An Awesome Writer - Em

Writing Anything Doing Nothing

Gerbang (Gerakan Anak Bangsa) di Pekalongan


Foto bersama Gerakan Anak Bangsa di Binagriya, Pekalongan

Malam minggu lalu, 17 Juni 2017, saya diajak oleh kawan saya untuk mengikuti sebuah pertemuan yang mana penggagas pertemuan tersebut berasal dari Yogyakarta, bernama Hariyanto (di sana ia dipanggil Mas Har). Pertemuan oleh Gerakan Anak Bangsa (Gerbang) tersebut merupakan pertemuan orang-orang yang aktif sebagai jamaah Maiyahnya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Karena itulah, dalam pertemuan tersebut saya mendapati cukup banyak orang-orang yang saya kenali beberapa tahun ke belakang, menjadi bagian dari penggiat Maiyah Suluk Pesisiran Pekalongan.

Saat tiba di ruang pertemuan tersebut, saya sekali takjub karena ruangan yang dipakai sungguh jenis ruangan yang sangat nyaman untuk sebuah acara-acara semacam diskusi dan sejenisnya. Hampir keseluruhan dinding ruangan tersebut terbuat dari ukir-ukiran kayu yang setiap kali saya amati, saya akui membikin saya mengulang-ulang rasa takjub. Di sana, acara sudah mulai dan tengah ada seorang pria berpeci hitam sedang berbicara. Sejenak, saya belum dapat menangkap apa yang dibicarakan si pria berpeci hitam tersebut.

Barulah setelah saya duduk ala tahiyyat awal dalam salat sekitar 5 menitan, saya mulai dapat menangkap apa yang dipaparkan oleh si pria berpeci hitam. Belakangan, si pria berpeci hitam ini saya ketahui bernama Muhammad Imaduddin (Mas Imad). Dan di belakangnya lagi kemudian saya juga mengerti bahwa ia termasuk kontributor situsweb favorit saya: Mojok.co.

Usai Mas Imad mengakhiri pembicaraannya mengenai kebangsaan, atau kira-kira kondisi bangsa Indonesia saat ini dan tarik ulurnya pada waktu lampau dan terkaan masa depan, disambung oleh pembicaraan Mas Har. Bukan sekadar berbicara layaknya diskusi sederhana, Mas Har juga “beraksi” dengan berdiri di depan salah satu dinding yang telah ditempeli kertas sampul buku berwarna cokelat itu. Ia berbicara sembari menuliskan beberapa hal dan sesekali membentuk diagram-diagram sederhana untuk mempertegas penjelasannya mengenai kebangsaan.

Yang saya catat, Mas Har menguraikan bahwa di Indonesia ini terdapat dua jenis “pemimpin”. Pemimpin yang pertama disebut sebagai pemimpin struktural, gampangnya presiden. Dan pemimpin jenis yang kedua yaitu pemimpin kultural, yang bisa dimaknai sebagai para Imam, Kyai atau Ulama yang menjadi panutan masyarakat. Di antara kedua jenis pemimpin ini, ada celah yang begitu jauh dan runyam sehingga keduanya nyaris tak bisa dipersatukan. Mengapa demikian? Jawabannya karena orientasi kedua jenis pemimpin ini memang jauh berbeda. Yang struktural harus tunduk pada sistem (mudahnya sistem pemerintahan saat ini: demokrasi), sedangkan pemimpin kedua, pemimpin kultural, ingin lebih menonjolkan bahwa mereka lebih tunduk pada Sang Khaliq.

Mas Har kemudain melanjutkan narasinya dengan menyerempet ranah global. Tentang perusahaan multinasional, tentang kongkalikong politisi Indonesia dengan pengusaha, dan seterusnya dan seterusnya. Saya mulai tertarik dan tergugah untuk mencatat sesuatu. Namun sayang sekali, saya hanya membawa sebuah pulpen tanpa buku catatan. Dalam kondisi seperti itu, saya mengumpat keras-keras dalam hati karena tak membawa peralatan tulis menulis untuk mencatat hal-hal yang menurut saya penting untuk dicatat. Kalau kalian berpikir dan bertanya mengapa saya tak mencatat melalui ponsel, jawabannya menyedihkan; ponsel yang saya bawa malam itu merupakan ponsel Nokia 1600.

Akhirnya saya tak peduli dan terus saja menyimak apa yang disampaikan Mas Har. Di tengah penjelasan lanjutannya, tangan kiri saya tiba-tiba tergerak untuk merogoh saku celana kiri saya. Dan agak mengejutkan, di dalam saku celana jins yang sudah 3 bulan tak saya cuci itu saya temukan selembar kertas. Selembar kertas sobekan buku merk Kiky. Saya tersenyum dan segera memanfaatkannya untuk mencatat beberapa hal. Saat itulah saya segera berdzikir menyebut asma Allah.

Mas Har juga menerangkan bahwa inti pergerakan yang tengah dibangun ini bukan pergerakan yang sifatnya eksklusif. Kalau massif, harapannya iya massif, tapi tidak eksklusif. Saya jadi tahu bahwa rupanya inti dari gerakan ini adalah mendorong orang-orang alim-allamah untuk bersatu mengadakan musyawarah yang di dalamnya membahas perihal kebangsaan. Mendorong para ulama untuk mencetuskan ide-ide atau rumusan bagaimana nasib bangsa Indonesia ini ke depannya.

Dalam penjelasannya yang lebih mendetail, pergerakan ini nantinya akan berjalan dalam, setidaknya tiga tahap; pertama, Gerakan Makmuman 1 yaitu gerakan menyadarkan diri sendiri dan lingkungan terdekatnya untuk benar-benar paham serta sepenuhnya sadar bagaimana kita sebagai masyarakat memilih pemimpin yang benar-benar ideal. Kedua, Gerakan Makmuman 2, yaitu kita sebagai masyarakat yang telah sadar bagaimana dan siapa pemimpin yang layak menjadi imam kita, melaksanakan deklarasi; Deklarasi Makmum. Deklarasi bahwa kita, dalam lingakran orang-orang yang telah sepaham dan sekesadaran yang sama, mendeklarasikan bahwa Kyai A, Habib B, Syaikh C atau Imam D dan seterusnya merupakan imam di mana kita berdiri di belakangnya sebagai makmumnya. Ketiga, atau yang menjadi puncak pergerakan ini, yaitu terwujudnya Musyawarah Imam Bangsa. Yaitu adanya musyawarah persatuan antara para Kyai, Habaib, Masyayikh, Aimmah dan seterusnya untuk memusyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan bangsa Indonesia.

Penjelasan Mas Har, semakin ke sini semakin menarik. Terlebih ia memberi selingan guyon-guyon yang menambah kesejukan suasana. Saya terhanyut meski beberapa hal yang disampaikan olehnya ada yang sudah pernah saya dengar dan atau baca di lain tempat dan konsisi, seperti misalnya tentang terrorisme yang sengaja disusupi terroris bikinan barat, tentang kegalauan seorang presiden, dan lainnya.

Mas Har kemudian menutup penjelasannya dan langsung disambung beberapa patah kata oleh seorang yang dipanggil dengan nama Teguh. Mas Teguh dan Mas Hariyanto inilah dua orang penggagas utama Gerakan Anak Bangsa (Gerbang). Sampai saya menuliskan ini, saya masih belum tahu bagaimana latar belakang keduanya secara pribadi. Dan sampai di sini pula, saya belum tertarik untuk menggali kepribadian kedua orang ini. Sejauh yang saya tahu, keduanya merupakan penggiat yang aktif di Maiyah Yogyakarta. Kalau boleh saya sampaikan di sini, orang-orang yang telah aktif sebagai jama’ah Maiyah, memang sering menularkan kesan menyenangkan, bersahabat, humoris, serta nyaman dalam berkomunikasi.

Mas Teguh ini tidak terlalu banyak memaparkan perkara. Saya bahkan tak mencatat apapun dari apa yang disampaikannya. Seingat saya, Mas Teguh lebih banyak bercerita soal pengalamannya bertemu orang-orang di berbagai kota, yang dijelaskan mengenai Gerbang itu sendiri. Mas Teguh, sekali lagi seingat saya, lebih sering bercerita soal bagaimana reaksi orang-orang yang mendengar gagasan tentang Gerbang ini di berbagai kota yang telah dikunjunginya.

Waktu yang kemudian bergulir, akhirnya sampai pada sesi tanggapan atau sejenis tanya-jawab. Saya juga kemudian baru tahu bahwa pertemuan itu, pembawa acaranya adalah Eko Suprihan atau kita panggil saja Mas Eko. Dan tanpa basa-basi, Mas Eko langsung melemparkan waktu kepada seluruh peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk menanggapi, atau bertanya utamanya tentang Gerbang yang runtutannya telah disampaikan oleh Mas Imad, Mas Teguh dan tentu Mas Har.

Saya celingak-celinguk karena jujur saja bingung mau tanya apa. Tapi setelah 10 detik hingga belasan detik tak ada peserta yang angkat tangan setidaknya untuk bertanya. Saya beranikan diri untuk mengangkat tangan. Langsung. Langsung saja saya kemudian gemetar. Entah ini jenis penyakit apa, saya selalu gemetar tiap kali ngomong di depan banyak orang, yang belum terbiasa ngobrol sama saya. Meski begitu, meski terbata-bata, saya akhirnya mampu menyampaikan tiga pertanyaan.

Kurang lebih beginilah pertanyaan saya: pertama, siapa dan bagaiaman kriteria imam yang kita sebagai makmum harus kita pilih? Kedua, apakah kita sebagai makmum ini memiliki kewenangan untuk “menyetir” para imam tersebut? Ketiga, setelah imam-imam itu terpilih dan terbentuk, kita sebagai makmum, harus ngapain?

Ketiga pertanyaan saya tersbut, secara pelan-pelan dijawab oleh Mas Har. Dalam menjawab pertanyaan pertama saya, Mas Har mengatakan bahwa kurang lebih kriteria ulama yang seharusnya kita pilih menjadi imam kita adalah mereka yang sedikit banyak terbukti mampu mengayomi dan mengajak ke jalan Allah. Ini bisa siapa saja, tak harus ulama besar yang memiliki massa ribuan atau jutaan, kyai kampung pun bisa kita pilih untuk menjadi imam kita dan kemudian pada Gerakan Makmuman 2, kita deklarasikan bahwa kyai kampung pilihan kita itulah ulama yang kita ajukan untuk menjadi imam kita.

Pertanyaan kedua dijawab dengan sedikti cerita. Mas Har menggambarkan kita ini mau salat berjamaah. Nah, dalam salat berjamaah ini ketika ada imam yang bacaan dan atau gerakannya salah, maka yang bertanggungjawab untuk membenarkan adalah makmum. Maka dari itu, pertanyaan saya tadi bisa disebut memiliki jawaban bahwa iya, kita sebagai makmum pada imam yang kita pilih, boleh memberi masukan dan kritik apapun terhadap imam kita.

Dan untuk pertanyaan terakhir, yang oleh Mas Teguh dianggap sebagai pertanyaan baru yang di berbagai pertemuan menjelaskan soal Gerbang di lain kota belum pernah ditanyakan, merupakan pertanyaan yang Mas Har dan Mas Teguh belum mampu menjawabnya. Dijelaskan oleh Mas Har kurang lebih begini, intinya kita ini sebagai masyarakat yang mau menyadari bagaimana kondisi bangsa, kita fokus pada prosesnya saja dulu. Persoalan bagaimana nanti hasilnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

“Aku dewe yo jan-jane bingung, Mas. Iki nak wes kelakon ono musyawarah imam bangsa kui terus dewe ngopo, yo?” begitu tukas Mas Har menutup jawaban pertanyaan terakhir saya.

Selanjutnya, masih ada beberapa peserta yang kemudian memberi tanggapan dan juga membuka pertanyaan lain. Dalam catatan saya, ada Mas Ribut Achwandi (penggiat dan pendiri Omah Sinau Sogan/Teater Sinau Sogan), lalu ada pula Ustadz Hamam, Pak Aya’, serta seorang lagi dari Pemalang yang saya lupa namanya.

Pada akhirnya, pertemuan malam itu memang baru sebatas pengenalan dan sedikit penjelasan mengenai bagaimana model pergerakan Gerakan Anak Bangsa (Gerbang) ini akan diwujudkan. Adapun detail teknisnya, diakui oleh Mas Har dan Mas Teguh, memang belum sepenuhnya matang dan masih terus digodok oleh tim lain di Yogyakarta. Catatan pentingnya, barangkali perlu saya sedikit urai di sini, bahwa pergerakan ini memang digagas oleh orang-orang yang dekat dengan Cak Nun serta yang diajak pun lebih banyak orang-orang Maiyah. Di sini, muncul pertanyaan, apakah Cak Nun meyetujui apa yang digagas dan dilakukan oleh orang-orang ini? Mas Har memberi penjelasan bahwa sebelum mengadakan sarasehan pertama di, —kalau tidak salah di Surabaya—terlebih dahulu memberitahu Cak Nun. Dan jawaban Cak Nun adalah; “iki tak sinauni dhisik, kowe juga sinau meneh.” Dan ketika Mas Har kemudian telah mulai berjalan serta mendapati perkembangan yang ada, Mas Har pun melaporkannya kepada Cak Nun. Jawaban Cak Nun, “Sinau terus.”

Yang saya tangkap kemudian adalah, bahwa Gerbang ini memang dibikin bukan untuk menambah keriuhan bangsa. Orang-orang ini, tidak berkehendak untuk membikin bangsa kian riuh dengan mengadakan gerakan-gerakan dalam bingkai demonstrasi. Sama sekali bukan. Pergerakan dalam Gerbang ini, dalam pandangan saya pribadi, merupakan gerakan penyadaran diri sendiri akan pentingnya mengenali siapa diri kita masing-masing, sebelum kita pura-pura mengenal orang lain. Dan juga, Gerbang, barangkali merupakan sebuah gerbang untuk kita terus belajar. Dan barangkali pula, jika gerbang ini telah terbuka, kita akan menemu sebuah kota yang penuh dengan nur, yang memberi penerangan atas jalan kita menuju Allah Yang Maha Esa.
Share:

Desain Grafis: Gerbang Menuju Dunia Digital Masa Kini

Gambar dari LinkedIn DumetSchool
Prolog.
Peluang untuk bekerja di bidang desain grafis pada hari-hari ini nampaknya cukup terbuka lebar. Ada begitu banyak perusahaan baik yang berskala kecil, menengah, hingga perusahaan besar, saat ini tengah membuka lapangan pekerjaan khusus bagi para graphic designer. Di berbagai situsweb penyedia informasi lowongan kerja, saya menemukan cukup banyak perusahaan yang tengah mencari profesional bidang desain grafis.

Di samping itu, beberapa media online besar juga seringkali menyertakan infografik tiap artikel beritanya sebagai gambar pendukung artikel yang disajikan. Memang, daya tarik sebuah berita bukan sekadar dari headline-nya saja melainkan juga dukungan visual yang biasanya berformat infografik. Tak ayal, perusahaan media-media online pun merekrut orang-orang profesional yang kerjanya dikhususkan membuat kilas berita dalam format gambar infografik.

Lain dari pada hal tersebut, bisnis seperti percetakan, baik percetakan kaos, pamflet, buku, dan seterusnya, kini kian menjamur di Indonesia. Teknik percetakan yang kian berkembang, juga perlu didukung oleh tenaga-tenaga yang mumpuni sekaligus mampu menukangi bidang ini. Desainer grafis adalah profesi yang cukup memiliki peluang besar memperoleh pekerjaan di era digital seperti sekarang ini. Untuk itulah, generasi muda kita juga perlu menyambut hal ini sebagai peluang sekaligus tantangan.
Ilustrasi 1. Gambar koleksi pribadi
Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan untuk Menjadi Seorang Desainer Grafis Profesional.
Yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa menjadi seorang desainer grafis sehingga mampu memasuki peluang-peluang yang terbuka tersebut?

Saya merangkum, setidaknya ada 6 (enam) hal yang perlu diperhatikan jika kita ingin terjun menjadi seorang desainer grafis.

Pertama, minat.
Minat menjadi modal pertama yang harus kita miliki ketika kita ingin menjadi seorang profesional di bidang apapun. Tanpa memiliki minat terlebih dahulu, mustahil kita bisa meraih suatu hal. Tanpa minat, kita bahkan tidak akan benar-benar mampu menentukan profesi apa yang tepat untuk kita. Lalu, bagaimana sebaiknya kita yang belum berminat kemudian bisa memiliki minat tersebut? Untuk menjawabnya, saya akan sedikit menuliskan kisah sebagai ilustrasinya.

Begini, saya adalah seorang yang gemar membaca buku-buku. Semakin banyak buku saya baca, semakin timbul minat saya akan hal-hal baru yang belum saya ketahui. Jika pada suatu hari saya membaca sebuah kisah sukses, maka minat saya untuk menjadi orang sukses, segera terangsang melalui otak saya yang pada hari kemudian memunculkan semangat bagi saya untuk bekerja lebih giat, berpeluh-peluh lebih tanpa lelah dan seterusnya.

Maka, untuk mewujudkan agar kita memiliki minat menjadi seorang desainer grafis, maka yang perlu kita lakukan adalah membaca sebanyak mungkin informasi mengenai desain grafis. Bacaan-bacaan ini tak melulu hanya bisa ditemukan dalam buku-buku atau jurnal-jurnal akademik. Kita bahkan bisa dengan sangat mudah menemukannya dalam artikel-artikel yang telah tersebar luas di internet. Di sana, bacalah semua informasi yang ada.

Sampai di sini, barangkali kita justru akan mempersoalkan dan mempertanyakan “bagaimana menumbuhkan minat membaca kita?” Jawaban atas hal demikian hanya satu: sadarilah bahwa kita butuh membaca.

Minat, selain dari hal tersebut juga bisa ditumbuhkan dengan sering-sering membaca info dalam bentuk grafik atau yang lebih mudah disebut dengan infografik. Atau bisa juga dengan banyak membaca komik, karena di sana kita bisa menemukan gambar-gambar yang cukup merangsang otak kita agar lebih familiar dengan gambar, yang sudah pasti berhubungan dekat dengan desain grafis.

Kedua, berkenalan.
Untuk perkenalan ini, kita bisa memulainya dengan mengenal tokoh-tokoh di dunia desain grafis seperti Wahyu Aditya, Sabda Armandio, Devina Puspitasari dan seterusnya. Nama-nama mereka yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia desain grafis, perlu kita kenali untuk menumbuhkan semangat dan minat kita akan dunia desain grafis.

Di samping berkenalan dengan tokoh-tokoh desainer grafis, kita juga perlu mengenal tools, aplikasi atau software yang dibuat khusus untuk membantu kita mulai berkarya di bidang desain grafis. Beberapa software terkenal yang mendukung program desain grafis ini di antaranya; Adobe Illustrator, Corel Draw, Adobe Photoshop, InDesign dan lain-lain. Kesemuanya dari aplikasi ini harus segera kita kenali terutama dari sisi penggunaan tools-nya.

Umumnya, aplikasi-aplikasi semacam itu dibekali tools yang kompleks mulai dari bagaimana membuat garis, membuat diagram, pola-pola tertentu, hingga fitur-fitur editing gambar atau foto. Semua tools memiliki fungsinya masing-masing, dan jika kita ingin serius berkecimpung di dunia desain grafis, mau tak mau kita tetap harus mengenal seluruh tools tersebut beserta kegunaannya.
Ilustrasi 2. Gambar koleksi pribadi
Ketiga, mulai belajar.
Jika kita sudah memiliki minat yang kuat terhadap desain grafis dan kita juga sudah mengenal beberapa hal penting yang terkait dengannya, maka yang perlu kita lakukan adalah segera memulai belajar. Nah, untuk belajar desain grafis ini, memang bisa saja dipelajari secara otodidak alias belajar sendiri dengan memanfaatkan tutorial-tutorial gratis yang cukup banyak tersedia di internet. Kita bisa memanfaatkan tutorial-turorial tersebut untuk menunjang pembelajaran kita akan desain grafis. Hal ini tentu saja bisa dilakukan oleh siapa saja yang telah melewati dua fase teratas tadi; tumbuh minat dan telah mengenali dunia desain grafis.

Di berbagai situsweb, kita bisa menemukan tutorial bagaimana memulai membuat desain grafis hingga di mana kita sebaiknya mempublikasikannya. Namun demikian, saya menyarankan agar kita yang ingin serius menggeluti dunia desain grafis, terlebih jika kita ingin menjadi seorang profesional di bidang ini, maka kita perlu mengikuti kursus desain grafis. Karena dengan mengikuti kursus, kita tentu akan memiliki keilmuan dan pengetahuan yang lebih sempurna jika dibanding dengan belajar tanpa melalui kursus. Memang, belajar secara otodidak pun tetaplah mungkin membawa kita pada puncak kesuksesan, namun sekali lagi, untuk menjadi profesional kita tetap perlu melewatinya dengan mengikuti kursus, dalam hal ini kursus desain grafis.

Dalam belajar desain grafis ini, kita harus menunjukkan keseriusan kita agar kemudian kita benar-benar mampu menjadi seorang desainer grafis yang layak diperhitungkan. Persaingan di dunia desain grafis ini juga cukup ketat, sehingga ini pula yang menuntut agar kita benar-benar serius dalam belajar desain grafis. Tentu, jika kita belajar dengan sungguh-sungguh, maka kemudian kita akan menjadi seorang desainer grafis yang meyakinkan banyak orang sekaligus karya-karya kita kemudian mendapatkan apresiasi penuh dari berbagai kalangan.

Keempat, membuat karya desain grafis.
Di tengah proses pembelajaran kita akan desain grafis, kita yang sudah mulai mengenal tiap-tiap tools dalam aplikasi atau software yang kita pergunakan untuk mendesain, tentu kita sudah mulai bisa mempraktekkannya sekaligus. Di sinilah kita mulai membuat karya desain grafis kita. Bagaimana caranya? Gampang saja, kita coba mulai membuat pamflet atau banner. Kita membuat contoh pamflet kegiatan di kampung, sekolah, atau kampus kita. Pamflet itu kita bikin dengan metode yang telah dan sedang kita dapatkan dari materi-materi kursus.
 

Atau, bisa juga kita membuat karakter. Jika umunya orang-orang mengganti foto profil akun media sosial mereka dengan bantuan animasi yang dibikin secara offline, kita yang sudah belajar medesain gambar, bisa mengedit sendiri foto-foto kita dengan, lagi-lagi, ilmu yang kita dapatkan dari kursus belajar desain grafis. Keuntungannya jelas, kita akan lebih puas karena mampu mengedit sendiri semau kita, sekaligus kita juga bisa memamerkannya kepada teman-teman kita.

Dari sini, bukan tidak mungkin ketika kita mulai membuat desain grafis baik berupa pamflet, animasi, atau karakter, kemudian teman-teman kita tertarik untuk meminta kita membuatkannya. Salah seorang teman saya dulu sewaktu masih belajar dan kursus membuat desain grafis, melakukan uji coba semacam ini. Ia membuat peta kota kami dan mengeditnya sedemikian rupa dengan ditambah data-data penduduk sekaligus dipetakan per kecamatan berdasar pekerjaan mayoritasnya. Desain pertamanya itu kemudain dibeli oleh salah seorang pebisnis kaos untuk dijadikan desain kaosnya. Teman saya yang awalnya sekadar iseng menguji kemampuannya di tengah ia sedang belajar itu pun justru sudah memperoleh penghasilan bahkan sebelum ia dinyatakan lulus dari tempat kursusnya.

Kelima, publikasi karya.
Setelah kita melewati tahapan-tahapan yang telah saya uraikan sebelumnya, maka selanjutnya kita perlu menentukan di mana kita akan mempublikasikan karya desain grafis kita. Pilihan paling mudah tentu saja di media sosial melalui akun kita sendiri. Lihat bagaimana respon orang-orang terhadap karya kita, apakah disukai, cukup disukai, atau justru kurang disukai olah khalayak. Namun di situlah pentingnya. Kita kemudian jadi tahu di mana letak minat khalayak akan karya kita. Apakah teman-teman di media sosial kita lebih menyukai desain grafis kita yang menunjukkan data-data, rangkuman tulisan, atau justru karya kita yang berbentuk hiburan seperti gambar animasi dan sebagainya.

Untuk menguji bagaimana karya kita dinilai oleh orang lain, kita memang perlu melakukan publikasi. Ini juga untuk mengukur sejauh mana karya desain grafis kita dianggap positif atau negatif oleh orang lain. Memang, bisa saja kita tak terlalu memedulikan penilaian orang lain, namun karena ini menyangkut karya, maka hasil karya desain grafis kita itulah nantinya yang akan dijadikan tolok ukur orang lain untuk menilai kinerja kita di bidang desain grafis. Terlebih jika kita berharap akan bekerja di sebuah perusahaan yang membidangi bagian desain grafis, publikasi bisa dijadikan acuan nantinya jika kelak kita mengirimkan lamaran pekerjaan. Karena beberapa perusahaan yang tengah mencari seorang desainer grafis, biasanya ingin melihat bagaimana karya-karya desain grafis kita selama ini.
Ilustrasi 3. Gambar dari battleaxedesign

Keenam, tentukan langkah berikutnya.
Pada fase ini, kita yang sudah yakin mampu membuat desain grafis, akhirnya harus menentukan akan kita manfaatkan di mana kemampuan kita ini. Apakah kita akan melamar kerja sebagai desainer grafis di perusahaan-perusahaan, atau kita ingin nekat langsung menerbitkan karya-karya desain dalam bentuk animasi bersambung atau membuat komik. Iya, seorang professional graphic design memang hampir bisa dipastikan mampu membuat karakter yang bisa dihidupkan melalui cerita. Maka bukan hal yang mustahil, seorang desainer grafis professional mampu akan mambikin sebuah komik. Tinggal bagaimana kita belajar menciptakan alur cerita.

Atau seperti tadi, kita bisa bekerja di perusahaan bidang desain grafis. Dan seperti di awal tulisan ini saya sampaikan, ada banyak perusahaan yang saat ini tengah mencari seorang professional graphic designer yang bisa kita temukan di situsweb info lowongan pekerjaan atau kadang berseliweran perusahaan beriklan mencari professional graphic design ini di media-media sosial kita.

Pada intinya, kita perlu menentukan di mana tempat kita kemudian menunjukkan profesionalitas kita sebagai desainer grafis. Tentu kita tak boleh menyia-nyiakan apa yang telah kita pelajari. Kita harus mampu memanfaatkannya semaksimal mungkin, minimal kita bisa membuka jasa mendesain kartu undangan, pamflet, logo, infografik, dan seterusnya di mana untuk permulaannya, seperti point ke empat dan lima tadi, kita bisa memanfaatkan media sosial untuk beriklan.
Ilustrasi 4. Gambar dari University of New Hampshire
Peluang, Tantangan dan Bahaya Bekerja sebagai Desainer Grafis.
Menjadi desainer grafis memang bukan perkara yang terlampau sulit seperti layaknya menjadi astonot. Ia sama saja seperti ingin menjadi atlet profesional, public speaker, atau profesi lain yang dalam waktu relatif singkat dapat kita kuasai teknik-tekniknya. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita kemudian mau berkembang dan mau mengembangkannya atau tidak. Desain grafis bisa dikatakan merupakan sebuah keilmuan dasar. Ia merupakan pintu gerbang yang di balik pintu gerbang tersebut akan kita temukan berbagai hal lain yang merupakan pengembangan dari desain grafis.

Dari mempelajari desain grafis, kita bisa kemudian mengembangkannya ke ranah perfilman. Bisa juga kita memilih untuk menjadi seorang web developer, dengan mengelola situsweb, terutama di bagian display atau penampilannya. Atau, kita bisa juga masuk di dunia kesenian, terutama seni visual, karena pada intinya desain grafis merupakan seni visual yang selayaknya dapat dinikmati oleh khalayak. Selain itu masih ada beberapa hal lain yang bisa kita pilih untuk kita jadikan sebagai pengembangan dari desain grafis yang kita pelajari.

Industri kreatif membuka peluang cukup lebar bagi berbagai pihak tak terkecuali kita yang memiliki basis keilmuan desain grafis. Bahkan di setiap industri kreatif, apa saja wujud yang diproduksinya, maka akan memerlukan seorang desainer grafis. Ini menunjukkan betapa desain grafis merupakan suatu profesi yang cukup fleksibel sehingga mampu masuk ke bebagai bentuk bisnis. Tantangannya adalah bagaimana kreator bidang ini mampu bersaing di kancah dunia. Jika kita membaca berita, beberapa nama orang Indonesia memang cukup banyak yang telah bekerja sebagai animator film-film besar. Setidaknya hal demikian cukup mampu menumbuhkan rasa percaya diri bangsa untuk bersaing dengan bangsa lain.

Problem lain di dunia desain grafis ini adalah adanya gesekan antara profesionalisme dengan kesenian. Bagaimanapun, desainer grafis juga merupakan seniman lantaran pekerjaan ini memang bisa disebut pekerjaan artistik. Di sini, kita terkadang menemukan seorang desainer grafis yang telah bekerja di sebuah perusahaan, akhirnya memilih untuk keluar dengan alasan perusahaan tak mampu memberinya kepuasan dan kebebasan dalam mengekspresikan karyanya. Beberapa desain grafis ini memandang bahwa karyanya di bidang visual ini harus memiliki unsur artistik, tanpa perlu mengindahkan permintaan atau animo masyarakat. Sedangkan yang namanya perusahaan, lazimnya menuruti permintaan pasar (masyarakat luas). Yang seperti inilah pada akhirnya membuat seorang desainer grafis “mengalah” dan memilih untuk mundur dari pekerjaannya.

Namun begitu, tantangan sejatinya muncul dari tempat di mana desainer grafis bekerja. Beberapa desainer grafis, tak jarang atau bahkan terlampau sering harus bekerja hingga berlarut-larut secara terus-menerus. Desainer grafis, seringkali menghabiskan waktunya di depan layar komputer karena memang tuntutan tugas. Hal ini menjadi sebuah permasalahan serius jika tidak dibikin manajemen waktu yang baik antara perusahaan tempat desainer grafis bekerja dengan si desainernya sendiri. Situs berita TirtoID mencatat, pekerjaan para desainer grafis ini bahkan bisa mengancam nyawa. Diberitakan oleh situsweb tersebut, Indonesia, Filipina, Jepang dan Cina pernah memiliki kasus kematian seorang desainer grafis lantaran terlalu banyak menghabiskan waktu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pada Desember 2013 silam, Mita Diran meninggal karena bekerja nonstop selama 30 jam. Kematiannya diduga karena kelelahan.

Hal seperti itu tentu harus disoroti agar ada penanganan yang tepat sehingga di kemudian hari tidak ada lagi kejadian menyedihkan semacam itu. Bagaimanapun, tubuh manusia memerlukan waktu untuk beristirahat. Memforsir seluruh tenaga untuk dihabiskan dalam pekerjaan, bukan merupakan kebijakan yang tepat terhadap tubuh kita.

Pengaturan waktu menjadi salah satu hal utama untuk mereduksi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bahaya semacam itu. Para pekerja kreatif ini sejatinya merupakan pekerja yang harus memeras otak dan tenaganya secara bersamaan meski tenaga yang dikeluarkan tak terlalu menghabiskan banyak energi. Tetapi kita tetap perlu berhati-hati dan memiliki manajemen waktu yang ideal sekaligus proporsional agar kita terhindar dari hal-hal yang tak kita inginkan. Adapun teknis mereduksi kemungkinan berbahaya ini misalnya, dengan merotasi desainer grafis secara tepat waktu. Yaitu umpamanya si A bekerja pada jam 8 pagi hingga 12 siang saja lalu pada jam berikutnya diganti si B, jam 1 siang hingga jam 5 sore. Jika ada keharusan lembur, maka harus dikerjakan oleh orang selain keduanya. Bisa dikatakan, manajemen waktu ini bisa digabungkan dengan sistem kerja tim.

Ilustrasi 5. Gambar dari Kan-Tek
Epilog.
Desain grafis masih memiliki peluang besar untuk megantarkan kita pada profesionalitas dalam bekerja sekaligus mampu menjadi gerbang bagi kita untuk mengembangkan diri, terutama bagi kita yang sedari awal memiliki kegemaran di wilayah seni visual. Ia bisa kita jadikan pijakan bagi kita untuk meraih kesuksesan di berbagai macam bidang profesi. Banyak peluang serta celah yang bisa kita masuki dengan “stempel” desainer grafis atau graphic designer pada diri kita. Beberapa perusahaan siap menampung kita yang ingin bekerja secara professional di bidang desain grafis.

Di sisi lain, menjadi desainer grafis bukan semata menjadi seorang seniman yang bisa menciptakan karya apa saja. Desain karya kita merupakan cover untuk menilai bagaimana diri kita, oleh sebagian orang lain. Kita yang bekerja sebagai desainer grafis di suatu perusahaan pun, harus mengikuti dan tunduk patuh pada peraturan-peraturan perusahaan di mana kita bekerja, terlepas dari visi dan misi perusahaan itu sesuai dan ideal bagi kita atau tidak.

Lain dari pada hal tersebut, menjadi seorang desainer grafis, pun memiliki risiko pekerjaan yang membahayakan bahkan bisa sampai berakhir pada kematian. Hal ini tentu saja bisa kita siasati dengan berbagai macam cara, salah satunya yang paling utama adalah pengaturan waktu bekerja. Kita tidak boleh membiarkan tubuh kita bekerja terus menerus tiada henti. Tenaga dan pikiran kita tak boleh terforsir dan terkuras habis di depan layar komputer demi pekerjaan kita sebagai desainer grafis. Adakalanya, tubuh kita dibiarkan menikmati masa jeda agar kita tak mengalami hal-hal yang tak kita inginkan seperti terkena berbagai macam penyakit dan atau hingga kematian.

Namun biar bagaimanapun, desain grafis merupakan suatu hal yang jika kita menguasainya, kita bisa berkembang di berbagai bidang profesi. Dengan belajar desain grafis, otomatis kita membuka peluang untuk memasuki pintu kesuksesan.

Sumber artikel: www.dumetschool.com - tirto.id
Sumber gambar:
Share:

Service Redmi Note 4 Mati Total (Softbrick dan Hardbrick)

Punya HP Andorid Xiaomi Redmi Note 4 Mati Total, gan? Silakan simak cerita berikut ini...
Xiaomi Redmi Note 4. Sumber gambar: www.singlecliq.com
Sekitar enam minggu yang lalu dari hari ini (20 April 2017) atau tanggal antara awal-pertengahan Maret 2017, saya mengalami masalah pada ponsel Xiaomi Redmi Note 4 (selanjutnya akan saya tulis Note4 saja) saya. Note4 tersebut mati total secara mendadak. Mendadak yang benar-benar mendadak. Kejadian sebelum "kematiannya" pun sangatlah tak terduga. Note4 tersebut benar-benar mendadak M-A-T-I-T-O-T-A-L alias mati total alias MATOT!

Saya pun segera mendatangi sebuah counter servis ponsel di dekat rumah saya. Saya pernah punya pengalaman menyerviskan ponsel milik keponakan saya di counter tersebut. Waktu itu ponselnya Samsung Galaxy Young 2 dan juga mati total. Di tempat servis ini, hanya butuh empat hari, ponsel milik keponakan saya itu dapat disembuhkan dan dihidupkan kembali dan kembali normal.

Berdasar pengalaman itulah, maka ketika saya mengalami kerusakan pada Note4 saya tadi, segera saya bawa ke tempat servis yang saya maksud. Namun nahas, counter tersebut saat saya datangi 2-3 kali, dalam kondisi tutup. Dan berhubung saya tahu bahwa counter tersebut memiliki cabang yang di-handle oleh adik dari pemilik counter itu sendiri, saya segera melesat ke counter cabang ini. Dan di sanalah ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya ini saya serah dan pasrahkan. Seminggu berlalu, saya tak mendapati kabar. Hingga di hari ke sepuluh, saya minta penjelasan di counter cabang ini dan segera direspon bahwa segala jenis pengobatan software sudah dicobanya, tapi belum berhasil. Penjaga counter meminta waktu, kalau saya perbolehkan, ia akan mengoperasi bagian hardwarenya. Saya pun tanpa pikir panjang, langsung mengiyakan. Karena dalam pikiran saya, yang penting sembuh.

Seminggu berikutnya, saya datangi counter ini dan hasilnya nihil. Penjaga counter bahkan mengaku menyerah dan tak mampu membenahi penyakit Note4 saya tersebut. Dengan perasaan yang teramat kecewa, saya pun membawa pulang gadget saya itu.

Hanya berselang beberapa jam kemudian, saya teringat bahwa ada counter servis hape yang cukup populer sebagai tukang servis yang dapat diandalkan. Lokasi counter ini masih terhitung dekat dengan rumah saya meski beda kelurahan. Tanpa ba-bi-bu saya pun segera meluncurkan diri menuju counter ketiga ini. Di dalam counter, saya disambut oleh seorang perempuan yang seingat saya ia dulu seangkatan saya waktu MTs (saya dulu enggak sekolah SMP, bro. Fyi..)

Kebetulan, di counter ketiga ini juga pas ada orang teknisinya. Saya pun menceritakan bagaimana kronologi "kematian" hape Xiamoi Redmi Note 4 milik saya itu. Saya ceritakan bagaimana awal mulanya sampai bisa mati total mendadak begitu, yang hanya berselang beberapa menit sejak saya pakai dan masukkan ke saku baju kemeja saya, mendadak kemudian itu ponsel mati. Saya utarakan juga bahwa di counter servis sebelumnya, ia gagal dibenahi.

Sang teknisi nampak meyakinkan meski dari segi penampilan, ia cukup mirip dianggap seorang Punk. Bahkan telinganya terdapat lubang besar untuk pearcing. Pergelangan tangannya pun penuh dengan gelang-gelang bermacam-macam, karet, besi, kawat, bracelett, dan seterusnya. Pria teknisi ini menanggapi keluhan saya dengan sangat baik dan cukup meyakinkan. Akhirnya saya mantap bahwa di counter inilah, ponsel Note4 saya pasti bisa "dibangkitkan".

Sekira seminggu kemudian, sebelum saya berangkat PKD (yang kisahnya sedikit saya singgung di sini), saya menanyakan ke counter ini bagaimana kondisi ponsel saya melalui sms. Jawaban dari counter tersebut, ponsel saya masih "on proses" (penulisannya yang paling tepat mungkin "on process"). Saya yang sejatinya berharap bahwa ponsel akan sembuh sebelum PKD, akhirnya sedikit putus asa nan kecewa. Tapi biarlah, intinya saya masih cukup yakin bahwa di counter tersebut ponsel Note4 saya itu bisa benar-benar hidup lagi.

Lima hari kemudian, saya menanyakan lagi bagaimana kondisinya. Kali ini melalui telpon. Dijawab oleh orang counter itu (suara lelaki yang saya yakin bukan si teknisinya), bahwa ponsel saya rupanya "jeroannya remuk". Saya shock, jujur saja. Bagaimana bisa bagian dalam ponsel remuk, sedangkan ia tak pernah berkontraksi dengan benda-benda keras selama di tangan saya. Saya pikir, ini pasti terjadi mungkin pas dalam perjalanannya dari pabrik hingga ke gerai ponsel yang menjualnya. Atau, bisa jadi karena ia ponsel buatan Cina. Hmmm... Baiklah, tak mengapa. Saya, intinya kemudian, meminta kepada pihak counter untuk menyervis hape tersebut sampai jadi dan benar-benar jadi.

Beberapa hari berikutnya, saya kembali menanyakan kabar ponsel Note4 saya. Katanya masih belum jadi dan masih diproses. Penjawab juga memberi saya pilihan, apakah mau diambil saja apa gimana. Saya jawab, coba diusahakan lagi.

Kemudian, dua hari lalu (18 April 2017), saya iseng-iseng menanyakan di group Xiaomi Redmi Note 4 yang ada di Facebook. Di sana, saya melemparkan tanya yang intinya "Apa yang harus saya lakukan terhadap Redmi Note 4 yang mendadak mati total, selain menjualnya?" Cukup banyak yang merespon pertanyaan saya ini dari yang serius hingga yang sekadar guyon belaka. Dari group Facebook ini, saya kemudian mengenal seorang yang mengaku sebagai tukang service hape. Saya sebetulnya sangat tertarik untuk mencoba membawa ponsel Note4 saya ke sana. Tapi  sampai hari ini, saya belum melakukannya lantaran ponsel tersebut masih di counter tadi.

Tadi sekitar 3-4 jam lalu dari saya menuliskan ini atau pagi jam 9-10 tadi, saya mendatangi counter di mana ponsel saya sedang direparasi. Di counter ini saya kembali bertemu dengan perempuan yang dulu seangkatan saya itu. Dari perempuan ini, saya diberi nomor milik sang teknisi untuk menanyakan langsung bagaimana kondisinya.

Sampai di rumah, saya pun segera menanyakan melalui sms. Dan dijawab bahwa ia memang memakan waktu cukup lama karena beberapa komponen di dalam ponsel ini, perlu diganti. Ketika saya singgung mengenai biaya operasinya, ia menjawab "...antara 500-700an." Saya lumayan kaget, itu sudah sepertiga harga ponselnya. Ckckckckck..

Sudah, ya. Sebaiknya kalian yang membaca ini mendukung tulisan-tulisan yang saya ikutkan di kontes blog agar menjadi juara. Buat apa? Lha itu tadi, kalau juara, duitnya mau saya pakai untuk bayar biaya service ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya.

Hufttth...
Share:

Ahok? Siapa tuh?

Gambar dari tabloidjubi.com
Sejak awal Pak Ahok tersandung kasus yang menyinggung soal agama, saya sudah yakin dan mantap untuk tidak mau ambil peduli mengomentarinya. Karena saya sadar betul, ada pilihan lain yang lebih perlu saya komentari, terlebih, pihak berwenang telah menangani kasus Pak Ahok tersebut dengan cepat, tegas dan serius. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan kasus-kasus sejenis, yang "menyakiti" minoritas.

Secara pribadi, saya tak menyukai Pak Ahok sehebat apapun beliau dalam menahkodai suatu wilayah. Ketegasan yang sering diunggulkan oleh para pendukungnya pun bahkan sama sekali tak meningkatkan minat saya untuk lantas mengaguminya. Pak Ahok, tanpa perlu saya koreksi nilai-nilai minusnya pun sudah tentu kita semua tahu di mana titik negatif beliau. Kecuali, mata kita buta.

Pada akhir tahun lalu, saat kasus Pak Ahok mulai meramai di media dan obrolan-obrolan di warung kampung, saya bahkan tak menyebut nama atau kasusnya dalam tulisan saya di suatu media. Tak bukan dan tak lain adalah saya hanya ingin mengurangi banyaknya kueri yang mengarah atas namanya. Yang demikian, saya benar-benar menghindari.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati pesan privasi melalui inbox dari salah seorang kawan sekaligus guru sekaligus motivator saya untuk menuliskan sebuah artikel singkat mengenai "Perbedaan Pendapat". Tanpa menunda-nunda, saya pun segera menuruti permintaannya. Namun, saat tulisan baru sampai separuh, saya bertanya-tanya, ini konteks perbedaan pendapat dalam hal apa?

Ketika pertanyaan tersebut saya utarakan kepada seorang guru sekaligus kawan sekaligus motivator tadi, saya diberitahu bahwa hal tersebut menyangkut kesaksian salah seorang Ulama dalam kasus Pak Ahok dengan Ulama lain. Seketika, minat saya untuk melanjutkan tulisan langsung runtuh. Walhasil, tanpa meminta maaf kepada sang guru sekaligus teman sekaligus motivator tadi, saya segera menutup tulisan setengah jadi itu dengan kata "Rausah teruske sek."

Ini saya anggap sebagai sikap agar saya yang sedari awal memang acuh tak acuh terhadap Pak Ahok, tetap seperti itu. Saya tak ingin ikut-ikutan, terlebih secara serius mengomentari urusan yang sudah ditangani secara profesional oleh yang berwenang dan berhak. Memang, saya, seperti rakyat pada umumnya, boleh-boleh saja mengomentari atau bahkan menghujat bagaimana proses keberlangsungan kasus yang dalam beberapa catatan pengamat muslim, mampu menggerakkan massa sedemikian besar itu.

Kita ini seringkali meneriakkan kebebasan tapi kita sendiri pula yang seringkali memaksakan orang lain untuk tidak bebas. Kita dalam hal ini adalah kita semua, lepas dari sepakat atau tidaknya, mengakui atau tidaknya. Di sisi lain, kita pun gemar meneriakkan perdamaian tapi menyelipkan kebencian dalam teriakan-teriakan kita.
Sejak pemilihan presiden 2 tahun lebih yang lalu, Indonesia ini kian berisik saja masyarakatnya. Yang paling menyedihkan dari keberisikan ini adalah bahwa orang-orang ini (saya, kalian, dan kita semua), lebih suka keberisikan dengan nada saling serang. Sudahlah, bawa kesini muka kalian yang mengaku anti-serang, biar saya pisuhi: Hypocrite!

Sejak tahun 2014 tersebut lah, Indonesia mengalami banyak kenaikan-kenaikan yang terkoreksi negatif. Pengguna internet sejak 2014 hingga 2016 di Indonesia meningkat pesat. Penetrasinya tercatat mencapai 51 persen lebih atau sekitar 80an juta pengguna. Seiring bertumbuhnya pengguna internet kita ini, saya kok agak yakin bahwa orang-orang yang "berperang" ini juga otomatis semakin banyak. Apalagi jika melihat bahwa peperangan yang terjadi, lebih sering terjadi di atas ring yang disebut "Media Sosial".

Indonesia pada hari ini, hanya ada dua kelompok besar yang mana keduanya saya anggap adalah sekumpulan banyak orang-orang bodoh dan dungu dan goblok dan tolol dan sejenisnya. Dua kelompok besar ini, dalam hal apa saja selalu berbeda. Dan perbedaan keduanya, selalu berujung pada keributan. Dan keributannya ini dipertontonkan secara tanpa malu di media-media. Lantas, dengan sangat dungunya mereka ini berkata, "Sudahlah mari kita berdamai".

Damai ndasmu kotak!

Perdamaian yang konon indah itu, saya kira hanya akan menjadi utopis bagi bangsa kita. Bangsa yang bahkan sampai saat ini belum jelas arahnya mau bagaimana, meski sudah pernah dipimpin oleh berbagai jenis kepala, ini sejatinya belumlah sempurna disebut bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang menjadi penyadaran bagi saya adalah di situ. Saya ini jauh dari ibukota Jakarta dan juga masih seperti dahulu (mengharamkan kaki menginjak tanah Jakarta). Kalau saya ikut-ikutan menghabiskan pikiran untuk memikirkan urusan di sana, lha ini yang mau peduli pabrik-pabrik kain mori di Pekalongan siapa? Yang mau memikirkan bagaimana desa saya ini menjadi tempat sampah berbagai warga di sekitar desa Simbangwetan, siapa?

Orang cerdas yang sok bijak tentu akan menertawakan pertanyaan remeh saya ini sembari berkata, ya adakalanya kita mikir lingkungan kita, dan adakalanya pula kita mikirin yang jauh-jauh.
Baik, saya sepakat dengan jawaban orang cerdas sok bijaksana tersebut. Tapi bukan Jakarta yang perlu saya bantu pikirkan. Yang lebih jauh dari Jakarta, masih banyak yang perlu dipikirkan. Salah satunya; kejahatan-kejahatan busuk di tanah Papua. Kamu, mau, ikut mikirin mereka?

PLER!
Share:

PKD dan Diklatsar GP Ansor Buaran Pekalongan

Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna di Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan (PAC GP Ansor Buaran) mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar sekaligus Pendidikan dan Latihan Dasar II yang dilaksanakan di Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan pada Kamis sore 30 Maret hingga hari Ahad 2 April 2017.
Foto rapat checking panitia PKD-Diklatsar II GP Ansor Buaran Pekalongan. Sumber foto: PAC GP Ansor Buaran
Hari ini, Selasa 28 Maret 2017 saya sudah mulai mempersiapkan diri untuk keperluan mengikuti acara Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Gerakan Pemuda (GP) Ansor serta Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Dalam seminggu terakhir ini, saya banyak membaca-baca berita informasi mengenai PKD dan Diklatsar tersebut. Beberapa video yang menayangkan acara tersebut juga sebagian telah saya tonton. Ini yang saya sebut sebagai pemahaman dasar atas pelatihan dasar-dasar yang nanti akan saya jalani pada acara PKD-Diklatsar tadi. Ini, semacam persiapan agar saya tak terlalu gagap ketika menghadapi pelatihan yang menurut rundown acaranya akan memakan waktu selama 3 hari 3 malam itu.

Jauh sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk meminta masukan dari calon istri saya mengenai hal ini. Yang pertama kali saya tanyakan padanya adalah apakah saya harus mengikuti Diklatsar (sejauh ini yang saya ketahui adalah bahwa peserta boleh hanya mengikuti PKD saja atau tanpa mengikuti Diklatsar. Keduanya memang merupakan pelatihan yang, juga sejauh pengetahuan saya, terpisah).

Bumi, demikian panggilan calon pasangan saya itu, menyatakan bahwa saya sebaiknya "sisan ikut keduanya". Nanggung, begitu ungkapnya saat saya mintai masukan beberapa hari lampau.

Dari sana, saya kemudian merasa cukup yakin untuk mengikuti PKD dan Diklatsar ini dengan penuh semangat dan persiapan mental yang pula kuat. Saya sadar, menjadi bagian dari Ansor dan terlebih Banser, artinya saya harus siap berbakti kepada Nahdlatul Ulama (NU), dan tentu saja berbakti kepada bangsa tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saya kemudian menaruh harapan yang cukup besar pada diri saya sendiri bahwa semoga saya benar-benar mampu berkhidmah secara taat dan sepenuh hati pada NU dan bangsa ini. Tentu akan sangat lucu kalau saya mengikuti PKD dan Diklatsar tanpa menaruh harapan apapun pada diri saya sendiri demi kebaikan. Sampai detik ini, saya masih yakin bahwa melalui GP Ansor dan Banser inilah saya mampu belajar menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. Dan saya kira, melalui keseriusan menjadi anggota GP Ansor ini saya yakin bahwa salah satu Badan Otonom (Banom) NU ini akan memberi manfaat yang baik bagi diri saya sendiri, serta lingkungan sekitar saya, pula tentu saja bangsa Indonesia secara luas.

Perlu saya sampaikan pula bahwa saya memiliki banyak cita-cita yang saya harapkan mampu saya wujudkan bersama dan melalui tubuh GP Ansor. Salah satu cita-cita tersebut, yang paling dekat dengan hobi saya, adalah saya ingin GP Ansor pro-aktif melawan segala bentuk kazaliman dan kesemrawutan yang pada 2-3 tahun terakhir ini begitu kentara menjadi ciri khas bangsa kita. Kesemrawutan itu, terutama, yang perlu GP Ansor lawan dengan aktif adalah kesemrawutan di ranah media di mana di sanalah semua orang pada hari-hari ini seakan menjadi Nabi atau bahkan menjadi Tuhan semaunya sendiri.

Selain itu, saya juga ingin ikut andil bersama GP Ansor untuk mengejawantahkan slogan-slogan yang sering meriah diteriakkan seperti menjaga keutuhan NKRI karena NKRI adalah harga mati. Saya, dengan segala hormat, ingin ikut berada di barisan GP Ansor dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Hal ini senantiasa saya iringkan pula bersama rasa cinta saya terhadap Indonesia, rasa cinta yang telah menjadi kidung patriotis melalui syair karya KH Abd Wahab Hasbullah, Yaa Lal Wathan.

Terakhir, sebelum saya tutup tulisan membahagiakan rupa curhat ini, saya akan menutupnya dengan pemberian harapan kepada Mas Roy Murtadho yang menulis tentang bagaimana kita, muslim Indonesia, mengejawantahkan Hubbul Wathan Minal Iman. Insya Allah, Mas, saya siap menerapkan Hubbul Wathan Minal Iman secara lebih luas dan siap melek terhadap segala permasalahan-permasalahan bangsa yang perlu dukungan dan bantuan kami di GP Ansor. Saya dan kami semua di GP Ansor siap untuk berkaca dan menelaah diri kami demi benar-benar mampu menjadi pecinta tanah air sejati. Tanah air yang bentangannya bukan sekadar Sumatera-Jawa, tetapi membentang hingga Papua. Jika selama ini kami masih terbatas dalam mengimplikasikan kaidah Hubbul Wathan Minal Iman, itu semata menunjukkan bahwa kami pun masih memiliki kelemahan iman, dan tentu hal ini kemudian menjadi dasar bagi kami untuk tidak semena-mena mendakwa setiap perkara dengan hukum-hukum saklek "ini haram, itu halal".

Demikian.
Terimakasih telah membaca, silakan bagikan jika berkenan.

Regards,
Em. 
Share: