Showing posts with label Frasa Bebas. Show all posts
Showing posts with label Frasa Bebas. Show all posts

Tuesday, 10 July 2018

Sowan Kiai Simbang Wetan

July 10, 2018 0
Sudah sebulan lalu, saya memberanikan diri untuk sowan kepada salah seorang kiai yang masih tergolong muda di desa saya. Seperti lazimnya awam, saya sowan memang tengah dilanda sebuah problematika. Dan problem yang menghantarkan jiwa dan raga saya sowan ke ndalem sang kiai adalah problematika pemuda tangguh pada umumnya: asmara.
Sowan

"Gimana, Led? Ada 'something'?" Saya belum juga meletakkan duduk saat ditanyai seperti itu. Sedikit cengengesan, saya menjawab,

"Nggih, Yai. Biasa, tiyang nem kados kula niki nek mriki kan nggih mbethane masalah mawon," saya dapat melihat sang kiai tersenyum saja sebelum akhirnya pamit ke belakang. Lalu balik lagi dengan menenteng sebungkus rokok Surya 16.

Melihat yang demikian, saya juga mengeluarkan 3 bungkus rokok. Dua di antaranya saya tak doyan; Djarum, yang memang sengaja saya bawa untuk saya tinggal di ndalem sang kiai. Sedang yang satu, rokok buat gegayaan saja; Sampoerna Mild.

Saya dan sang kiai, kemudian mulai membahas permasalahan yang tengah saya hadapi. Permasalahan yang sebetulnya bisa dianggap bukan permasalahan besar. Bahkan, sang kiai muda di hadapan saya ini menganggap bahwa apa yang tengah saya alami dan sudah lalui dalam menghadapi persoalan ini, adalah tindakan yang sudah tepat.

"Jadi, kamu benar-benar sendirian menghadapi orang tua gadis itu?"

"Iya, Yai," jawaban saya yang singkat begini rasanya seperti tidak memuaskan beliau.

"Apa yang membuatmu sedemikian nekat 'nembak cewek melalui orangtuanya' begitu, Led?"

Sebelum menjawab, saya menunduk malu. Mencari-cari jawaban yang tepat, karena saya memang tak tahu kenapa beberapa hari sebelum sampai sini, saya nekat mendatangi orang tua dan menanyakan soal anak gadisnya. Oh, maaf, maksud saya, salah seorang anak gadisnya karena orang tua itu punya beberapa anak gadis.

"Saya tidak begitu paham mengapa saya berlaku begitu, Yai. Saya juga tak begitu mengerti mengapa saya bisa jadi seberani itu. Saya," mendadak saya bingung bagaimana melanjutkannya. Lalu terbersit begitu saja kalimat ini dan saya utarakan segera, "Saya merasa jatuh cinta dan saking ingin menunjukkan keseriusan saya, saya memilih jalur dengan menemui orangtuanya, bukan si gadisnya lebih dulu."

Jujur saja saya keringatan saat pembicaraan sampai di sana. Andai saja ini kali pertama saya bertemu sang kiai, mungkin saya sudah gemetaran tak jelas. Untungnya, saya merasa memiliki kedekatan yang cukup, yang membuat saya merasa tenang meski grogi.

Tujuan saya sowan ke sana, adalah untuk meminta semacam doa, sekaligus pandangan mengenai gadis yang telah membuat saya jatuh hati. Kenapa meminta pandangannya sama kiai ini dan bukan sama, misal, teman-teman si gadis? Saya tak tahu. Saya melakukannya hanya karena saya tahu kiai ini juga kiai si gadis. Maaf, apakah diksi barusan cukup bisa dipahami?

Saya kemudian memperoleh banyak masukan dan pandangan, termasuk penilaian sang kiai terhadap si gadis. Saya diberitahu di bagian mana kelemahan si gadis, mana kekurangannya, mana sisi negatifnya. Sampai pada akhirnya, sang kiai berkata,

"Kalau kamu yakin betul sanggup menerima gadis dengan sifat-sifatnya itu, silakan kamu lanjutkan, saya dukung seratus persen!" Agak lega saya mendengar kalimat ini.
Sebelum obrolan berakhir, saya sempat diberi saran untuk melakukan beberapa hal, serta diberitahu bahwa orangtua si gadis, kemarin lusa sebelum kedatangan saya ke ndalem sang kiai, juga sempat ke sana lebih dulu.

Azan maghrib, pada akhirnya mengantarkan saya keluar dari ndalem sang kiai. Saya pamitan dan saat bersalaman, saya terus diingatkan untuk tak pernah berhenti berdoa.

Sampai di rumah, saya merasa lega karena setidaknya saya tak mendengar ada larangan bagi saya untuk melanjutkan 'misi asmara' ini dengan si gadis.

Usai melakukan salat maghrib hari itu di rumah, saya menyeduh kopi. Lalu dari saku kemeja saya keluarkan sebungkus rokok. Saat itulah saya merasa begitu bodoh lagi malu, rupanya saya membawa pulang rokok Surya 16 lengkap beserta korek api Cricketnya.

"Ya Allah! Iki rokok plus korek'e kiaine."

*Pertama kali diunggah melalui akun facebook pribadi
Read more...

Pohon Mangga

July 10, 2018 0
Sekitar seminggu yang lalu, kakak perempuan saya membeli pohon mangga. Sampai detik ini saya belum sempat menanyakan, mangga jenis apakah itu. Yang jelas, sore hari semingguan lalu tersebut, suami kakak saya menanam pohon mangga itu di pelataran rumah.
Pelataran rumah yang baru ditanami pohon mangga

Kalau kalian sudah berkawan dengan saya lebih dari sepuluh tahun silam, kalian barangkali masih bisa mengingat bahwa dulu, di tempat yang sama, pernah ada pohon mangganya juga. Dan, karena penanaman mangga ini di tempat dan titik yang sama persis, saya pun jadi teringat pohon mangga yang dulu. Sayang, saya tak berhasil menemukan foto pohon mangga yang dahulu.

Mengapa dulu pohon mangga itu ditebang? Setahu saya, itu disebabkan karena akan dipakainya pelataran rumah untuk menjemur kain batik abstrak "kriwilan". Karena urusannya untuj pekerjaan, bapak saya dulu harus "membunuh" pohon tersebut.

Apa efeknya? Tentu kalian bisa menebak dengan benar lagi gampang: depan rumah jadi terasa lebih panas. Betul. Memang begitu dan memang itulah tujuan pohon itu ditebang, biar pelataran panas dan bisa difungsikan untuk menjemur kain batik tadi.

Efek lain yang tidak terlalu ketara, adalah bahwa semenjak pohon itu ditebang, rumah saya jadi gampang berdebu. Saya dulu tak begitu menganggap hal ini sebagai masalah. Karena? Ya karena debu-debu itu setiap hari dibersihkan oleh kakak perempuan dan ibu saya.

Saya dulu tak merisaukan debu-debu yang setiap hari mengotori jendela dan pintu rumah, mengotori teras, dan seterusnya. Kakak perempuan dan ibu saya, selalu menyelesaikan persoalan debu ini.

Hari ini, barangkali kalian yang membaca ini sudah tahu bahwa kakak perempuan saya itu sudah tinggal bersama suaminya di lain rumah ini. Dan, awal Ramadan lalu, ibu saya meninggal, menyusul bapak saya yang lebih dulu meninggal enam bulan sebelumnya. Di rumah, tinggallah saya dengan adik saya yang juga laki-laki, hanya berpaut usia 1,5 tahun.

Debu-debu jalanan depan rumah, masih beterbangan dan hinggap di banyak celah rumah yang saya tempati. Sedari dulu, sejak pohon mangga dulu ditebang. Hari-hari ini, di samping saya terus belajar mengurus persoalan dapur, saya juga sudah mulai belajar menangani debu-debu yang mengotori rumah saya. Tentu saja pembelajaran ini saya selingi pula dengan terus belajar menjadi suami Salikhah, demi suksesnya menjadi bapak rumah tangga penuh cinta~

Penanaman pohon mangga baru semingguan lalu oleh kakak saya itu, bagi saya begitu memberi makna yang dalam. Saya bahkan berikrar di hati bahwa pohon mangga yang baru ini, akan saya rawat sampai kapan pun. Setiap pagi dan sore, saya selalu menyiraminya dengan air bersih.

Tadi sore, saya agak telat menyirami pohon mangga ini. Saya bahkan hampir lupa, kalau saja tak diingatkan oleh Shalikhah. Kamu, sudah tahu, kan, siapa Shalikhah?

*pernah dipublikasikan di laman Facebook pribadi.
Read more...

Sunday, 9 July 2017

Bukan Kodrah Lurah Desa Simbang Wetan

July 09, 2017 0
 
Jum’at siang, saya terkaget-kaget karena melihat ratusan orang berkumpul di Balai Desa Simbang Wetan, desa saya tinggal. Sejenak kemudian, kekagetan saya berubah menjadi kebahagiaan melihat warga di desa saya yang berkumpul di Balai Desa tersebut. Senang sekali rasanya, akhirnya warga sedesa saya ini mau berkumpul dalam sebuah forum penting. Bukan, ini bukan acara pemilihan kepala desa baru atau yang kerap kami sebut “kodrah lurah” itu. Melainkan ini adalah perkumpulan warga yang entah apa sebabnya, akhirnya mau berkumpul demi menimba ilmu, ilmu soal jurnalistik.

Ya, betul sekali. Ratusan warga di desa saya tersebut berkumpul untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik. Yang paling bahagia dari antusiasme masyarakat desa Simbang Wetan ini tentu saja adalah para mahasiswa KKN dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan yang menginisiasi program pelatihan tersebut. Namun demikian, kebahagiaan saya tak kalah besar dibanding yang mereka rasakan.

Sebagai pemuda warga desa Simbang Wetan, saya turut bahagia melihat keadaan ini. Inilah perubahan. Inilah langkah yang menuju pada kemajuan desa. Inilah apa yang disebut sebagai semangat masyarakat dalam menatap masa depan.

Kita tahu bahwa hidup di zaman sekarang, kita sebagai manusia memang perlu melek terhadap teknologi. Lebih dari itu, kita pun perlu melek dalam dunia jurnalistik agar kita sama-sama bisa mengoreksi setiap kejadian, mencatatkan peristiwa, dan saling berbagi kabar dengan baik, tidak menyinggung dan memojokkan salah satu pihak. Melek media, menjadi sebuah pintu gerbang bagi masyarakat agar tidak mudah termakan isu-isu negatif terlebih isu tak berdasar, isu bohong atau hoax.

Pukul setengah dua siang usai Jumatan, ratusan warga di desa saya ini sudah duduk rapi di dalam gedung Balai Desa. Di bagian kiri, duduk warga perempuan dari desa kami. Sedangkan di barisan kanan, para lelaki duduk manis, saya berada di barisan ini bersama pemuda lain seusia saya, bersama sahabat-sahabat saya di Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Semuanya, berkumpul menjadi satu dalam ruangan tersebut, mulai dari remaja, pemuda, hingga bapak-bapak dan ibu-ibu. Sungguh, bagi kedua mata saya, pemandangan ini jauh lebih indah dari segala pemandangan apapun atas nama alam. Inilah pemandangan alam yang sesungguhnya.

Lima menit lewat dari jam setengah dua, beberapa mahasiswa KKN IAIN Pekalongan maju ke depan menghadap kami. saya hitung jumlah mahasiswa yang maju ke depan tersebut ada 5 orang. Dua di antaranya, keduanya perempuan, kemudian memilih berdiri dan segera mengucapkan salam sebagai pertanda dimulainya kegiatan pelatihan jurnalistik yang mereka gagas tersebut.

Sedangkan tiga temannya yang lain, satu di antaranya (seorang perempuan juga) menghadap layar laptop, ialah yang mengatur slide presentasi yang layarnya terpampang di sudut ruangan yang cukup gelap. Sisanya, dua mahasiswa duduk sambil tiada henti mengulas senyum seakan pertanda bahwa mereka begitu bahagia melihat animo masyarakat desa saya atas program mereka.

Kedua mahasiswa yang sedari tadi tersenyum manis itu kemudian diberi waktu untuk mulai memaparkan satu demi satu materinya. Secara bergantian, kedua mahasiswa tersebut nampak begitu kompak. Jika diibaratkan, mereka nyaris seperti dua vokalis yang tengah berduet. Berhubung keduanya adalah lelaki, saya membayangkan keduanya adalah Mike Shinoda dan Chester Bennington, duo pentolan band asal Amerika, Linkin Park.

Materi demi materi disampaikan dengan sangat rapi oleh kedua mahasiswa yang rupanya kedua mahasiswa ini adalah mahasiswa pascasarjana yang sudah cukup lama menggeluti dunia tulis menulis, terutama dunia jurnalistik. Si “Mike Shinoda” pada akhirnya menutup materinya dengan kutipan yang ia ambil dari perkataan Imam Al Ghazali tentang menulis yang kira-kira begini: “Jika kau bukan anak seorang raja atau ulama, maka menulislah.”

Tanpa dikomando terlebih dahulu, ratusan peserta yang kesemuanya adalah warga desa Simbang Wetan itu bertepuk tangan. Seakan semua warga tersebut mengamini segala apa yang diucapkan oleh pemateri. Terlebih, seakan para warga desa Simbang Wetan ini benar-benar paham sepenuhnya apa yang telah disampaikan oleh kedua pemateri kita. Saya pun ikut bertepuk tangan. Bukan untuk pemateri, tetapi untuk semangat para warga desa saya tadi yang sejak acara dibuka, semuanya dengan antusias memerhatikan penjelasan pemateri sambil sesekali mencatat sesuatu di buku catatan yang diberikan oleh penyelenggara, yaitu para mahasiswa KKN itu.

Ah, senang sekali rasanya saya menyaksikan hal ini. Bagi saya, ini merupakan hari paling menyenangkan dibanding hari-hari lain. Inilah Jumu’ah Mubarokah yang sesungguhnya. Jumat yang penuh dengan keberkahan nan sejati. Hari Jumat adalah hari besar bagi umat Islam, pun bagi warga desa saya Simbang Wetan karena sebagian besar masyarakatnya memiliki hari libur pada hari Jumat tiap minggunya. Namun, dari kesekian hari Jumat yang pernah saya lalui, ini merupakan hari Jumat terbesar. Ingin sekali rasanya saya meneriakkan takbir di gedung Balai Desa ini.

Berikutnya, belum sempat saya meneriakkan takbir, dua mahasiswa perempuan sang pembawa acara tadi, salah satunya kini mengambil alih forum dan menjadi moderator jalannya pelatihan jurnalistik ini. Ia membuka sesi tanya-jawab. Saat ia melemparkan kepada seluruh peserta, banyak sekali peserta yang kesemuanya merupakan warga desa ini mengangkat tangan sebagai tanda ingin bertanya. Tangan saya juga ikut saya angkat karena memang ada yang ingin saya tanyakan.

Saat seorang mahasiswa lain menyerahkan microphone kepada saya, saya diminta berdiri untuk memperkenalkan diri sekaligus dipersilakan untuk bertanya.

Saat itulah, sayup-sayup telinga saya mendengar suara Emak saya memanggil. Tak selang berapa lama, suara Emak saya kian jelas dan kian keras.

“Lha wis ra, tangi. Jumatan! Wis jam setengah rolas kae wis adzan mesjid’e.”

Bukannya segera menuju kamar mandi untuk segera mandi Sunnah Jum’at, saya justru termenung. Mengingat-ingat jalannya mimpi barusan. Saat Emak saya sekali lagi memanggil saya, barulah saya bangkit dan mengumpat, “Asem!” Bukan saya tujukan ke Emak saya, ya. Itu umpatan saya tujukan ke diri saya sendiri yang baru saja menemu mimpi paling buruk sepanjang masa; mimpi dapat mengumpulkan ratusan warga desa Simbang Wetan dalam forum keilmuan.

*Tulisan ini pertama kali diterbitkan melalui akun Facebook pribadi saya.
Read more...

Wednesday, 19 April 2017

Service Redmi Note 4 Mati Total (Softbrick dan Hardbrick)

April 19, 2017 3
Punya HP Andorid Xiaomi Redmi Note 4 Mati Total, gan? Silakan simak cerita berikut ini...
Xiaomi Redmi Note 4. Sumber gambar: www.singlecliq.com
Sekitar enam minggu yang lalu dari hari ini (20 April 2017) atau tanggal antara awal-pertengahan Maret 2017, saya mengalami masalah pada ponsel Xiaomi Redmi Note 4 (selanjutnya akan saya tulis Note4 saja) saya. Note4 tersebut mati total secara mendadak. Mendadak yang benar-benar mendadak. Kejadian sebelum "kematiannya" pun sangatlah tak terduga. Note4 tersebut benar-benar mendadak M-A-T-I-T-O-T-A-L alias mati total alias MATOT!

Saya pun segera mendatangi sebuah counter servis ponsel di dekat rumah saya. Saya pernah punya pengalaman menyerviskan ponsel milik keponakan saya di counter tersebut. Waktu itu ponselnya Samsung Galaxy Young 2 dan juga mati total. Di tempat servis ini, hanya butuh empat hari, ponsel milik keponakan saya itu dapat disembuhkan dan dihidupkan kembali dan kembali normal.

Berdasar pengalaman itulah, maka ketika saya mengalami kerusakan pada Note4 saya tadi, segera saya bawa ke tempat servis yang saya maksud. Namun nahas, counter tersebut saat saya datangi 2-3 kali, dalam kondisi tutup. Dan berhubung saya tahu bahwa counter tersebut memiliki cabang yang di-handle oleh adik dari pemilik counter itu sendiri, saya segera melesat ke counter cabang ini. Dan di sanalah ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya ini saya serah dan pasrahkan. Seminggu berlalu, saya tak mendapati kabar. Hingga di hari ke sepuluh, saya minta penjelasan di counter cabang ini dan segera direspon bahwa segala jenis pengobatan software sudah dicobanya, tapi belum berhasil. Penjaga counter meminta waktu, kalau saya perbolehkan, ia akan mengoperasi bagian hardwarenya. Saya pun tanpa pikir panjang, langsung mengiyakan. Karena dalam pikiran saya, yang penting sembuh.

Seminggu berikutnya, saya datangi counter ini dan hasilnya nihil. Penjaga counter bahkan mengaku menyerah dan tak mampu membenahi penyakit Note4 saya tersebut. Dengan perasaan yang teramat kecewa, saya pun membawa pulang gadget saya itu.

Hanya berselang beberapa jam kemudian, saya teringat bahwa ada counter servis hape yang cukup populer sebagai tukang servis yang dapat diandalkan. Lokasi counter ini masih terhitung dekat dengan rumah saya meski beda kelurahan. Tanpa ba-bi-bu saya pun segera meluncurkan diri menuju counter ketiga ini. Di dalam counter, saya disambut oleh seorang perempuan yang seingat saya ia dulu seangkatan saya waktu MTs (saya dulu enggak sekolah SMP, bro. Fyi..)

Kebetulan, di counter ketiga ini juga pas ada orang teknisinya. Saya pun menceritakan bagaimana kronologi "kematian" hape Xiamoi Redmi Note 4 milik saya itu. Saya ceritakan bagaimana awal mulanya sampai bisa mati total mendadak begitu, yang hanya berselang beberapa menit sejak saya pakai dan masukkan ke saku baju kemeja saya, mendadak kemudian itu ponsel mati. Saya utarakan juga bahwa di counter servis sebelumnya, ia gagal dibenahi.

Sang teknisi nampak meyakinkan meski dari segi penampilan, ia cukup mirip dianggap seorang Punk. Bahkan telinganya terdapat lubang besar untuk pearcing. Pergelangan tangannya pun penuh dengan gelang-gelang bermacam-macam, karet, besi, kawat, bracelett, dan seterusnya. Pria teknisi ini menanggapi keluhan saya dengan sangat baik dan cukup meyakinkan. Akhirnya saya mantap bahwa di counter inilah, ponsel Note4 saya pasti bisa "dibangkitkan".

Sekira seminggu kemudian, sebelum saya berangkat PKD (yang kisahnya sedikit saya singgung di sini), saya menanyakan ke counter ini bagaimana kondisi ponsel saya melalui sms. Jawaban dari counter tersebut, ponsel saya masih "on proses" (penulisannya yang paling tepat mungkin "on process"). Saya yang sejatinya berharap bahwa ponsel akan sembuh sebelum PKD, akhirnya sedikit putus asa nan kecewa. Tapi biarlah, intinya saya masih cukup yakin bahwa di counter tersebut ponsel Note4 saya itu bisa benar-benar hidup lagi.

Lima hari kemudian, saya menanyakan lagi bagaimana kondisinya. Kali ini melalui telpon. Dijawab oleh orang counter itu (suara lelaki yang saya yakin bukan si teknisinya), bahwa ponsel saya rupanya "jeroannya remuk". Saya shock, jujur saja. Bagaimana bisa bagian dalam ponsel remuk, sedangkan ia tak pernah berkontraksi dengan benda-benda keras selama di tangan saya. Saya pikir, ini pasti terjadi mungkin pas dalam perjalanannya dari pabrik hingga ke gerai ponsel yang menjualnya. Atau, bisa jadi karena ia ponsel buatan Cina. Hmmm... Baiklah, tak mengapa. Saya, intinya kemudian, meminta kepada pihak counter untuk menyervis hape tersebut sampai jadi dan benar-benar jadi.

Beberapa hari berikutnya, saya kembali menanyakan kabar ponsel Note4 saya. Katanya masih belum jadi dan masih diproses. Penjawab juga memberi saya pilihan, apakah mau diambil saja apa gimana. Saya jawab, coba diusahakan lagi.

Kemudian, dua hari lalu (18 April 2017), saya iseng-iseng menanyakan di group Xiaomi Redmi Note 4 yang ada di Facebook. Di sana, saya melemparkan tanya yang intinya "Apa yang harus saya lakukan terhadap Redmi Note 4 yang mendadak mati total, selain menjualnya?" Cukup banyak yang merespon pertanyaan saya ini dari yang serius hingga yang sekadar guyon belaka. Dari group Facebook ini, saya kemudian mengenal seorang yang mengaku sebagai tukang service hape. Saya sebetulnya sangat tertarik untuk mencoba membawa ponsel Note4 saya ke sana. Tapi  sampai hari ini, saya belum melakukannya lantaran ponsel tersebut masih di counter tadi.

Tadi sekitar 3-4 jam lalu dari saya menuliskan ini atau pagi jam 9-10 tadi, saya mendatangi counter di mana ponsel saya sedang direparasi. Di counter ini saya kembali bertemu dengan perempuan yang dulu seangkatan saya itu. Dari perempuan ini, saya diberi nomor milik sang teknisi untuk menanyakan langsung bagaimana kondisinya.

Sampai di rumah, saya pun segera menanyakan melalui sms. Dan dijawab bahwa ia memang memakan waktu cukup lama karena beberapa komponen di dalam ponsel ini, perlu diganti. Ketika saya singgung mengenai biaya operasinya, ia menjawab "...antara 500-700an." Saya lumayan kaget, itu sudah sepertiga harga ponselnya. Ckckckckck..

Sudah, ya. Sebaiknya kalian yang membaca ini mendukung tulisan-tulisan yang saya ikutkan di kontes blog agar menjadi juara. Buat apa? Lha itu tadi, kalau juara, duitnya mau saya pakai untuk bayar biaya service ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya.

Hufttth...
Read more...

Tuesday, 28 March 2017

Ahok? Siapa tuh?

March 28, 2017 0
Gambar dari tabloidjubi.com
Sejak awal Pak Ahok tersandung kasus yang menyinggung soal agama, saya sudah yakin dan mantap untuk tidak mau ambil peduli mengomentarinya. Karena saya sadar betul, ada pilihan lain yang lebih perlu saya komentari, terlebih, pihak berwenang telah menangani kasus Pak Ahok tersebut dengan cepat, tegas dan serius. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan kasus-kasus sejenis, yang "menyakiti" minoritas.

Secara pribadi, saya tak menyukai Pak Ahok sehebat apapun beliau dalam menahkodai suatu wilayah. Ketegasan yang sering diunggulkan oleh para pendukungnya pun bahkan sama sekali tak meningkatkan minat saya untuk lantas mengaguminya. Pak Ahok, tanpa perlu saya koreksi nilai-nilai minusnya pun sudah tentu kita semua tahu di mana titik negatif beliau. Kecuali, mata kita buta.

Pada akhir tahun lalu, saat kasus Pak Ahok mulai meramai di media dan obrolan-obrolan di warung kampung, saya bahkan tak menyebut nama atau kasusnya dalam tulisan saya di suatu media. Tak bukan dan tak lain adalah saya hanya ingin mengurangi banyaknya kueri yang mengarah atas namanya. Yang demikian, saya benar-benar menghindari.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati pesan privasi melalui inbox dari salah seorang kawan sekaligus guru sekaligus motivator saya untuk menuliskan sebuah artikel singkat mengenai "Perbedaan Pendapat". Tanpa menunda-nunda, saya pun segera menuruti permintaannya. Namun, saat tulisan baru sampai separuh, saya bertanya-tanya, ini konteks perbedaan pendapat dalam hal apa?

Ketika pertanyaan tersebut saya utarakan kepada seorang guru sekaligus kawan sekaligus motivator tadi, saya diberitahu bahwa hal tersebut menyangkut kesaksian salah seorang Ulama dalam kasus Pak Ahok dengan Ulama lain. Seketika, minat saya untuk melanjutkan tulisan langsung runtuh. Walhasil, tanpa meminta maaf kepada sang guru sekaligus teman sekaligus motivator tadi, saya segera menutup tulisan setengah jadi itu dengan kata "Rausah teruske sek."

Ini saya anggap sebagai sikap agar saya yang sedari awal memang acuh tak acuh terhadap Pak Ahok, tetap seperti itu. Saya tak ingin ikut-ikutan, terlebih secara serius mengomentari urusan yang sudah ditangani secara profesional oleh yang berwenang dan berhak. Memang, saya, seperti rakyat pada umumnya, boleh-boleh saja mengomentari atau bahkan menghujat bagaimana proses keberlangsungan kasus yang dalam beberapa catatan pengamat muslim, mampu menggerakkan massa sedemikian besar itu.

Kita ini seringkali meneriakkan kebebasan tapi kita sendiri pula yang seringkali memaksakan orang lain untuk tidak bebas. Kita dalam hal ini adalah kita semua, lepas dari sepakat atau tidaknya, mengakui atau tidaknya. Di sisi lain, kita pun gemar meneriakkan perdamaian tapi menyelipkan kebencian dalam teriakan-teriakan kita.
Sejak pemilihan presiden 2 tahun lebih yang lalu, Indonesia ini kian berisik saja masyarakatnya. Yang paling menyedihkan dari keberisikan ini adalah bahwa orang-orang ini (saya, kalian, dan kita semua), lebih suka keberisikan dengan nada saling serang. Sudahlah, bawa kesini muka kalian yang mengaku anti-serang, biar saya pisuhi: Hypocrite!

Sejak tahun 2014 tersebut lah, Indonesia mengalami banyak kenaikan-kenaikan yang terkoreksi negatif. Pengguna internet sejak 2014 hingga 2016 di Indonesia meningkat pesat. Penetrasinya tercatat mencapai 51 persen lebih atau sekitar 80an juta pengguna. Seiring bertumbuhnya pengguna internet kita ini, saya kok agak yakin bahwa orang-orang yang "berperang" ini juga otomatis semakin banyak. Apalagi jika melihat bahwa peperangan yang terjadi, lebih sering terjadi di atas ring yang disebut "Media Sosial".

Indonesia pada hari ini, hanya ada dua kelompok besar yang mana keduanya saya anggap adalah sekumpulan banyak orang-orang bodoh dan dungu dan goblok dan tolol dan sejenisnya. Dua kelompok besar ini, dalam hal apa saja selalu berbeda. Dan perbedaan keduanya, selalu berujung pada keributan. Dan keributannya ini dipertontonkan secara tanpa malu di media-media. Lantas, dengan sangat dungunya mereka ini berkata, "Sudahlah mari kita berdamai".

Damai ndasmu kotak!

Perdamaian yang konon indah itu, saya kira hanya akan menjadi utopis bagi bangsa kita. Bangsa yang bahkan sampai saat ini belum jelas arahnya mau bagaimana, meski sudah pernah dipimpin oleh berbagai jenis kepala, ini sejatinya belumlah sempurna disebut bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang menjadi penyadaran bagi saya adalah di situ. Saya ini jauh dari ibukota Jakarta dan juga masih seperti dahulu (mengharamkan kaki menginjak tanah Jakarta). Kalau saya ikut-ikutan menghabiskan pikiran untuk memikirkan urusan di sana, lha ini yang mau peduli pabrik-pabrik kain mori di Pekalongan siapa? Yang mau memikirkan bagaimana desa saya ini menjadi tempat sampah berbagai warga di sekitar desa Simbangwetan, siapa?

Orang cerdas yang sok bijak tentu akan menertawakan pertanyaan remeh saya ini sembari berkata, ya adakalanya kita mikir lingkungan kita, dan adakalanya pula kita mikirin yang jauh-jauh.
Baik, saya sepakat dengan jawaban orang cerdas sok bijaksana tersebut. Tapi bukan Jakarta yang perlu saya bantu pikirkan. Yang lebih jauh dari Jakarta, masih banyak yang perlu dipikirkan. Salah satunya; kejahatan-kejahatan busuk di tanah Papua. Kamu, mau, ikut mikirin mereka?

PLER!
Read more...

Monday, 27 March 2017

Sajak Wagu Karya Leluhur

March 27, 2017 0
Ini adalah sebuah contoh sajak yang entah ditulis oleh siapa, saya menemukannya di antara serak-serakan kertas kusam di suatu ruangan rumah saya. Sajak yang menurut saya sendiri bahkan sangat wagu ini sengaja saya poskan di sini demi sekadar mencari tahu kalau-kalau penulis sajak nan wagu ini suatu hari membaca pos ini. Ini dia!
SW?
Aku sedah begitu yakin akan sebuah cinta
Jiwa dan ragaku, kini telah memiliki satu rasa
Engkaulah yang bagiku satu dari satu-satunya asa
Nada dan irama kini menjadi nyata
Gemuruh menggemakan sukma

Untung dan rugi hanyalah perhitungan matematika
Tiada rumus untuk menghitung sebuah rasa
Apalagi sekadar permainan-permainan logika
Mereka semua hanyalah hiasan yang menghiasiku belaka
Indahmu, bagiku kini, melebihi segalanya

Demi cinta yang aku entah ada dan tiada di dalamnya
Engkaulah yang tiada satu pun kecuali Engkau sendiri bagi semesta
Waktu yang telah lampau mengajariku banyak suka dan duka
Inilah saatnya jiwa dan raga dipersatukan dalam seikat cinta
Saya mengira bahwa itu tulisan lawas leluhur saya entah kakek atau bahkan buyut saya yang pada waktu menuliskan sajak wagu di atas, dalam konsisi antah berantah.

Kepada siapa pun Engkau wahai penulis sajak wagu ini, lihatlah! Lihatlah kini sajakmu kuabadikan ke dalam sebuah laman pribadiku. Kau harus tahu, Kawan, anak-cucumu barangkali perlu membaca sajak wagumu tersebut dengan cucuran air mata bahagia karena bangga memiliki leluhur seluhur Engkau!

Salam. 
Read more...

Friday, 24 March 2017

Menulis itu Mudah!

March 24, 2017 0
Ketika kalian membaca judul artikel ini, apa yang sepintas melintas dalam otak kalian? Silakan jawab di kolom komentar, nanti seusai kalian baca keseluruhan isi artikel ini. Sementara, lanjutkan saja aktivitas membaca artikel ini.
Gambar dibikin di www.postermywall.com
Saya bukan seorang penulis hebat layaknya Arman Dhani. Wait, doi penulis hebat, bukan? Sudah, anggap saja beliyaw adalah seorang penulis haibat yang pernah saya dan kita temui di jagad raya bumi yang bulat atau datar ini. Saya sama sekali jauh secara kualitas, kuantitas, serta gantengitas jika dibanding dengan salah satu jurnalis sekaligus kolumnis situsweb tirtoID tersebut. Dan sejujurnya artikel ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Arman Dhani atau tirtoID sendiri. Heh? Apa-apaan kalian?! Kalian enggak kenal Arman Dhani?! What the hhhhh... ..hawlawalaquwwataillabillah~~

Begini, Sodara-sodaraku sekalian. Saya mengatakan bahwa menulis itu mudah, ini bukan tanpa alasan. Saya berani menyatakan demikian karena saya sudah melepaskan yang namanya target kualitas sebuah tulisan dalam pernyataan saya. Artinya, yang saya maksud dengan menulis itu perkara yang mudah, adalah menulis serampangan seperti yang saya lakukan saat menuliskan artikel ini. Meski demikian, saya akan menjabarkan lebih jauh alasan yang mendasari saya berani-beraninya mengatakan bahwa menulis itu mudah.

Pertama kali, biar sedikit saya menceritakan pengalaman menulis saya pertama kalinya yang saya mulai dari sebuah perguruan tempat saya sekolah. Ia bukan perguruan tinggi karena memang nama sekolah saya sewaktu itu ada kata “Perguruan”nya. Di sekolah tersebut, saya pernah beberapa kali masuk menjadi semacam anggota OSISnya sekolah umum. Dari menjadi anggota--yang saya akan menyebutnya dengan--komite siswa tersebut saya belajar bagaimana merancang sebuah program kerja, lalu mempersidangkannya bersama seluruh komite siswa lain (terdiri dari umumnya organisasi seperti ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi dan seterusnya), di mana dalam persidangan tersebut, seluruh isi program kerja saya dikritik sekritis-kritisnya oleh anggota lain, pu sebaliknya yang pada intinya kami saling kritik. Beuh, semacam sidangnya para anggota dewan, yah? Y.

Pada pengalaman pertama saya menjadi anggota komite siswa, saya hanya mengikuti alur permainan para pendahulu atau senior-senior saya. Dalam hal ini mengenai bagaimana bagan atau organ dibuat untuk menjelaskan teks-teks program kerja yang saya ajukan, dan bagaimana kemudian program-program tersebut disidangkan (sidang dalam hal pembahasan program ini ada 4 kali yaitu pleno, evaluasi pertama pada caturwulan pertama, evaluasi kedua serta evaluasi ketiga yang sekaligus laporan pertanggungjawaban a.k.a LPJ).

Pada tahun kedua, saya membuat semacam keunikan dalam menyajikan naskah laporan program kerja. Ini terjadi lantaran setiap diksi yang dijadikan laporan program kerja oleh anggota lain, narasinya seragam seperti misalnya “Program ini bertujuan untuk bla bla bla…” Nah, saya tidak menarasikan seperti seksi-seksi lain dalam membuat laporan program kerja tadi. Saya memilih menarasikannya dengan diksi-diksi yang sepuitis mungkin atau setidaknya berbeda dengan diksi pada umumnya.
Awalnya apa yang saya lakukan ini dikritik keras oleh banyak teman-teman sekomite siswa tadi, terutama oleh Sekretaris. Terlebih, mereka keberatan karena laporan saya jadi berlipat-lipat halaman dibanding laporan yang lain. Namun saya keukeuh untuk tetap mengajukan laporan tersebut sesuai diksi saya. Dan ketika disidangkan di hadapan seluruh komite siswa, guru-guru dan pengasuh kami, laporan yang kami buat justru menuai nilai positif dari mayoritas mereka. Saya senang. Hingga rasa senang tersebut memuncak manakala beberapa seksi lain, di periode berikutnya mengikuti jejak saya tersebut.

Bagaimana saya mempelajari penulisan semacam itu?

Suatu kali, saya pernah diberi tugas non-formal oleh salah seorang kawan saya yang saat ini telah sedang menjadi guru Sastra Indonesia di sebuah sekolah negeri di kota saya. Kawan saya yang usianya 6 tahun di atas saya tersebut menyuruh saya menuliskan apapun yang terbersit dalam benak saya setiap kali ia menyebutkan suatu kata. Pada saat itu, ia pertama kali menyebut “gelas”.

Tahu kalian, apa yang saya sebutkan? “Gelas adalah sebuah peralatan yang dipergunakan untuk meminum air, kopi, teh dan lain-lain.” Selanjutnya, barangkali jika waktu itu sudah zamannya kita berseloroh “Krik..krik..krik..” atas suatu perkataan yang garing dan tidak kreatif apalagi inovatif, teman saya tadi mungkin akan segera meng-krik..krik..krik..-an saya. Tapi tidak. Ia justru menertawakan saya. Ia tertawa lantaran saya kehabisan kata-kata hanya sekadar untuk menjelaskan kata “gelas”.

Saya kemudian diberitahu bahwa sebaiknya, saya tidak menggunakan kata “adalah” atau “ialah”, “yaitu”, dan sejenisnya setiap kali menjelaskan sesuatu. Karena dengan memilih kata tersebut, otak kita hanya akan terpaku pada pengertian umumnya saja. Cobalah, kata teman saya tadi, untuk menjelaskan suatu kata dengan diksi lain yang lebih luas, merinci, dan berekor-ekor.

Dengan contoh “gelas” tadi, ia berkata begini, “gelasku berwarna bening sedangkan gelasmu berwarna pekat, ini terjadi karena gelas di hadapanku dijadikan tempat untuk menuang jus, sedangkan gelas pekatmu dijadikan untuk menuang kopi. Kita tahu bahwa tempat kopi tidak dinamakan gelas lagi meskipun dari marga yang sama-sama bisa disebut gelas, namun lebih tepat jika untuk kopi kita sebut sebagai cangkir. Begitu pula untuk teh, cangkir.”

“Lihat. Saya pun memasukkan unsur-unsur yang kamu sebutkan tadi seperti ‘tempat’, air, kopi dan teh. Dan apa yang saya katakan jelas lebih panjang dari sekelumit istilah gelas yang kamu sampaikan tadi.” Katanya kemudian sambil terkekeh. Saya ikut mengekehkan diri sekaligus mengumpat, asu bergumam menyebut nama Tuhan.

Sekarang, lupakan kisah saya di komite siswa, dan lupakan pula obrolan saya dengan teman gila yang seorang guru Sastra Indonesia tadi. Lupakan saja semua itu dan mari kita kembali kepada tema yang hendak saya sampaikan mengenai “Menulis itu Mudah”.

Menulis itu mudah karena pertama, kita jangan sekali-kali menganggap bahwa menulis itu susah, sukar, sulit, berat, dan seterusnya. Yang pertama kali perlu kita tekankan pada otak kita adalah bahwa menulis itu mudah, atau sangat mudah. Jika kita sudah mampu membikin anggapan semacam itu, kita tinggal memilih suatu pokok tema yang ingin kita tulis tanpa perlu menentukan kapan waktunya. Kalian akan menjadi penulis professional kalau setiap aktivitas menulis kalian harus dijadwal. Penulis hebat itu tak harus professional dan tak harus memiliki jadwal ketat apalagi sampai ada deadline kapan tulisan harus selesai. Percayalah, membuat deadline hanya akan menyengsarakan kita sendiri. Yang terpenting, tulislah sesuai pokok tema yang telah ditentukan dengan dasar awal bahwa “menulis itu mudah”.

Selanjutnya, jika dalam perjalanannya kalian menemukan suatu masalah misalnya kehabisan diksi (saya sebetulnya kurang yakin ada istilah
“kehabisan diksi” ini), silakan kalian berhenti sejenak dan keluarlah dari dunia tulis-menulis. Termasuk membaca, juga hindari. Pergilah keluar dan hirup udara yang penuh polusi di kota kalian, selama semau kalian. Jangan kembali untuk menulis lagi kalau mood menulismu belum terkumpul. Tenang saja, ketika kalian sudah memantapkan diri menganggap bahwa menulis itu mudah, kalian akan dengan mudah menemukan mood menulis kapan saja.

Jika sudah terkumpul mood menulis kalian, segera manfaatkan ia sebaik-baiknya. Tulis sebanyak-banyaknya tanpa pedulikan jadwal makan (kecuali makan sahur, kalian harus tahu bahwa ada keberkahan dalam makanan sahur), kencan (kalau kalian non-jomblo), nonton sinetron (kalau kalian Emak-emak), dan segala bentuk aktivitas tersier semacam itu. Hindari itu semua. Tapi untuk aktivitas-aktivitas primer, ya tetap dahulukan. Contohnya, disuruh ibu kalian untuk memarut kelapa (asli saat menulis sampai di sini, saya disuruh Emak saya buat marut kelapa. Beuh.)

Kalau kalian dapat membendung keinginan-keinginan semu untuk memuaskan nafsu kalian melakukan aktivitas tersier seperti di atas, tentu kalian akan dengan lancar jaya menyelesaikan tulisan kalian. Saran saya, beri sedikit data mengenai tulisan saya. Data referensi. Terutama jika tulisan kalian adalah untuk dipublikasi sebagai bentuk informasi. Kan wagu misalnya kalian menulis artikel berita, tapi tidak ada sumber referensi yang dapat dipercaya serta data yang kredibel. Jangan seperti saya menuliskan ini yang sama sekali tanpa referensi.

Pada akhirnya, saya selesai menuliskan artikel tentang “Menulis itu Mudah” ini dengan lega. Meski saya sebenarnya hanya membual tak jelas arahnya, setidaknya saya berhasil membuat artikel yang ideal karena memiliki total kata lebih dari 1000 kata. Saya, memang termasuk orang yang mematok standar jumlah kata untuk tulisan saya. Yaitu minimal 888 kata dan tanpa memberi batas maksimal. Mengapa? Karena, konon, sekali lagi konon, mesin pencari gemar merayapi artikel yang ketat, seksi, bahenol, nyempluk, ginuk-ginuk, semok, dan… Wait, wait, wait, ini ngomongin artikel apa sedang membahas hashtag #OpenBO sih?
Hambuh, Jon!

Betewe, kalau kalian enggak percaya bahwa tulisan saya ini lebih dari 1000 kata, silakan kalian cek jumlah kata, karakter, dan lain-lain di kotak penghitung jumlah kata di sini.

See!
Read more...

Thursday, 23 March 2017

Perbedaan Artikel Kontes dan Pribadi

March 23, 2017 1
Beberapa hari ke belakang, saya menuliskan artikel-artikel (ada yang berbentuk narasi sebuah cerita), yang sengaja saya tulis untuk saya ikutkan ke kontes menulis atau kontes blog. Tulisan ini saya bangun berdasarkan pengalaman hari-hari tersebut di mana saya memang merasa perlu mengikuti kontes-kontes semacam itu.
Sumber gambar: The Write Practice
Saya memiliki alasan mengapa saya mau menulis artikel yang saya ikutkan untuk kontes atau lomba atau apapun penyebutannya. Bagi saya secara pribadi, menulis untuk diikutkan ke sebuah kontes, adalah “selingan” daripada lelah menuliskan artikel yang dituntut originalitasnya oleh banyak pakar SEO. Mengapa saya anggap “selingan”? Ya karena memang sekadar selingan agar blog pribadi saya tidak melulu berisi tulisan-tulisan curhatan yang tidak terlalu penting. Seperti tulisan ini, yang sebenarnya hanya sekadar curhatan yang tidak terlalu penting.

Tapi begini maksud saya, Sodara-sodara yang berbahagia. Menulis artikel untuk kontes, rupanya memiliki perbedaan jika dibanding menulis artikel biasa yang tidak untuk diikutkan kontes. Ada kesan berbeda, menulis artikel untuk kontes jika dibandingkan dengan menulis untuk dipublikasikan sendiri tanpa diikutsertakan lomba atau kontes. Saya mencatat ada beberapa perbedaan dalam hal semacam ini.

Pertama, menulis artikel untuk kontes selalu terpaku pada suatu pokok tema tertentu. Kalian yang pernah atau sering menulis artikel untuk kontes, tentu paham bagaimana mereka yang mengadakan kontes selalu tidak membebaskan kita untuk membahas tema semau kita. Pada kontes yang diadakan oleh perusahaan, bahkan sering yang intinya tulisan kita harus memuat “hal-hal baik” mengenai perusahaan yang bersangkutan.

Sedangkan dalam menulis artikel yang tidak diikutsertakan pada kontes atau lomba, kita dapat menentukan sediri tema apa yang ingin kita tulis. Kita bisa pada hari ini menulis tentang “tata cara menulis dengan baik dan benar” di blog kita, lalu besok secara semena-mena kita menulis artikel lain yang tidak ada kaitannya dengan artikel pertama, misalnya “kiat-kiat menjadi jomblo berkualitas”.

Pada kesimpulannya, perbedaan mengenai menulis artikel untuk kontes atau lomba dan menulis tidak untuk lomba yang pertama yaitu bahwa tema artikel untuk kontes terbatas. Sedangkan tema artikel yang kita tulis bukan untuk lomba lebih bebas.

Kedua, deadline atau batas waktu. Kita tidak bisa semau-mau kita menuliskan artikel untuk kontes yang memiliki deadline pada akhir bulan Maret ini misalnya, kita menulis artikelnya pada pertengahan April. Tentu artikel yang kita tulis melewati deadline yang ditentukan pihak penyelenggara kontes tidak mungkin dapat diikutkan ke kontes yang bersangkutan.

Beda dengan artikel yang tidak akan kita ikutkan ke kontes. Kita dapat dengan semau kita menentukan deadline sendiri. Misal, kita ingin menuliskan artikel berkualitas (informatif, aktual, faktual serta bukan hoax) mengenai suatu tema tertentu, maka kita dapat menentukan kapan saja kita akan menulis serta mempublikasikannya. Deadline alias batas akhirnya kita sendiri yang menentukan. Bahkan untuk ukuran pemalas seperti saya dapat menentukan batas akhir penulisan artikel tahun depan meski pengumpulan data sudah mencapai 95 persen. Atau, bisa juga kita tidak memberikan deadline kapan kita akan mempublikasikan tulisan kita karena intinya, blog-blog gue, tulisan-tulisan gue, bebas dong mau gue publikasikan kapan aja! Cih!

Intinya, untuk menulis artikel untuk kontes, kita dibatasi oleh waktu, selain tema seperti pada poin pertama tadi. Sedangkan untuk artikel yang bukan untuk kontes, kita bebas menentukan sendiri deadline-nya atau bahkan tanpa deadline sekalipun.
Dua poin tersebut, tidak berguna bagi kalian yang tidak memiliki blog pribadi. Kalian yang blog atau situswebnya “barengan” alias satu digarap banyak orang, tentu punya kebijakan-kebijakan sendiri terkait tema yang akan dituliskan serta deadline waktunya. Artinya, ini juga tidak berlaku bagi penulis-penulis pada media tertentu yang biasanya para penulis ini sudah memakai standar kaidah jurnalisme yang ketat.
Ketiga, artikel yang kita ikutkan untuk kontes biasanya kita tulis dengan terpacu oleh hadiah. Nah, ini terserah kalian mau mengakui atau tidak, tapi saya cukup yakin bahwa kalian tidak mungkin menulis artikel kontes tapi tidak mengharapkan hadiahnya. Sudah, jujur dan mengakulah. Biar saya ada temannya. Karena, saya pun beberapa hari lalu ketika gencar mengikuti kontes-kontes itu, ya merasa terpacu menulis oleh hadiah yang disediakan penyelenggara. Hehehehe.

Ini tentu berbeda dengan tulisan kita yang tidak kita niati untuk kontes. Tulisan bebas kita yang hanya sekadar untuk memperbanyak post di blog kita, tidak kita harapkan akan memperoleh hadiah. Mentok, semisal kita harapkan hadiah, paling sekadar hadiah komentar dari pembaca atau pengunjung yang membaca artikel kita cukup banyak, di atas 1.000.000 pembaca misalnya. Yang jelas, kita tidak mengharapkan hadiah yang spesifik layaknya artikel untuk lomba yang biasanya berhadiah menggiurkan seperti misal hadiahnya iphone 9 (eh, ada belum iphone 9?) dan lain-lain.

Kesimpulan poin ketiga ini yaitu bahwa saat menulis artikel untuk kontes, kita terpacu menulis dengan baik karena adanya hadiah, meski hadiah tersebut masih sekadar harapan karena belum tentu kitalah yang akan mendapatkannya. Sedangkan saat menulis artikel yang tidak akan kita ikutkan kontes, kita tak memiliki harapan akan adanya hadiah dari siapapun. Kecuali, kecuali tentu saja kalian memiliki pasangan (baca: pacar/istri/suami) yang siap memberi hadiah tiap kali kalian update artikel di blog kalian. Ada?

Keempat, memberikan backlink ke penyedia kontes. Sebelum saya terangkan, kalian sedikitnya sudah paham, kan? Nah, iya. Begitu. Tiap kontes yang biasanya diadakan oleh instansi atau perusahaan tertentu, pastinya berharap Domain Authority (DA) untuk situsweb mereka naik. Salah satu cara menaikkan DA, menurut beberapa pakar SEO, kan dengan mendapatkan backlink dari berbagai pihak. Kalian, saat menuliskan artikel untuk kontes, kan artikelnya pasti berbau yang baik-baik tentang instansi atau perusahaan yang mengadakan kontes. Iya, kan? Nah, di situlah. Konten yang kalian tulis untuk kontes adalah hal-hal baik di mana beberapa kata dalam artikel tersebut kalian tanami backlink yang mengarah ke situsweb mereka. Jelas mereka diuntungkan oleh hal seperti ini, dan ini seringkali menjadi peraturan wajib yang tak boleh dilanggar oleh peserta atau kalian akan segera didiskualifikasi jika nekat melanggarnya. Eh, bener nggak, sih?

Bedanya dengan artikel yang tidak untuk kontes. Kalian tidak diwajibkan menanam backlink ke mana pun. Kalian paling banter, merasa perlu memberi backlink ke situs-situs besar semacam Wikipedia untuk meyakinkan pembaca. Dan ini bukan merupakan kewajiban. Kalian boleh-boleh saja tidak menyertakan backlink yang mengarah ke situs lain meskipun kalian menjadikan situs lain tersebut sebagai referensi tulisan kalian. Badewei, saya teranggap enggak suka kalau kalian menuliskan artikel yang diksinya memiliki referensi tapi kalian tidak menyertakan link referensi tersebut pada artikel kalian. Itu copas yang tidak dianjurkan, Sodara!

Pada kesimpulannya, artikel yang kita tulis untuk ikut kontes, selalu mewajibkan kita menanam backlink pada suatu bagian tertentu yang kita arahkan ke situsweb yang mengadakan kontes yang intinya agar situsweb mereka dikenal “situsweb baik-baik” oleh berbagai robot-robot di mesin pencari. Sedangkan artikel kita yang tidak kita kehendaki untuk kontes, kita bebas untuk menanam backlink atau tidak.


We help carve your future. oleh Em Choled


Begitulah kira-kira dalam pandangan saya mengenai perbedaan artikel kontes dan pribadi. Ada barangkali perbedaan lain yang ada dalam pikiran kalian. Silakan kalian tambahi melalui komentar (kurang dianjurkan), atau melalui tulisan lain dengan bahasa kalian sendiri (sangat dianjurkan).

Terakhir, satu hal yang saya gemari dari mengikuti kontes menulis semacam itu adalah saya jadi memiliki tambahan wawasan karena suatu tema atau topik yang mereka (penyelenggara kontes) patok seringkali suatu hal yang tak banyak saya ketahui yang akhirnya saya jadi membaca lebih banyak mengenai suatu tema tersebut untuk referensi. Serta, saya jadi belajar bagaimana menjadi penulis professional karena saya yakin setiap penulis professional selalu memiliki target suatu tema tertentu dan memiliki deadline yang juga menjadi harga mati baginya.
 
Sekian.
Terimakasih. 
Salam,
Em.
Read more...