Tuesday, 10 July 2018

Sowan Kiai Simbang Wetan

July 10, 2018 0
Sudah sebulan lalu, saya memberanikan diri untuk sowan kepada salah seorang kiai yang masih tergolong muda di desa saya. Seperti lazimnya awam, saya sowan memang tengah dilanda sebuah problematika. Dan problem yang menghantarkan jiwa dan raga saya sowan ke ndalem sang kiai adalah problematika pemuda tangguh pada umumnya: asmara.
Sowan

"Gimana, Led? Ada 'something'?" Saya belum juga meletakkan duduk saat ditanyai seperti itu. Sedikit cengengesan, saya menjawab,

"Nggih, Yai. Biasa, tiyang nem kados kula niki nek mriki kan nggih mbethane masalah mawon," saya dapat melihat sang kiai tersenyum saja sebelum akhirnya pamit ke belakang. Lalu balik lagi dengan menenteng sebungkus rokok Surya 16.

Melihat yang demikian, saya juga mengeluarkan 3 bungkus rokok. Dua di antaranya saya tak doyan; Djarum, yang memang sengaja saya bawa untuk saya tinggal di ndalem sang kiai. Sedang yang satu, rokok buat gegayaan saja; Sampoerna Mild.

Saya dan sang kiai, kemudian mulai membahas permasalahan yang tengah saya hadapi. Permasalahan yang sebetulnya bisa dianggap bukan permasalahan besar. Bahkan, sang kiai muda di hadapan saya ini menganggap bahwa apa yang tengah saya alami dan sudah lalui dalam menghadapi persoalan ini, adalah tindakan yang sudah tepat.

"Jadi, kamu benar-benar sendirian menghadapi orang tua gadis itu?"

"Iya, Yai," jawaban saya yang singkat begini rasanya seperti tidak memuaskan beliau.

"Apa yang membuatmu sedemikian nekat 'nembak cewek melalui orangtuanya' begitu, Led?"

Sebelum menjawab, saya menunduk malu. Mencari-cari jawaban yang tepat, karena saya memang tak tahu kenapa beberapa hari sebelum sampai sini, saya nekat mendatangi orang tua dan menanyakan soal anak gadisnya. Oh, maaf, maksud saya, salah seorang anak gadisnya karena orang tua itu punya beberapa anak gadis.

"Saya tidak begitu paham mengapa saya berlaku begitu, Yai. Saya juga tak begitu mengerti mengapa saya bisa jadi seberani itu. Saya," mendadak saya bingung bagaimana melanjutkannya. Lalu terbersit begitu saja kalimat ini dan saya utarakan segera, "Saya merasa jatuh cinta dan saking ingin menunjukkan keseriusan saya, saya memilih jalur dengan menemui orangtuanya, bukan si gadisnya lebih dulu."

Jujur saja saya keringatan saat pembicaraan sampai di sana. Andai saja ini kali pertama saya bertemu sang kiai, mungkin saya sudah gemetaran tak jelas. Untungnya, saya merasa memiliki kedekatan yang cukup, yang membuat saya merasa tenang meski grogi.

Tujuan saya sowan ke sana, adalah untuk meminta semacam doa, sekaligus pandangan mengenai gadis yang telah membuat saya jatuh hati. Kenapa meminta pandangannya sama kiai ini dan bukan sama, misal, teman-teman si gadis? Saya tak tahu. Saya melakukannya hanya karena saya tahu kiai ini juga kiai si gadis. Maaf, apakah diksi barusan cukup bisa dipahami?

Saya kemudian memperoleh banyak masukan dan pandangan, termasuk penilaian sang kiai terhadap si gadis. Saya diberitahu di bagian mana kelemahan si gadis, mana kekurangannya, mana sisi negatifnya. Sampai pada akhirnya, sang kiai berkata,

"Kalau kamu yakin betul sanggup menerima gadis dengan sifat-sifatnya itu, silakan kamu lanjutkan, saya dukung seratus persen!" Agak lega saya mendengar kalimat ini.
Sebelum obrolan berakhir, saya sempat diberi saran untuk melakukan beberapa hal, serta diberitahu bahwa orangtua si gadis, kemarin lusa sebelum kedatangan saya ke ndalem sang kiai, juga sempat ke sana lebih dulu.

Azan maghrib, pada akhirnya mengantarkan saya keluar dari ndalem sang kiai. Saya pamitan dan saat bersalaman, saya terus diingatkan untuk tak pernah berhenti berdoa.

Sampai di rumah, saya merasa lega karena setidaknya saya tak mendengar ada larangan bagi saya untuk melanjutkan 'misi asmara' ini dengan si gadis.

Usai melakukan salat maghrib hari itu di rumah, saya menyeduh kopi. Lalu dari saku kemeja saya keluarkan sebungkus rokok. Saat itulah saya merasa begitu bodoh lagi malu, rupanya saya membawa pulang rokok Surya 16 lengkap beserta korek api Cricketnya.

"Ya Allah! Iki rokok plus korek'e kiaine."

*Pertama kali diunggah melalui akun facebook pribadi
Read more...

Pohon Mangga

July 10, 2018 1
Sekitar seminggu yang lalu, kakak perempuan saya membeli pohon mangga. Sampai detik ini saya belum sempat menanyakan, mangga jenis apakah itu. Yang jelas, sore hari semingguan lalu tersebut, suami kakak saya menanam pohon mangga itu di pelataran rumah.
Pelataran rumah yang baru ditanami pohon mangga

Kalau kalian sudah berkawan dengan saya lebih dari sepuluh tahun silam, kalian barangkali masih bisa mengingat bahwa dulu, di tempat yang sama, pernah ada pohon mangganya juga. Dan, karena penanaman mangga ini di tempat dan titik yang sama persis, saya pun jadi teringat pohon mangga yang dulu. Sayang, saya tak berhasil menemukan foto pohon mangga yang dahulu.

Mengapa dulu pohon mangga itu ditebang? Setahu saya, itu disebabkan karena akan dipakainya pelataran rumah untuk menjemur kain batik abstrak "kriwilan". Karena urusannya untuj pekerjaan, bapak saya dulu harus "membunuh" pohon tersebut.

Apa efeknya? Tentu kalian bisa menebak dengan benar lagi gampang: depan rumah jadi terasa lebih panas. Betul. Memang begitu dan memang itulah tujuan pohon itu ditebang, biar pelataran panas dan bisa difungsikan untuk menjemur kain batik tadi.

Efek lain yang tidak terlalu ketara, adalah bahwa semenjak pohon itu ditebang, rumah saya jadi gampang berdebu. Saya dulu tak begitu menganggap hal ini sebagai masalah. Karena? Ya karena debu-debu itu setiap hari dibersihkan oleh kakak perempuan dan ibu saya.

Saya dulu tak merisaukan debu-debu yang setiap hari mengotori jendela dan pintu rumah, mengotori teras, dan seterusnya. Kakak perempuan dan ibu saya, selalu menyelesaikan persoalan debu ini.

Hari ini, barangkali kalian yang membaca ini sudah tahu bahwa kakak perempuan saya itu sudah tinggal bersama suaminya di lain rumah ini. Dan, awal Ramadan lalu, ibu saya meninggal, menyusul bapak saya yang lebih dulu meninggal enam bulan sebelumnya. Di rumah, tinggallah saya dengan adik saya yang juga laki-laki, hanya berpaut usia 1,5 tahun.

Debu-debu jalanan depan rumah, masih beterbangan dan hinggap di banyak celah rumah yang saya tempati. Sedari dulu, sejak pohon mangga dulu ditebang. Hari-hari ini, di samping saya terus belajar mengurus persoalan dapur, saya juga sudah mulai belajar menangani debu-debu yang mengotori rumah saya. Tentu saja pembelajaran ini saya selingi pula dengan terus belajar menjadi suami Salikhah, demi suksesnya menjadi bapak rumah tangga penuh cinta~

Penanaman pohon mangga baru semingguan lalu oleh kakak saya itu, bagi saya begitu memberi makna yang dalam. Saya bahkan berikrar di hati bahwa pohon mangga yang baru ini, akan saya rawat sampai kapan pun. Setiap pagi dan sore, saya selalu menyiraminya dengan air bersih.

Tadi sore, saya agak telat menyirami pohon mangga ini. Saya bahkan hampir lupa, kalau saja tak diingatkan oleh Shalikhah. Kamu, sudah tahu, kan, siapa Shalikhah?

*pernah dipublikasikan di laman Facebook pribadi.
Read more...

Wednesday, 19 July 2017

Media Sosial untuk Berbisnis? Belajar di Dumet School!

July 19, 2017 0

Mengenal Social Media
Generasi milenial yang terlahir antara tahun 80an dan 90an tentu saja saat ini menjadi generasi terdepan di berbagai kemajuan dunia. Seorang programmer komputer yang dikenal berkat social media Facebook, Mark Zuckerberg, merupakan salah satu generasi ini yang memiliki pencapaian luar biasa dalam kemajuan teknologi khususnya teknologi berbasis jaringat internet.

Dalam sebuah situsweb Zephoria, disebutkan bahwa pada Maret 2017 lalu, pengguna aktif Facebook mencapai 1,94 miliar pengguna atau naik sekitar 18 persen dari tahun sebelumnya. "Facebook is too big to ignore." begitu kata penulis berita tersebut dalam mengomentari penaikan pengguna Facebook tersebut. Di sana juga disebutkan tak kurang dari 20 fakta-fakta menarik lainnya mengenai perkembangan Facebook seperti salah satunya, ada sekitar 300 juta foto diupload ke situs jejaring tersebut tiap harinya.

Melihat hal tersebut kita sebagai manusia yang hidup di zaman sekarang, sudah selayaknya mulai serius membaca statistik semacam itu untuk keperluan kemajuan diri kita. Potensi kita sebagai manusia perlu kita beri ruang dan terus kita asah agar kita tidak selamanya hanya menjadi pengguna social media yang hanya sekadar ikut-ikutan meramaikan, apalagi digunakan untuk hal-hal yang berkonotasi negatif.

Keberadaan social media semacam Facebook (juga social media lain seperti Instagram, Twitter, Youtube dan seterusnya) perlu kita manfaatkan untuk keperluan hal-hal yang positif. Di antara hal-hal positif tersebut yaitu misalnya kita pergunakan akun media sosial kita sebagai lahan berbisnis. Yang kita harus sadari dalam hal ini adalah adanya potensi besar untuk mengembangkan bisnis kita melalui social media. Strategi berjualan melalui social media menjadi hal lain yang harus kita geluti dan pelajari secara serius jika kita ingin benar-benar memanfaatkan keberadaan media sosial saat ini.

Social media yang memiliki pengaruh luar biasa bagi keberlangsungan hidup, bagi dalam ranah pendidikan, peningkatan ekonomi, maupun penyebaran informasi, harus betul-betul kita manfaatkan sebaik-baiknya. Kecenderungan kita akan hal-hal negatif seperti pesimisme harus kita singkirkan jauh-jauh. Karena sejatinya melalui social medialah kita benar-benar memiliki ruang yang luas untuk menjaring dan menjalin relasi seluas mungkin. Jika relasi telah berhasil kita bangun, selanjutnya kita perlu menerapkan strategi berbisnis kita melalui media sosial yang di dalamnya telah terjadi hubungan antara kita pemilik satu akun dengan pemilik akun lain baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Langkah Strategis Memulai Bisnis dengan Social Media
Lalu, bagaimanakah strategi yang tepat untuk membangun sebuah bisnis atau beberapa bisnis dengan memanfaatkan media sosial? Di bawah ini akan saya sampaikan beberapa poin penting sebelum kita memutuskan untuk fokus lebih jauh ke arah bisnis berdasar media sosial.

Pertama, pahami bagaimana fitur-fitur dan perbedaan tiap-tiap media sosial.
Yang saya amati, meski alurnya sama (sama-sama menghubungkan satu akun --baik individu maupun kelompok-- dengan akun lain) tiap media sosial memiliki kinerjanya masing-masing. Di Instagram kita tidak menemukan adanya forum-forum berupa grup layaknya di Facebook. Pun di Twitter, kita tidak bisa mengunggah foto atau video dengan menambahkan caption panjang lebar layaknya di Instagram ataupun Facebook.

Dalam riset kecil-kecilan saya, rupanya tidak semua pengguna Facebook merasa nyaman dengan fitur-fitur yang ada di Twitter. Di lingkungan saya yang masih tergolong pedesaan, orang-orang merasa lebih nyaman bermain media sosial Facebook daripada Twitter. Dari 10 orang (semuanya termasuk generasi milenial dari berbagai golongan strata sosial berbeda-beda) yang saya tanyai tentang manakah media sosial (pilihan yang saya berikan adalah Facebook, Instagram atau Twitter) yang menurut mereka mudah dan nyaman dioperasikan, 4 orang menjawab Facebook, 4 orang yang lain menjawab Instagram, dan hanya 2 orang terakhir menjawab Twitter.

Pertanyaan berikutnya yang saya ajukan kepada 10 orang tersebut yaitu "Jika diurutkan, ketiga media sosial tadi mana yang paling nyaman dan mudah digunakan dan mana yang paling tak nyaman dan sulit?" 7 dari orang tadi menjawab bahwa Facebook merupakan media sosial termudah untuk dioperasikan dan nyaman bagi mereka, sedangkan yang tersulit adalah Twitter. 2 orang lainnya menjawab bahwa Instagram adalah yang termudah dan Twitter yang tersulit. Hanya 1 orang yang menganggap bahwa Twitter adalah yang termudah, dan simple, katanya.

Dari riset kecil-kecilan tersebut saya menyimpulkan bahwa bagi masyarakat di lingkungan saya, Facebook menjadi primadona. Apa indikasinya? Menurut pengamatan saya, itu karena Facebook bisa diakses dari berbagai jenis platform ponsel baik mulai dari Java, Symbian, melalui komputer, atau tentu saja Android dan iOS. Selain itu, barangkali faktor bahwa Facebook lebih dulu lahir menjadi indikator lain yang mendukung mengapa Facebook menjadi unggulan.

Tak berhenti sampai di situ, saya melanjutkan riset kecil-kecilan tersebut untuk mengarah kepada orang-orang kelas tertentu yang telah memulai belajar berjualan melalui media sosial. Saya mengambil sample 5 orang yaitu 1 seorang supplier dan 4 yang lain merupakan reseller produk. Dari ke-5 orang tersebut, 3 di antaranya menjawab bahwa Facebook menjadi media sosial yang paling mudah untuk menjaring konsumen. Sedangkan 2 selainnya menjawab Instagram. Tak ada satu pun yang menjawab Twitter.

Memang, di Facebook kita dengan mudah dapat menemukan forum-forum jual beli. Di sana orang-orang saling berjual beli barang tertentu. Dan hampir di setiap regional, memiliki forum-forum serupa sebagai "pasar online" masyarakat untuk saling berjual beli. Dari beberapa forum yang saya masuki, semakin banyak member forum/grup tersebut, maka semakin tinggi pula aktivitas jual beli di sana.

Kesimpulan sederhananya; Facebook dapat kita jadikan patokan untuk memulai mengiklankan produk kita jika kita hendak berjualan. Di sana, kita tinggal mencari forum jual beli yang kita inginkan untuk menjual produk yang sesuai dengan identitas forum tersebut. Sudah ada banyak sekali ragam identitas forum-forum itu mulai dari forum jual beli pakaian hingga burung kicau.

Kedua, menentukan produk yang akan kita jual.
Langkah berikutnya yang perlu segera kita lewati yaitu menentukan produk apa yang akan kita jual melalui media sosial yang telah kita pahami perbedaan serta fitur-fiturnya. Tentukan apakah kita akan menjual produk fisik seperti pakaian, perlengkapan otomotif, perlengkapan komputer, dan lain-lain, ataukah kita akan menjual jasa seperti misalnya jasa pijat urut, jasa angkutan, dan jenis jasa lain yang bisa kita tawarkan melalui social media.

Apabila kita memilih untuk menjual barang, maka kita juga perlu menentukan langkah lain yaitu apakah kita akan menjual barang produk kita sendiri ataukah kita akan menjual produk milik orang lain? Singkatnya, apakah kita akan menjadi supplier ataukah kita akan menjadi reseller/dropshipper. Untuk menjual produk buatan kita sendiri, tentu saja akan membutuhkan modal yang tidak sedikit. Misalkan kita akan menjual pakaian, maka setidaknya kita telah kulakan terlebih dahulu pakaian yang akan kita jual dari pasar atau dari supplier maupun produsen.

Berbeda jika kita hendak menjadi reseller, maka yang perlu kita lakukan cukup menghubungi supplier yang membuka ruang bagi reseller untuk bekerjasama. Ada banyak supplier yang saat ini membuka diri untuk diajak bekerjasama dengan reseller. Dari berbagai produk yang bisa ditemukan di pasaran, hampir kesemuanya akan dapat kita temukan supplier yang mau bekerjasama jika kita mau menjadi resellernya.

Saya yang tinggal di Pekalongan, saat ini juga tengah menjadi reseller produk pakaian yaitu Batik. Beberapa tetangga saya yang memiliki stock Batik banyak di toko maupun di kios-kios pasar, saya hubungi dan saya secara lisan menjalin kontrak hubungan untuk menjadi resellernya. Di sini, saya tidak merasa kesulitan untuk menemukan supplier Batik karena memang di sini, di Pekalongan, memang menjadi salah satu pusat industri Batik.

Selain menjual produk fisik seperti pakaian tersebut, kita juga bisa menawarkan jasa. Nah, ini diperuntukkan apabila kita merasa memiliki keterampilan atau keahlian tertentu, kita juga bisa menawarkan jasa keahlian kita melalui forum-forum di media sosial. Namun sebelumnya, kita perlu pula untuk melihat apakah jasa kita bisa laku di luar kota ataukah sebaiknya hanya kita tawarkan di daerah lokal kita tinggal saja. Namun apapun jasa tersebut, saya sepenuhnya yakin bahwa berjualan jasa masih menjadi suatu bisnis yang prospektif dengan memanfaatkan keluasan media sosial.

Kesmipulan; kita tidak perlu bermuluk-muluk terlebih dahulu bahwa kita akan menjual kapal pesiar, misalnya apabila kita memang tidak memiliki keahlian dan pengetahuan yang cukup perihal kapal pesiar. Jual saja barang-barang yang dapat kita jangkau, yang dapat dengan mudah kita temukan di sekitar kita. Jasa pun demikian, jika kita tidak memiliki keahlian atau jasa tertentu yang dapat kita tawarkan, kita tak perlu susah-susah langsung mencoba menawarkan jasa tersebut.

Ketiga, segera mulai.
Tunggu apalagi? Kalau kita sudah yakin mampu memulai berbisnis dengan memanfaatkan social media, maka saat itu pulalah kita sebaiknya segera memulai bisnis tersebut. Jangan ditunda-tunda lagi. Segera iklankan produk kita di forum-forum, di beranda kita dan seterusnya. Saya sendiri demikian, saat saya sudah merasa mampu mengiklankan produk yang tersedia, yang diberikan oleh supplier, maka saya tak menundanya lagi. Yang saya lakukan adalah segera mengunggahnya melalui akun media sosial saya.

Meski saya sudah segera memulainya, pun saya pada akhirnya tetap merasa sedikit kecewa karena saya baru memulainya beberapa bulan silam. Jauh sebelum saya mulai berjualan, banyak teman-teman saya yang lebih dulu memulai berjualan dengan memanfaatkan social media. Dan hampir semua dari teman-teman saya tersebut kini sudah pantas disebut sukses karena telah berhasil memiliki penghasilan sendiri yang cukup besar.

Namun begitu, saya tak patah arang dan atau patah semangat. Justru dengan melihat keberhasilan dan kesuksesan teman-teman saya tersebut saya kemudian memiliki semangat lebih untuk mengejar ketertinggalan. Saya jadikan ketertinggalan ini sebagai cambuk agar saya terus semangat menggeluti bisnis jualan di media sosial ini. Bahkan karena hal ini pula, saya kemudian berinisiatif untuk terus mengembangkan bisnis berjualan saya dengan mulai memproduksi Batik sendiri. Pada usai lebaran tahun ini, saya sudah mulai siap untuk memasarkan produk Batik karya saya sendiri. Semoga juga laku keras. Amin.

Segera memulai apa yang menjadi cita-cita kita memanglah harga mati. Kita tak boleh menunda-nunda hal tersebut terlebih jika ini berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup kita. Dalam berbisnis pun juga demikian, kita tak boleh menunda untuk memulai bisnis yang ingin kita geluti entah itu besok, lusa, apalagi tahun depan. Jangan begitu, kawan. Segera mulailah sekarang. Bangun bisnis kamu mulai sekarang dan nikmati hasilnya segera!

Kesimpulan ringan; hal paling salah dalam berbisnis adalah menunda untuk memulainya. Maka dari itu, menyegerakan untuk memulai bisnis ini sudah selayaknya dilabeli harga mati. Harga mati yang tak bisa ditawar agar kita tersadar bahwa kita memang harus segera memulai bisnis ini sekarang.
Belajar Terus, Terus Belajar Bersama Dumet School
Hal yang tak jarang kita temukan dalam dunia bisnis adalah timbulnya rasa malas untuk terus belajar. Padahal justru di situlah titik paling krusialnya. Kita berhenti belajar, maka kita sama saja membunuh bisnis yang kita bangun. Belajar semestinya menjadi langkah yang terkontinu, yang terus menerus tiada henti, agar senantiasa bisnis yang kita bangun juga tetap bertahan, pun berkembang. Tanpa terus belajar dan belajar terus, agaknya mustahil kita dapat mempertahankan bisnis yang kita bangun.

Belajar menjadi bagian terpenting bagi kita dalam berbisnis. Belajar adalah proses. Belajar adalah kunci utama menuju gerbang kesuksesan. Dalam memahami kegunaan social media, kita juga perlu belajar agar kita tidak terjerumus ke dalam dunia kelam social media, atau setidaknya, kita bisa tahu bagian dari social media yang mana yang perlu kita masuki. Lain dari pada hal itu, kita perlu menemukan tempat belajar yang tepat untuk dapat memanfaatkan social media sebagai media berbisnis.

Di manakah kita belajar memanfaatkan social media untuk berbisnis? Jawabannya barangkali ada banyak. Namun demikian, ada opsi teratas yaitu belajar bersama Dumet School. Mengapa Dumet School? Karena di Dumet School kita dapat mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan dunia bisnis, dunia marketing dengan pemanfaatan social media.

Melalui program Kursus Digital Marketing di Dumet School kita bisa belajar cara mendapatkan customer di internet dengan cepat, mudah dan efektif. Selain itu, apa saja yang akan kita dapatkan dari kursus Digital Marketing di Dumet School


1. Berbagai macam pelajaran.
Dalam program Kursus Digital Marketing di Dumet School kita akan mendapati berbagai macam pengajaran. Dalam situs resminya, tercatat ada 7 (tujuh) pelajaran penting mengenai dunia digital marketing yang tentu saja akan sangat membantu kita dalam penguasaan dunia digital khususnya ranah bisnis.

Ke tujuh pelajaran tersebut yaitu Wordpress, Search Engine Optimization (SEO), Facebook dan Instagram Ads, Youtube Ads, Adwords Search, Email marketing dan Landing page.


2. Akses belajar sepuasnya.
Di Dumet School kita juga memiliki kebebasan akses sepuasnya. Ini ditujukan agar kita yang menimba ilmu di Dumet School benar-benar menjadi orang yang betul-betul memiliki keahlian. Di samping itu, akses belajar sepuasnya ini diharapkan agar kita yang mengambil program Kursus Digital Marketing di Dumet School benar-benar telah menguasai materi bahkan hingga memiliki karya.


3. Akses ke iLab.
Selain akses belajar sepuas kita, program Kursus Digital Marketing di Dumet School juga memiliki tawaran menarik lainnya yaitu akses ke iLab. Sedikit perlu saya jelaskan di sini bahwa yang dimaksudkan dengan iLab tersebut yaitu sistem yang dipakai oleh Dumet School dalam memberikan pelajaran.

Artinya, kita yang mengambil program kursus ini berarti memiliki akses penuh terhadap sistem pembelajaran di manapun berada serta kapanpun waktunya.



4. Bisa mengulang kelas.
Jika dalam sebuah pertemuan kita masih belum benar-benar paham, maka kita bisa mengulang kelas tersebut pada pertemuan lain. Hal ini sangatlah penting untuk sebuah proses pembelajaran. Kita yang sudah memilih tempat kursus harus benar-benar mendapatkan jaminan bahwa kita keluar dari tempat tersebut benar-benar telah menguasai semua materinya.

Untuk itulah dalam program Kursus Digital Marketing di Dumet School kita dapat mengulang kelas (reseat) sepuasnya.


5. Support penuh dari Dumet School.
Sebagai tempat belajar, Dumet School berjanji memberikan dukungan alias support penuh terhadap para murid-muridnya. Itu berarti kita tak perlu ragu atau khawatir bagaimana jika kita yang tak tahu apa-apa soal dunia digital marketing kursus di Dumet School karena di sana kita akan sepenuhnya mendapatkan support penuh.

Dukungan penuh yang dijanjikan oleh Dumet School bukan hanya ketika kita sedang menempuh ilmu di sana saja melainkan selamanya. Iya, selamanya dan seumur hidup. Wah... Mantap, kan?

Di samping itu, selain memperoleh support penuh, kita juga diberi kebebasan untuk berkonsultasi jika dalam perjalanannya kita mengalami problem atas apa yang kita pelajari di Dumet School dalam program Kursus Digital Marketing mereka.


6. Mendapatkan sertifikat resmi.
Terakhir, melalui program Kursus Digital Marketing ini, kita juga akan mendapatkan sertifikat resmi dari Dumet School yang telah memiliki izin dari dinas. Sertifikat ini menjadi bagian penting karena jika setelah selesai kursus di Dumet School dan kita hendak menerapkan ilmu kita untuk menjadi seorang professional bidang digital marketing, kita tentu akan memerlukan sertifikat sebagai bukti bahwa kita pernah benar-benar serius belajar.

Itulah enam hal yang menjadi keuntungan jika kita memilih Dumet School sebagai tempat kursus Digital Marketing kita. Selain ke enam hal tersebut di atas, saya kira ada hal lain yang juga menjadi keuntungannya yaitu kita memiliki relasi baru, kenalan baru, serta tentu saja pengalaman baru. Bagaimanapun, pengalaman juga menjadi satu perkara lain yang tak kalah penting di dunia digital marketing.

Silakan kunjungi website resmi Dumet School jika kalian tertarik mengikuti program yang keuntungan-keuntungannya saya jabarkan di atas. Dalam situs resminya tersebut, kita dapat melihat daftar harga kursus yang ditawarkan Dumet School, waktu pelaksanaan kursus, informasi kontak yang bisa dihubungi, lokasi dan lain-lain. Oh iya, di sana ada juga trial yang bisa kita akses secara gratis. Komplit lah. Hehehe.

Terakhir sebelum artikel ini saya tutup, saya ingin mengutip ucapan milyader paling terkenal sejagad, Bill Gates, bahwa ia pernah berkata “if your business is not on the internet, then your business will be out of your business”. Sebuah ungkapan yang sangat dapat dibenarkan di era sekarang. Untuk itulah, jika kita ingin serius mengembangkan bisnis kita, maka kita memang perlu membawa bisnis kita ke ranah internet.

Media sosial alias social media menjadi bagian terpenting dalam perkembangan dunia digital. Ia senantiasa terus berkembang dan kita harus pintar-pintar memanfaatkannya supaya bisa membuat bisnis kita kian lancar dan berkembang dengan pesat. Dengan belajar digital marketing bersama Dumet School, kita bisa belajar mengembangkan bisnis kita. Kita belajar mengenai strategi pemasaran untuk bisnis kita.

Melalui social media, mari kita bangkitkan dunia bisnis kita!
Read more...

Sunday, 9 July 2017

Bukan Kodrah Lurah Desa Simbang Wetan

July 09, 2017 0
 
Jum’at siang, saya terkaget-kaget karena melihat ratusan orang berkumpul di Balai Desa Simbang Wetan, desa saya tinggal. Sejenak kemudian, kekagetan saya berubah menjadi kebahagiaan melihat warga di desa saya yang berkumpul di Balai Desa tersebut. Senang sekali rasanya, akhirnya warga sedesa saya ini mau berkumpul dalam sebuah forum penting. Bukan, ini bukan acara pemilihan kepala desa baru atau yang kerap kami sebut “kodrah lurah” itu. Melainkan ini adalah perkumpulan warga yang entah apa sebabnya, akhirnya mau berkumpul demi menimba ilmu, ilmu soal jurnalistik.

Ya, betul sekali. Ratusan warga di desa saya tersebut berkumpul untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik. Yang paling bahagia dari antusiasme masyarakat desa Simbang Wetan ini tentu saja adalah para mahasiswa KKN dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan yang menginisiasi program pelatihan tersebut. Namun demikian, kebahagiaan saya tak kalah besar dibanding yang mereka rasakan.

Sebagai pemuda warga desa Simbang Wetan, saya turut bahagia melihat keadaan ini. Inilah perubahan. Inilah langkah yang menuju pada kemajuan desa. Inilah apa yang disebut sebagai semangat masyarakat dalam menatap masa depan.

Kita tahu bahwa hidup di zaman sekarang, kita sebagai manusia memang perlu melek terhadap teknologi. Lebih dari itu, kita pun perlu melek dalam dunia jurnalistik agar kita sama-sama bisa mengoreksi setiap kejadian, mencatatkan peristiwa, dan saling berbagi kabar dengan baik, tidak menyinggung dan memojokkan salah satu pihak. Melek media, menjadi sebuah pintu gerbang bagi masyarakat agar tidak mudah termakan isu-isu negatif terlebih isu tak berdasar, isu bohong atau hoax.

Pukul setengah dua siang usai Jumatan, ratusan warga di desa saya ini sudah duduk rapi di dalam gedung Balai Desa. Di bagian kiri, duduk warga perempuan dari desa kami. Sedangkan di barisan kanan, para lelaki duduk manis, saya berada di barisan ini bersama pemuda lain seusia saya, bersama sahabat-sahabat saya di Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Semuanya, berkumpul menjadi satu dalam ruangan tersebut, mulai dari remaja, pemuda, hingga bapak-bapak dan ibu-ibu. Sungguh, bagi kedua mata saya, pemandangan ini jauh lebih indah dari segala pemandangan apapun atas nama alam. Inilah pemandangan alam yang sesungguhnya.

Lima menit lewat dari jam setengah dua, beberapa mahasiswa KKN IAIN Pekalongan maju ke depan menghadap kami. saya hitung jumlah mahasiswa yang maju ke depan tersebut ada 5 orang. Dua di antaranya, keduanya perempuan, kemudian memilih berdiri dan segera mengucapkan salam sebagai pertanda dimulainya kegiatan pelatihan jurnalistik yang mereka gagas tersebut.

Sedangkan tiga temannya yang lain, satu di antaranya (seorang perempuan juga) menghadap layar laptop, ialah yang mengatur slide presentasi yang layarnya terpampang di sudut ruangan yang cukup gelap. Sisanya, dua mahasiswa duduk sambil tiada henti mengulas senyum seakan pertanda bahwa mereka begitu bahagia melihat animo masyarakat desa saya atas program mereka.

Kedua mahasiswa yang sedari tadi tersenyum manis itu kemudian diberi waktu untuk mulai memaparkan satu demi satu materinya. Secara bergantian, kedua mahasiswa tersebut nampak begitu kompak. Jika diibaratkan, mereka nyaris seperti dua vokalis yang tengah berduet. Berhubung keduanya adalah lelaki, saya membayangkan keduanya adalah Mike Shinoda dan Chester Bennington, duo pentolan band asal Amerika, Linkin Park.

Materi demi materi disampaikan dengan sangat rapi oleh kedua mahasiswa yang rupanya kedua mahasiswa ini adalah mahasiswa pascasarjana yang sudah cukup lama menggeluti dunia tulis menulis, terutama dunia jurnalistik. Si “Mike Shinoda” pada akhirnya menutup materinya dengan kutipan yang ia ambil dari perkataan Imam Al Ghazali tentang menulis yang kira-kira begini: “Jika kau bukan anak seorang raja atau ulama, maka menulislah.”

Tanpa dikomando terlebih dahulu, ratusan peserta yang kesemuanya adalah warga desa Simbang Wetan itu bertepuk tangan. Seakan semua warga tersebut mengamini segala apa yang diucapkan oleh pemateri. Terlebih, seakan para warga desa Simbang Wetan ini benar-benar paham sepenuhnya apa yang telah disampaikan oleh kedua pemateri kita. Saya pun ikut bertepuk tangan. Bukan untuk pemateri, tetapi untuk semangat para warga desa saya tadi yang sejak acara dibuka, semuanya dengan antusias memerhatikan penjelasan pemateri sambil sesekali mencatat sesuatu di buku catatan yang diberikan oleh penyelenggara, yaitu para mahasiswa KKN itu.

Ah, senang sekali rasanya saya menyaksikan hal ini. Bagi saya, ini merupakan hari paling menyenangkan dibanding hari-hari lain. Inilah Jumu’ah Mubarokah yang sesungguhnya. Jumat yang penuh dengan keberkahan nan sejati. Hari Jumat adalah hari besar bagi umat Islam, pun bagi warga desa saya Simbang Wetan karena sebagian besar masyarakatnya memiliki hari libur pada hari Jumat tiap minggunya. Namun, dari kesekian hari Jumat yang pernah saya lalui, ini merupakan hari Jumat terbesar. Ingin sekali rasanya saya meneriakkan takbir di gedung Balai Desa ini.

Berikutnya, belum sempat saya meneriakkan takbir, dua mahasiswa perempuan sang pembawa acara tadi, salah satunya kini mengambil alih forum dan menjadi moderator jalannya pelatihan jurnalistik ini. Ia membuka sesi tanya-jawab. Saat ia melemparkan kepada seluruh peserta, banyak sekali peserta yang kesemuanya merupakan warga desa ini mengangkat tangan sebagai tanda ingin bertanya. Tangan saya juga ikut saya angkat karena memang ada yang ingin saya tanyakan.

Saat seorang mahasiswa lain menyerahkan microphone kepada saya, saya diminta berdiri untuk memperkenalkan diri sekaligus dipersilakan untuk bertanya.

Saat itulah, sayup-sayup telinga saya mendengar suara Emak saya memanggil. Tak selang berapa lama, suara Emak saya kian jelas dan kian keras.

“Lha wis ra, tangi. Jumatan! Wis jam setengah rolas kae wis adzan mesjid’e.”

Bukannya segera menuju kamar mandi untuk segera mandi Sunnah Jum’at, saya justru termenung. Mengingat-ingat jalannya mimpi barusan. Saat Emak saya sekali lagi memanggil saya, barulah saya bangkit dan mengumpat, “Asem!” Bukan saya tujukan ke Emak saya, ya. Itu umpatan saya tujukan ke diri saya sendiri yang baru saja menemu mimpi paling buruk sepanjang masa; mimpi dapat mengumpulkan ratusan warga desa Simbang Wetan dalam forum keilmuan.

*Tulisan ini pertama kali diterbitkan melalui akun Facebook pribadi saya.
Read more...

Monday, 19 June 2017

Gerbang (Gerakan Anak Bangsa) di Pekalongan

June 19, 2017 0


Foto bersama Gerakan Anak Bangsa di Binagriya, Pekalongan
Malam minggu lalu, 17 Juni 2017, saya diajak oleh kawan saya untuk mengikuti sebuah pertemuan yang mana penggagas pertemuan tersebut berasal dari Yogyakarta, bernama Hariyanto (di sana ia dipanggil Mas Har). Pertemuan oleh Gerakan Anak Bangsa (Gerbang) tersebut merupakan pertemuan orang-orang yang aktif sebagai jamaah Maiyahnya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Karena itulah, dalam pertemuan tersebut saya mendapati cukup banyak orang-orang yang saya kenali beberapa tahun ke belakang, menjadi bagian dari penggiat Maiyah Suluk Pesisiran Pekalongan.

Saat tiba di ruang pertemuan tersebut, saya sekali takjub karena ruangan yang dipakai sungguh jenis ruangan yang sangat nyaman untuk sebuah acara-acara semacam diskusi dan sejenisnya. Hampir keseluruhan dinding ruangan tersebut terbuat dari ukir-ukiran kayu yang setiap kali saya amati, saya akui membikin saya mengulang-ulang rasa takjub. Di sana, acara sudah mulai dan tengah ada seorang pria berpeci hitam sedang berbicara. Sejenak, saya belum dapat menangkap apa yang dibicarakan si pria berpeci hitam tersebut.

Barulah setelah saya duduk ala tahiyyat awal dalam salat sekitar 5 menitan, saya mulai dapat menangkap apa yang dipaparkan oleh si pria berpeci hitam. Belakangan, si pria berpeci hitam ini saya ketahui bernama Muhammad Imaduddin (Mas Imad). Dan di belakangnya lagi kemudian saya juga mengerti bahwa ia termasuk kontributor situsweb favorit saya: Mojok.co.

Usai Mas Imad mengakhiri pembicaraannya mengenai kebangsaan, atau kira-kira kondisi bangsa Indonesia saat ini dan tarik ulurnya pada waktu lampau dan terkaan masa depan, disambung oleh pembicaraan Mas Har. Bukan sekadar berbicara layaknya diskusi sederhana, Mas Har juga “beraksi” dengan berdiri di depan salah satu dinding yang telah ditempeli kertas sampul buku berwarna cokelat itu. Ia berbicara sembari menuliskan beberapa hal dan sesekali membentuk diagram-diagram sederhana untuk mempertegas penjelasannya mengenai kebangsaan.

Yang saya catat, Mas Har menguraikan bahwa di Indonesia ini terdapat dua jenis “pemimpin”. Pemimpin yang pertama disebut sebagai pemimpin struktural, gampangnya presiden. Dan pemimpin jenis yang kedua yaitu pemimpin kultural, yang bisa dimaknai sebagai para Imam, Kyai atau Ulama yang menjadi panutan masyarakat. Di antara kedua jenis pemimpin ini, ada celah yang begitu jauh dan runyam sehingga keduanya nyaris tak bisa dipersatukan. Mengapa demikian? Jawabannya karena orientasi kedua jenis pemimpin ini memang jauh berbeda. Yang struktural harus tunduk pada sistem (mudahnya sistem pemerintahan saat ini: demokrasi), sedangkan pemimpin kedua, pemimpin kultural, ingin lebih menonjolkan bahwa mereka lebih tunduk pada Sang Khaliq.

Mas Har kemudain melanjutkan narasinya dengan menyerempet ranah global. Tentang perusahaan multinasional, tentang kongkalikong politisi Indonesia dengan pengusaha, dan seterusnya dan seterusnya. Saya mulai tertarik dan tergugah untuk mencatat sesuatu. Namun sayang sekali, saya hanya membawa sebuah pulpen tanpa buku catatan. Dalam kondisi seperti itu, saya mengumpat keras-keras dalam hati karena tak membawa peralatan tulis menulis untuk mencatat hal-hal yang menurut saya penting untuk dicatat. Kalau kalian berpikir dan bertanya mengapa saya tak mencatat melalui ponsel, jawabannya menyedihkan; ponsel yang saya bawa malam itu merupakan ponsel Nokia 1600.

Akhirnya saya tak peduli dan terus saja menyimak apa yang disampaikan Mas Har. Di tengah penjelasan lanjutannya, tangan kiri saya tiba-tiba tergerak untuk merogoh saku celana kiri saya. Dan agak mengejutkan, di dalam saku celana jins yang sudah 3 bulan tak saya cuci itu saya temukan selembar kertas. Selembar kertas sobekan buku merk Kiky. Saya tersenyum dan segera memanfaatkannya untuk mencatat beberapa hal. Saat itulah saya segera berdzikir menyebut asma Allah.

Mas Har juga menerangkan bahwa inti pergerakan yang tengah dibangun ini bukan pergerakan yang sifatnya eksklusif. Kalau massif, harapannya iya massif, tapi tidak eksklusif. Saya jadi tahu bahwa rupanya inti dari gerakan ini adalah mendorong orang-orang alim-allamah untuk bersatu mengadakan musyawarah yang di dalamnya membahas perihal kebangsaan. Mendorong para ulama untuk mencetuskan ide-ide atau rumusan bagaimana nasib bangsa Indonesia ini ke depannya.

Dalam penjelasannya yang lebih mendetail, pergerakan ini nantinya akan berjalan dalam, setidaknya tiga tahap; pertama, Gerakan Makmuman 1 yaitu gerakan menyadarkan diri sendiri dan lingkungan terdekatnya untuk benar-benar paham serta sepenuhnya sadar bagaimana kita sebagai masyarakat memilih pemimpin yang benar-benar ideal. Kedua, Gerakan Makmuman 2, yaitu kita sebagai masyarakat yang telah sadar bagaimana dan siapa pemimpin yang layak menjadi imam kita, melaksanakan deklarasi; Deklarasi Makmum. Deklarasi bahwa kita, dalam lingakran orang-orang yang telah sepaham dan sekesadaran yang sama, mendeklarasikan bahwa Kyai A, Habib B, Syaikh C atau Imam D dan seterusnya merupakan imam di mana kita berdiri di belakangnya sebagai makmumnya. Ketiga, atau yang menjadi puncak pergerakan ini, yaitu terwujudnya Musyawarah Imam Bangsa. Yaitu adanya musyawarah persatuan antara para Kyai, Habaib, Masyayikh, Aimmah dan seterusnya untuk memusyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan bangsa Indonesia.

Penjelasan Mas Har, semakin ke sini semakin menarik. Terlebih ia memberi selingan guyon-guyon yang menambah kesejukan suasana. Saya terhanyut meski beberapa hal yang disampaikan olehnya ada yang sudah pernah saya dengar dan atau baca di lain tempat dan konsisi, seperti misalnya tentang terrorisme yang sengaja disusupi terroris bikinan barat, tentang kegalauan seorang presiden, dan lainnya.

Mas Har kemudian menutup penjelasannya dan langsung disambung beberapa patah kata oleh seorang yang dipanggil dengan nama Teguh. Mas Teguh dan Mas Hariyanto inilah dua orang penggagas utama Gerakan Anak Bangsa (Gerbang). Sampai saya menuliskan ini, saya masih belum tahu bagaimana latar belakang keduanya secara pribadi. Dan sampai di sini pula, saya belum tertarik untuk menggali kepribadian kedua orang ini. Sejauh yang saya tahu, keduanya merupakan penggiat yang aktif di Maiyah Yogyakarta. Kalau boleh saya sampaikan di sini, orang-orang yang telah aktif sebagai jama’ah Maiyah, memang sering menularkan kesan menyenangkan, bersahabat, humoris, serta nyaman dalam berkomunikasi.

Mas Teguh ini tidak terlalu banyak memaparkan perkara. Saya bahkan tak mencatat apapun dari apa yang disampaikannya. Seingat saya, Mas Teguh lebih banyak bercerita soal pengalamannya bertemu orang-orang di berbagai kota, yang dijelaskan mengenai Gerbang itu sendiri. Mas Teguh, sekali lagi seingat saya, lebih sering bercerita soal bagaimana reaksi orang-orang yang mendengar gagasan tentang Gerbang ini di berbagai kota yang telah dikunjunginya.

Waktu yang kemudian bergulir, akhirnya sampai pada sesi tanggapan atau sejenis tanya-jawab. Saya juga kemudian baru tahu bahwa pertemuan itu, pembawa acaranya adalah Eko Suprihan atau kita panggil saja Mas Eko. Dan tanpa basa-basi, Mas Eko langsung melemparkan waktu kepada seluruh peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk menanggapi, atau bertanya utamanya tentang Gerbang yang runtutannya telah disampaikan oleh Mas Imad, Mas Teguh dan tentu Mas Har.

Saya celingak-celinguk karena jujur saja bingung mau tanya apa. Tapi setelah 10 detik hingga belasan detik tak ada peserta yang angkat tangan setidaknya untuk bertanya. Saya beranikan diri untuk mengangkat tangan. Langsung. Langsung saja saya kemudian gemetar. Entah ini jenis penyakit apa, saya selalu gemetar tiap kali ngomong di depan banyak orang, yang belum terbiasa ngobrol sama saya. Meski begitu, meski terbata-bata, saya akhirnya mampu menyampaikan tiga pertanyaan.

Kurang lebih beginilah pertanyaan saya: pertama, siapa dan bagaiaman kriteria imam yang kita sebagai makmum harus kita pilih? Kedua, apakah kita sebagai makmum ini memiliki kewenangan untuk “menyetir” para imam tersebut? Ketiga, setelah imam-imam itu terpilih dan terbentuk, kita sebagai makmum, harus ngapain?

Ketiga pertanyaan saya tersbut, secara pelan-pelan dijawab oleh Mas Har. Dalam menjawab pertanyaan pertama saya, Mas Har mengatakan bahwa kurang lebih kriteria ulama yang seharusnya kita pilih menjadi imam kita adalah mereka yang sedikit banyak terbukti mampu mengayomi dan mengajak ke jalan Allah. Ini bisa siapa saja, tak harus ulama besar yang memiliki massa ribuan atau jutaan, kyai kampung pun bisa kita pilih untuk menjadi imam kita dan kemudian pada Gerakan Makmuman 2, kita deklarasikan bahwa kyai kampung pilihan kita itulah ulama yang kita ajukan untuk menjadi imam kita.

Pertanyaan kedua dijawab dengan sedikti cerita. Mas Har menggambarkan kita ini mau salat berjamaah. Nah, dalam salat berjamaah ini ketika ada imam yang bacaan dan atau gerakannya salah, maka yang bertanggungjawab untuk membenarkan adalah makmum. Maka dari itu, pertanyaan saya tadi bisa disebut memiliki jawaban bahwa iya, kita sebagai makmum pada imam yang kita pilih, boleh memberi masukan dan kritik apapun terhadap imam kita.

Dan untuk pertanyaan terakhir, yang oleh Mas Teguh dianggap sebagai pertanyaan baru yang di berbagai pertemuan menjelaskan soal Gerbang di lain kota belum pernah ditanyakan, merupakan pertanyaan yang Mas Har dan Mas Teguh belum mampu menjawabnya. Dijelaskan oleh Mas Har kurang lebih begini, intinya kita ini sebagai masyarakat yang mau menyadari bagaimana kondisi bangsa, kita fokus pada prosesnya saja dulu. Persoalan bagaimana nanti hasilnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

“Aku dewe yo jan-jane bingung, Mas. Iki nak wes kelakon ono musyawarah imam bangsa kui terus dewe ngopo, yo?” begitu tukas Mas Har menutup jawaban pertanyaan terakhir saya.

Selanjutnya, masih ada beberapa peserta yang kemudian memberi tanggapan dan juga membuka pertanyaan lain. Dalam catatan saya, ada Mas Ribut Achwandi (penggiat dan pendiri Omah Sinau Sogan/Teater Sinau Sogan), lalu ada pula Ustadz Hamam, Pak Aya’, serta seorang lagi dari Pemalang yang saya lupa namanya.

Pada akhirnya, pertemuan malam itu memang baru sebatas pengenalan dan sedikit penjelasan mengenai bagaimana model pergerakan Gerakan Anak Bangsa (Gerbang) ini akan diwujudkan. Adapun detail teknisnya, diakui oleh Mas Har dan Mas Teguh, memang belum sepenuhnya matang dan masih terus digodok oleh tim lain di Yogyakarta. Catatan pentingnya, barangkali perlu saya sedikit urai di sini, bahwa pergerakan ini memang digagas oleh orang-orang yang dekat dengan Cak Nun serta yang diajak pun lebih banyak orang-orang Maiyah. Di sini, muncul pertanyaan, apakah Cak Nun meyetujui apa yang digagas dan dilakukan oleh orang-orang ini? Mas Har memberi penjelasan bahwa sebelum mengadakan sarasehan pertama di, —kalau tidak salah di Surabaya—terlebih dahulu memberitahu Cak Nun. Dan jawaban Cak Nun adalah; “iki tak sinauni dhisik, kowe juga sinau meneh.” Dan ketika Mas Har kemudian telah mulai berjalan serta mendapati perkembangan yang ada, Mas Har pun melaporkannya kepada Cak Nun. Jawaban Cak Nun, “Sinau terus.”

Yang saya tangkap kemudian adalah, bahwa Gerbang ini memang dibikin bukan untuk menambah keriuhan bangsa. Orang-orang ini, tidak berkehendak untuk membikin bangsa kian riuh dengan mengadakan gerakan-gerakan dalam bingkai demonstrasi. Sama sekali bukan. Pergerakan dalam Gerbang ini, dalam pandangan saya pribadi, merupakan gerakan penyadaran diri sendiri akan pentingnya mengenali siapa diri kita masing-masing, sebelum kita pura-pura mengenal orang lain. Dan juga, Gerbang, barangkali merupakan sebuah gerbang untuk kita terus belajar. Dan barangkali pula, jika gerbang ini telah terbuka, kita akan menemu sebuah kota yang penuh dengan nur, yang memberi penerangan atas jalan kita menuju Allah Yang Maha Esa.
Read more...