 2017 0


Foto bersama Gerakan Anak Bangsa di Binagriya, Pekalongan
Malam minggu lalu, 17 Juni 2017, saya diajak oleh kawan saya untuk mengikuti sebuah pertemuan yang mana penggagas pertemuan tersebut berasal dari Yogyakarta, bernama Hariyanto (di sana ia dipanggil Mas Har). Pertemuan oleh Gerakan Anak Bangsa (Gerbang) tersebut merupakan pertemuan orang-orang yang aktif sebagai jamaah Maiyahnya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Karena itulah, dalam pertemuan tersebut saya mendapati cukup banyak orang-orang yang saya kenali beberapa tahun ke belakang, menjadi bagian dari penggiat Maiyah Suluk Pesisiran Pekalongan.

Saat tiba di ruang pertemuan tersebut, saya sekali takjub karena ruangan yang dipakai sungguh jenis ruangan yang sangat nyaman untuk sebuah acara-acara semacam diskusi dan sejenisnya. Hampir keseluruhan dinding ruangan tersebut terbuat dari ukir-ukiran kayu yang setiap kali saya amati, saya akui membikin saya mengulang-ulang rasa takjub. Di sana, acara sudah mulai dan tengah ada seorang pria berpeci hitam sedang berbicara. Sejenak, saya belum dapat menangkap apa yang dibicarakan si pria berpeci hitam tersebut.

Barulah setelah saya duduk ala tahiyyat awal dalam salat sekitar 5 menitan, saya mulai dapat menangkap apa yang dipaparkan oleh si pria berpeci hitam. Belakangan, si pria berpeci hitam ini saya ketahui bernama Muhammad Imaduddin (Mas Imad). Dan di belakangnya lagi kemudian saya juga mengerti bahwa ia termasuk kontributor situsweb favorit saya: Mojok.co.

Usai Mas Imad mengakhiri pembicaraannya mengenai kebangsaan, atau kira-kira kondisi bangsa Indonesia saat ini dan tarik ulurnya pada waktu lampau dan terkaan masa depan, disambung oleh pembicaraan Mas Har. Bukan sekadar berbicara layaknya diskusi sederhana, Mas Har juga “beraksi” dengan berdiri di depan salah satu dinding yang telah ditempeli kertas sampul buku berwarna cokelat itu. Ia berbicara sembari menuliskan beberapa hal dan sesekali membentuk diagram-diagram sederhana untuk mempertegas penjelasannya mengenai kebangsaan.

Yang saya catat, Mas Har menguraikan bahwa di Indonesia ini terdapat dua jenis “pemimpin”. Pemimpin yang pertama disebut sebagai pemimpin struktural, gampangnya presiden. Dan pemimpin jenis yang kedua yaitu pemimpin kultural, yang bisa dimaknai sebagai para Imam, Kyai atau Ulama yang menjadi panutan masyarakat. Di antara kedua jenis pemimpin ini, ada celah yang begitu jauh dan runyam sehingga keduanya nyaris tak bisa dipersatukan. Mengapa demikian? Jawabannya karena orientasi kedua jenis pemimpin ini memang jauh berbeda. Yang struktural harus tunduk pada sistem (mudahnya sistem pemerintahan saat ini: demokrasi), sedangkan pemimpin kedua, pemimpin kultural, ingin lebih menonjolkan bahwa mereka lebih tunduk pada Sang Khaliq.

Mas Har kemudain melanjutkan narasinya dengan menyerempet ranah global. Tentang perusahaan multinasional, tentang kongkalikong politisi Indonesia dengan pengusaha, dan seterusnya dan seterusnya. Saya mulai tertarik dan tergugah untuk mencatat sesuatu. Namun sayang sekali, saya hanya membawa sebuah pulpen tanpa buku catatan. Dalam kondisi seperti itu, saya mengumpat keras-keras dalam hati karena tak membawa peralatan tulis menulis untuk mencatat hal-hal yang menurut saya penting untuk dicatat. Kalau kalian berpikir dan bertanya mengapa saya tak mencatat melalui ponsel, jawabannya menyedihkan; ponsel yang saya bawa malam itu merupakan ponsel Nokia 1600.

Akhirnya saya tak peduli dan terus saja menyimak apa yang disampaikan Mas Har. Di tengah penjelasan lanjutannya, tangan kiri saya tiba-tiba tergerak untuk merogoh saku celana kiri saya. Dan agak mengejutkan, di dalam saku celana jins yang sudah 3 bulan tak saya cuci itu saya temukan selembar kertas. Selembar kertas sobekan buku merk Kiky. Saya tersenyum dan segera memanfaatkannya untuk mencatat beberapa hal. Saat itulah saya segera berdzikir menyebut asma Allah.

Mas Har juga menerangkan bahwa inti pergerakan yang tengah dibangun ini bukan pergerakan yang sifatnya eksklusif. Kalau massif, harapannya iya massif, tapi tidak eksklusif. Saya jadi tahu bahwa rupanya inti dari gerakan ini adalah mendorong orang-orang alim-allamah untuk bersatu mengadakan musyawarah yang di dalamnya membahas perihal kebangsaan. Mendorong para ulama untuk mencetuskan ide-ide atau rumusan bagaimana nasib bangsa Indonesia ini ke depannya.

Dalam penjelasannya yang lebih mendetail, pergerakan ini nantinya akan berjalan dalam, setidaknya tiga tahap; pertama, Gerakan Makmuman 1 yaitu gerakan menyadarkan diri sendiri dan lingkungan terdekatnya untuk benar-benar paham serta sepenuhnya sadar bagaimana kita sebagai masyarakat memilih pemimpin yang benar-benar ideal. Kedua, Gerakan Makmuman 2, yaitu kita sebagai masyarakat yang telah sadar bagaimana dan siapa pemimpin yang layak menjadi imam kita, melaksanakan deklarasi; Deklarasi Makmum. Deklarasi bahwa kita, dalam lingakran orang-orang yang telah sepaham dan sekesadaran yang sama, mendeklarasikan bahwa Kyai A, Habib B, Syaikh C atau Imam D dan seterusnya merupakan imam di mana kita berdiri di belakangnya sebagai makmumnya. Ketiga, atau yang menjadi puncak pergerakan ini, yaitu terwujudnya Musyawarah Imam Bangsa. Yaitu adanya musyawarah persatuan antara para Kyai, Habaib, Masyayikh, Aimmah dan seterusnya untuk memusyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan bangsa Indonesia.

Penjelasan Mas Har, semakin ke sini semakin menarik. Terlebih ia memberi selingan guyon-guyon yang menambah kesejukan suasana. Saya terhanyut meski beberapa hal yang disampaikan olehnya ada yang sudah pernah saya dengar dan atau baca di lain tempat dan konsisi, seperti misalnya tentang terrorisme yang sengaja disusupi terroris bikinan barat, tentang kegalauan seorang presiden, dan lainnya.

Mas Har kemudian menutup penjelasannya dan langsung disambung beberapa patah kata oleh seorang yang dipanggil dengan nama Teguh. Mas Teguh dan Mas Hariyanto inilah dua orang penggagas utama Gerakan Anak Bangsa (Gerbang). Sampai saya menuliskan ini, saya masih belum tahu bagaimana latar belakang keduanya secara pribadi. Dan sampai di sini pula, saya belum tertarik untuk menggali kepribadian kedua orang ini. Sejauh yang saya tahu, keduanya merupakan penggiat yang aktif di Maiyah Yogyakarta. Kalau boleh saya sampaikan di sini, orang-orang yang telah aktif sebagai jama’ah Maiyah, memang sering menularkan kesan menyenangkan, bersahabat, humoris, serta nyaman dalam berkomunikasi.

Mas Teguh ini tidak terlalu banyak memaparkan perkara. Saya bahkan tak mencatat apapun dari apa yang disampaikannya. Seingat saya, Mas Teguh lebih banyak bercerita soal pengalamannya bertemu orang-orang di berbagai kota, yang dijelaskan mengenai Gerbang itu sendiri. Mas Teguh, sekali lagi seingat saya, lebih sering bercerita soal bagaimana reaksi orang-orang yang mendengar gagasan tentang Gerbang ini di berbagai kota yang telah dikunjunginya.

Waktu yang kemudian bergulir, akhirnya sampai pada sesi tanggapan atau sejenis tanya-jawab. Saya juga kemudian baru tahu bahwa pertemuan itu, pembawa acaranya adalah Eko Suprihan atau kita panggil saja Mas Eko. Dan tanpa basa-basi, Mas Eko langsung melemparkan waktu kepada seluruh peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk menanggapi, atau bertanya utamanya tentang Gerbang yang runtutannya telah disampaikan oleh Mas Imad, Mas Teguh dan tentu Mas Har.

Saya celingak-celinguk karena jujur saja bingung mau tanya apa. Tapi setelah 10 detik hingga belasan detik tak ada peserta yang angkat tangan setidaknya untuk bertanya. Saya beranikan diri untuk mengangkat tangan. Langsung. Langsung saja saya kemudian gemetar. Entah ini jenis penyakit apa, saya selalu gemetar tiap kali ngomong di depan banyak orang, yang belum terbiasa ngobrol sama saya. Meski begitu, meski terbata-bata, saya akhirnya mampu menyampaikan tiga pertanyaan.

Kurang lebih beginilah pertanyaan saya: pertama, siapa dan bagaiaman kriteria imam yang kita sebagai makmum harus kita pilih? Kedua, apakah kita sebagai makmum ini memiliki kewenangan untuk “menyetir” para imam tersebut? Ketiga, setelah imam-imam itu terpilih dan terbentuk, kita sebagai makmum, harus ngapain?

Ketiga pertanyaan saya tersbut, secara pelan-pelan dijawab oleh Mas Har. Dalam menjawab pertanyaan pertama saya, Mas Har mengatakan bahwa kurang lebih kriteria ulama yang seharusnya kita pilih menjadi imam kita adalah mereka yang sedikit banyak terbukti mampu mengayomi dan mengajak ke jalan Allah. Ini bisa siapa saja, tak harus ulama besar yang memiliki massa ribuan atau jutaan, kyai kampung pun bisa kita pilih untuk menjadi imam kita dan kemudian pada Gerakan Makmuman 2, kita deklarasikan bahwa kyai kampung pilihan kita itulah ulama yang kita ajukan untuk menjadi imam kita.

Pertanyaan kedua dijawab dengan sedikti cerita. Mas Har menggambarkan kita ini mau salat berjamaah. Nah, dalam salat berjamaah ini ketika ada imam yang bacaan dan atau gerakannya salah, maka yang bertanggungjawab untuk membenarkan adalah makmum. Maka dari itu, pertanyaan saya tadi bisa disebut memiliki jawaban bahwa iya, kita sebagai makmum pada imam yang kita pilih, boleh memberi masukan dan kritik apapun terhadap imam kita.

Dan untuk pertanyaan terakhir, yang oleh Mas Teguh dianggap sebagai pertanyaan baru yang di berbagai pertemuan menjelaskan soal Gerbang di lain kota belum pernah ditanyakan, merupakan pertanyaan yang Mas Har dan Mas Teguh belum mampu menjawabnya. Dijelaskan oleh Mas Har kurang lebih begini, intinya kita ini sebagai masyarakat yang mau menyadari bagaimana kondisi bangsa, kita fokus pada prosesnya saja dulu. Persoalan bagaimana nanti hasilnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

“Aku dewe yo jan-jane bingung, Mas. Iki nak wes kelakon ono musyawarah imam bangsa kui terus dewe ngopo, yo?” begitu tukas Mas Har menutup jawaban pertanyaan terakhir saya.

Selanjutnya, masih ada beberapa peserta yang kemudian memberi tanggapan dan juga membuka pertanyaan lain. Dalam catatan saya, ada Mas Ribut Achwandi (penggiat dan pendiri Omah Sinau Sogan/Teater Sinau Sogan), lalu ada pula Ustadz Hamam, Pak Aya’, serta seorang lagi dari Pemalang yang saya lupa namanya.

Pada akhirnya, pertemuan malam itu memang baru sebatas pengenalan dan sedikit penjelasan mengenai bagaimana model pergerakan Gerakan Anak Bangsa (Gerbang) ini akan diwujudkan. Adapun detail teknisnya, diakui oleh Mas Har dan Mas Teguh, memang belum sepenuhnya matang dan masih terus digodok oleh tim lain di Yogyakarta. Catatan pentingnya, barangkali perlu saya sedikit urai di sini, bahwa pergerakan ini memang digagas oleh orang-orang yang dekat dengan Cak Nun serta yang diajak pun lebih banyak orang-orang Maiyah. Di sini, muncul pertanyaan, apakah Cak Nun meyetujui apa yang digagas dan dilakukan oleh orang-orang ini? Mas Har memberi penjelasan bahwa sebelum mengadakan sarasehan pertama di, —kalau tidak salah di Surabaya—terlebih dahulu memberitahu Cak Nun. Dan jawaban Cak Nun adalah; “iki tak sinauni dhisik, kowe juga sinau meneh.” Dan ketika Mas Har kemudian telah mulai berjalan serta mendapati perkembangan yang ada, Mas Har pun melaporkannya kepada Cak Nun. Jawaban Cak Nun, “Sinau terus.”

Yang saya tangkap kemudian adalah, bahwa Gerbang ini memang dibikin bukan untuk menambah keriuhan bangsa. Orang-orang ini, tidak berkehendak untuk membikin bangsa kian riuh dengan mengadakan gerakan-gerakan dalam bingkai demonstrasi. Sama sekali bukan. Pergerakan dalam Gerbang ini, dalam pandangan saya pribadi, merupakan gerakan penyadaran diri sendiri akan pentingnya mengenali siapa diri kita masing-masing, sebelum kita pura-pura mengenal orang lain. Dan juga, Gerbang, barangkali merupakan sebuah gerbang untuk kita terus belajar. Dan barangkali pula, jika gerbang ini telah terbuka, kita akan menemu sebuah kota yang penuh dengan nur, yang memberi penerangan atas jalan kita menuju Allah Yang Maha Esa.
Read more...

Tuesday, 28 March 2017

PKD dan Diklatsar GP Ansor Buaran Pekalongan

March 28, 2017 0
Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna di Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan (PAC GP Ansor Buaran) mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar sekaligus Pendidikan dan Latihan Dasar II yang dilaksanakan di Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan pada Kamis sore 30 Maret hingga hari Ahad 2 April 2017.
Foto rapat checking panitia PKD-Diklatsar II GP Ansor Buaran Pekalongan. Sumber foto: PAC GP Ansor Buaran
Hari ini, Selasa 28 Maret 2017 saya sudah mulai mempersiapkan diri untuk keperluan mengikuti acara Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Gerakan Pemuda (GP) Ansor serta Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Dalam seminggu terakhir ini, saya banyak membaca-baca berita informasi mengenai PKD dan Diklatsar tersebut. Beberapa video yang menayangkan acara tersebut juga sebagian telah saya tonton. Ini yang saya sebut sebagai pemahaman dasar atas pelatihan dasar-dasar yang nanti akan saya jalani pada acara PKD-Diklatsar tadi. Ini, semacam persiapan agar saya tak terlalu gagap ketika menghadapi pelatihan yang menurut rundown acaranya akan memakan waktu selama 3 hari 3 malam itu.

Jauh sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk meminta masukan dari calon istri saya mengenai hal ini. Yang pertama kali saya tanyakan padanya adalah apakah saya harus mengikuti Diklatsar (sejauh ini yang saya ketahui adalah bahwa peserta boleh hanya mengikuti PKD saja atau tanpa mengikuti Diklatsar. Keduanya memang merupakan pelatihan yang, juga sejauh pengetahuan saya, terpisah).

Bumi, demikian panggilan calon pasangan saya itu, menyatakan bahwa saya sebaiknya "sisan ikut keduanya". Nanggung, begitu ungkapnya saat saya mintai masukan beberapa hari lampau.

Dari sana, saya kemudian merasa cukup yakin untuk mengikuti PKD dan Diklatsar ini dengan penuh semangat dan persiapan mental yang pula kuat. Saya sadar, menjadi bagian dari Ansor dan terlebih Banser, artinya saya harus siap berbakti kepada Nahdlatul Ulama (NU), dan tentu saja berbakti kepada bangsa tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saya kemudian menaruh harapan yang cukup besar pada diri saya sendiri bahwa semoga saya benar-benar mampu berkhidmah secara taat dan sepenuh hati pada NU dan bangsa ini. Tentu akan sangat lucu kalau saya mengikuti PKD dan Diklatsar tanpa menaruh harapan apapun pada diri saya sendiri demi kebaikan. Sampai detik ini, saya masih yakin bahwa melalui GP Ansor dan Banser inilah saya mampu belajar menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. Dan saya kira, melalui keseriusan menjadi anggota GP Ansor ini saya yakin bahwa salah satu Badan Otonom (Banom) NU ini akan memberi manfaat yang baik bagi diri saya sendiri, serta lingkungan sekitar saya, pula tentu saja bangsa Indonesia secara luas.

Perlu saya sampaikan pula bahwa saya memiliki banyak cita-cita yang saya harapkan mampu saya wujudkan bersama dan melalui tubuh GP Ansor. Salah satu cita-cita tersebut, yang paling dekat dengan hobi saya, adalah saya ingin GP Ansor pro-aktif melawan segala bentuk kazaliman dan kesemrawutan yang pada 2-3 tahun terakhir ini begitu kentara menjadi ciri khas bangsa kita. Kesemrawutan itu, terutama, yang perlu GP Ansor lawan dengan aktif adalah kesemrawutan di ranah media di mana di sanalah semua orang pada hari-hari ini seakan menjadi Nabi atau bahkan menjadi Tuhan semaunya sendiri.

Selain itu, saya juga ingin ikut andil bersama GP Ansor untuk mengejawantahkan slogan-slogan yang sering meriah diteriakkan seperti menjaga keutuhan NKRI karena NKRI adalah harga mati. Saya, dengan segala hormat, ingin ikut berada di barisan GP Ansor dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Hal ini senantiasa saya iringkan pula bersama rasa cinta saya terhadap Indonesia, rasa cinta yang telah menjadi kidung patriotis melalui syair karya KH Abd Wahab Hasbullah, Yaa Lal Wathan.

Terakhir, sebelum saya tutup tulisan membahagiakan rupa curhat ini, saya akan menutupnya dengan pemberian harapan kepada Mas Roy Murtadho yang menulis tentang bagaimana kita, muslim Indonesia, mengejawantahkan Hubbul Wathan Minal Iman. Insya Allah, Mas, saya siap menerapkan Hubbul Wathan Minal Iman secara lebih luas dan siap melek terhadap segala permasalahan-permasalahan bangsa yang perlu dukungan dan bantuan kami di GP Ansor. Saya dan kami semua di GP Ansor siap untuk berkaca dan menelaah diri kami demi benar-benar mampu menjadi pecinta tanah air sejati. Tanah air yang bentangannya bukan sekadar Sumatera-Jawa, tetapi membentang hingga Papua. Jika selama ini kami masih terbatas dalam mengimplikasikan kaidah Hubbul Wathan Minal Iman, itu semata menunjukkan bahwa kami pun masih memiliki kelemahan iman, dan tentu hal ini kemudian menjadi dasar bagi kami untuk tidak semena-mena mendakwa setiap perkara dengan hukum-hukum saklek "ini haram, itu halal".

Demikian.
Terimakasih telah membaca, silakan bagikan jika berkenan.

Regards,
Em. 
Read more...